Mabur.co – Hujan deras yang mengguyur wilayah Perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memicu pergerakan tanah di lingkungan SD Negeri Kokap. Akibatnya, halaman sekolah amblas dan muncul retakan tanah sepanjang sekitar 20 meter yang mengancam sejumlah bangunan sekolah.
Dua bangunan, yakni dapur dan ruang UKS, berada dalam kondisi paling rawan dan nyaris roboh. Ancaman juga menjalar ke ruang kepala sekolah, ruang guru, serta beberapa ruang kelas, termasuk kelas VI. Retakan tanah terus melebar seiring intensitas hujan yang masih tinggi.
Kepala SD Negeri Kokap, Surohim, mengatakan, pergerakan tanah terjadi secara bertahap sejak beberapa hari terakhir.
“Tanah terus bergerak. Retakan makin lebar dan membahayakan bangunan,” ujarnya.
Sekolah tersebut berdiri tepat di atas tebing setinggi sekitar 10 meter. Kondisi geografis itu membuat risiko longsor meningkat setiap kali hujan deras turun. Retakan kecil yang semula muncul kini berdampak langsung pada struktur bangunan dan keselamatan warga sekolah.
Sebagai langkah darurat, pihak sekolah berkoordinasi dengan BPBD Kulon Progo. Area rawan dipasangi garis pembatas, retakan ditutup terpal, dan sejumlah bangunan dikosongkan dari aktivitas. Pembelajaran di ruang-ruang terdampak dihentikan sementara.
“Bangunan yang rawan kami kosongkan demi keselamatan siswa dan guru,” kata Surohim.

Dampak longsor membuat sebagian siswa harus belajar dari rumah. Seluruh siswa juga diimbau tidak beraktivitas di sekitar lokasi terdampak. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi siswa yang ruang kelasnya berada di dekat tebing.
Pemerintah daerah menyiapkan solusi sementara.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kulon Progo, Nur Wahyudi, mengatakan, relokasi sementara menjadi opsi agar pembelajaran tetap berjalan. Salah satu alternatif yang disiapkan adalah pemanfaatan gedung sekolah lama yang jaraknya tidak jauh dari lokasi.
Namun, untuk perbaikan permanen, pemerintah daerah masih menghadapi keterbatasan anggaran. Revitalisasi sekolah membutuhkan perencanaan sejak tahun sebelumnya melalui APBD maupun Belanja Tidak Terduga.
Kekhawatiran juga datang dari orang tua siswa. SD Negeri Kokap merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri di wilayah tersebut. Jika siswa harus dipindahkan ke sekolah lain yang lebih jauh, akses pendidikan anak-anak akan semakin sulit.

Ancaman longsor di SD Negeri Kokap mencerminkan persoalan yang lebih luas di wilayah Kulonprogo. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sekolah di kawasan Perbukitan Menoreh dilaporkan terdampak longsor atau berada di zona rawan.
Pada awal 2024, SD Negeri Sungapan di Kecamatan Kokap mengalami longsor di sekitar area sekolah. Tiga titik longsoran muncul setelah hujan deras, disertai retakan tanah yang memerlukan penanganan rehabilitasi agar kegiatan belajar tetap aman.
Catatan BPBD Kulonprogo menunjukkan bahwa sepanjang 2024, Kulonprogo menjadi kabupaten dengan jumlah kejadian longsor terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ratusan kejadian longsor tercatat terjadi di berbagai kapanewon, terutama di wilayah Kokap, Samigaluh, dan Girimulyo.
Data BNPB pada periode 2017–2019 juga mencatat puluhan fasilitas pendidikan di Indonesia rusak akibat longsor, dengan wilayah DIY termasuk daerah rawan. Kulonprogo, yang sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan, masuk dalam zona dengan risiko tinggi terhadap kerusakan infrastruktur pendidikan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman longsor terhadap sekolah bukan peristiwa insidental, melainkan persoalan berulang yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Tanpa penguatan lereng, perbaikan drainase, dan perencanaan relokasi sekolah di zona rawan, keselamatan siswa dan keberlangsungan proses belajar akan terus berada dalam risiko.



