Merdeka Belajar Ala Ki Hajar

Oleh: Wahjudi Djaja*

Jumat Kliwon lalu penulis jalan-jalan ke pasar klitikan Cebongan. Tanpa diduga melihat buku lawas, Azas-Azas dan Dasar-Dasar Taman Siswa. Ditulis sendiri oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) dan diterbitkan oleh Madjelis Luhur Taman Siswa Jogjakarta tahun 1952. Dalam buku lusuh kecokelatan itu tersimpan pemikiran brilian tokoh pergerakan dan arsitek pendidikan ini. Jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928, KHD telah meletakkan fondasi dasar pendidikan yang memerdekakan. Fakta ini terkonfirmasi dengan kiriman Kangmas Jayadi Kastari tentang testimoni Bung Karno menyangkut peran Taman Siswa bagi bangsa Indonesia.

Pendidikan Itu Memerdekakan

Salah satu pilar pendidikan yang diulas oleh KHD adalah dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk dirinja sendiri. Kemerdekaan yang dimaksud bukan tanpa batas, tetapi tetap mempertimbangkan tertib damainya hidup bersama. Tertib saja tak akan menjamin hidup bersama akan damai dan tenteram. Ketertiban tak bisa ditegakkan dengan kata-kata yang kasar, apalagi dengan ancaman hukuman dan kekerasan. Itu hanya akan melahirkan kegelisahan, menggali luka dan menegasikan harkat kemanusiaan. Anak yang dididik dengan kekerasan, baik verbal apalagi fisik, akan menjadi pribadi penakut, kehilangan imaji dan dihinggapi inferioriteitscomplexen (perasaan rendah diri).

Pendidikan harus menyertakan dasar kodrat alam bahwa anak adalah manusia utuh dengan segenap jiwa raga. Ia selayaknya dibimbing sesuai fitrah dan tahap perkembangan mental intelektualnya. KHD menginisiasi among systeem, sebuah pendekatan pendidikan yang menempatkan guru sebagai pamong dengan karakter tut wuri handayani. Guru tak perlu merasa paling berkuasa sebagai sumber kebenaran. Peran dan tanggung jawab guru adalah menjadi pemimpin yang berdiri di belakang, tetap mendampingi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri. Kemerdekaan yang diberikan guru akan membuka ruang kesadaran, tanggung jawab, dan kemandirian pada anak.

Sebagai pamong guru tidak perlu terus-menerus menuntun anak. Tugas pamong adalah menyingkirkan segala perintang yang potensial mengancam anak dan proaktif jika anak tidak mampu menghindarkan diri dari bahaya. KHD memberikan pesan peradaban: Merdekakanlah bantinnja, fikirannja dan tenaganja. Kemerdekaan berpikir pada anak akan mendorongnya mencari pengetahuan secara mandiri. Kemerdekaan batin akan mengasah kepekaan nurani dan kehalusan budi pekerti. Motivasi dan kemauan anak pun harus diberi ruang karena dari sanalah daya anak akan bangkit dan membentuk karakter.

Pendidikan yang Berkebudayaan

Modernisasi dan komersialisasi pendidikan tak luput dari tatapan KHD. Kekacauan dalam sistem pendidikan kita antara lain karena sejak awal bangsa ini terjebak dalam pola hidup kebarat-baratan yang cenderung elitisme. Pendidikan terlalu mengutamakan kecerdasan intelektual sehingga membentuk anak menjadi pintar tetapi kering imaji dan bersifat individualis. Itulah kenapa KHD mengintroduksi dasar kebudayaan dalam pendidikan yang selaras dengan kodrat anak. Semua anak bangsa berhak atas pendidikan yang layak agar anak bangsa bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Kemandirian dan swadaya dalam dunia pendidikan juga sangat ditekankan oleh KHD. Jika ingin mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya, jangan menerima bantuan yang mengikat diri kita karena bisa mengurangi kemerdekaan dan kebebasan. Bahkan dengan tegas disampaikan asas berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri. Untuk bisa mewujudkannya, lembaga pendidikan harus mampu membiayai segala usahanya dengan landasan sikap hidup sederhana.

Muara dari sistem pendidikan adalah selamat dan bahagianya anak didik. Oleh karena itu, pamong harus berhamba kepada Sang Anak.
Pemikiran KHD tentang pendidikan yang lintas zaman harus dijadikan bahan evaluasi dan refleksi saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKB). Saat amnesia sejarah dan dekadensi moral melanda, sementara lembaga pendidikan tak ubah perusahaan pembuat robot bagi industri, bacalah pesan KHD pada Museum Sumpah Pemuda.

Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia. Namun, yang penting untuk kalian yakini, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku, lahir maupun batin aku tak pernah mengkorup kekayaan negara.

Sungguh pribadi yang teguh, berkepribadian dan berkarakter.

Dalam konteks itu, kita baca kembali testimoni Bung Karno pada 5 April 1952.

Ditengah-tengah meletusnja kehausan bangsa kita kepada pengadjaran dan pendidikan itu, Taman Siswa masih tetap mendjalankan dharmanja. Dan kita semua tahu, bahwa kelima-lima sila Pantja Sila itu adalah pula silanja Taman Siswa.

Jika selevel Bung Karno saja jujur mengakui Taman Siswa sebagai inspirasi lahirnya Pancasila dan begitu hormatnya beliau kepada bangsawan yang merakyat ini, pantaslah kita melupakannya? Sistem pendidikan nasional kita kini seolah tanpa visi keindonesiaan. Saatnya bangsa ini kembali ke akar sejarah sebagaimana diletakkan oleh KHD sehingga Generasi Emas benar-benar lahir pada 2045.

*Wahjudi Djaja, S.S., M.Pd. Dosen STIEPar API Yogyakarta, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *