Mabur.co – Sebagai salah satu upaya meningkatkan kemampuan literasi siswa, SMP Negeri 1 Piyungan pun berinisiatif mengadakan bimbingan teknis (bimtek) penulisan buku bagi siswa-siswi setempat.
Bimtek ini diikuti sebanyak 30 siswa, yang dibagi dalam beberapa tahap. Di antaranya penulisan buku nonfiksi dengan pemateri Tedi Kusyairi, penulisan puisi yang dipandu oleh Latief Noor Rochmans, dan penulisan geguritan yang dibawakan oleh Hidratmoko Andritamtomo.
Kepala SMP Negeri 1 Piyungan, Sri Lestari, menyampaikan bahwa bimtek tahun ini adalah penyelenggaraan yang keempat, sejak dimulai pertama kali pada 2023 silam.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, kami lebih fokus pada pembukuan antologi bersama. Sementara untuk tahun ini, kami ingin setiap anak mampu menghasilkan satu buku kumpulan karya. Sehingga nantinya akan ada 30 judul buku karya siswa, yang terbagi dari buku puisi, geguritan, dan nonfiksi,” ujar Sri Lestari di SMP Negeri 1 Piyungan, Jumat (13/2/2026).
Adapun 30 peserta ini dipilih melalui audisi, kemudian dijaring berdasarkan kemampuan masing-masing siswa.
“Perlu diketahui bahwa di sini kami punya yang namanya Komunitas Duta Literasi. Mereka mendaftar, lalu kami pilih 30 yang terbaik,” tambah Sri Lestari.

Setelah mengikuti bimbingan, para peserta menulis karya sesuai kategori yang telah dipilih, untuk kemudian dikumpulkan kepada panitia.
Bimtek ini dilaksanakan pada 9-13 Februari 2026, setelah itu dilanjutkan dengan mentoring karya hingga penerbitan buku.
“Bulan Juni naskah dikumpulkan semua dan akan dieditori. Rencananya bulan Juli nanti akan naik cetak, lalu Agustus 2026 akan kami luncurkan di acara Lustrum sekolah,” ucap Sri Lestari.
Melalui bimtek ini, Sri Lestari pun berharap agar tradisi literasi di sekolahnya dapat terus dipertahankan, yang tentunya juga akan mendongkrak nilai pelajaran mereka di sekolah.
Apalagi SMP Negeri 1 Piyungan juga memiliki branding sebagai “sekolah literasi”, di mana rapor literasi para siswa masih berada di angka sempurna alias 100.
“Itulah mengapa saya berpesan supaya angka tersebut tidak turun. Apalagi di sekolah kami, sebelum kegiatan belajar mengajar, ada literasi berbasis ponsel. Ada juga yang membaca buku fisik. Lalu ada siswa yang membaca cerpen, puisi atau geguritan. Mereka dengarkan dengan seksama, kemudian ditulis,” sambung Sri Lestari.
Antusiasme Peserta Bimtek

Sesuai dengan branding-nya yaitu sekolah literasi, para peserta turut menikmati jalannya bimtek ini. Tedi Kusyairi, Latief Noor Rohmans dan Hindratmoko sebagai pemateri juga mengaku terkesan dengan antusiasme dari para peserta yang sangat luar biasa.
“Mulai dari perkenalan dunia buku nonfiksi, mencari ide yang menarik bagi pembaca, konsep buku, draft outline, hingga perencanaan riset dan penulisan, semuanya disimak dengan antusias oleh seluruh peserta. Setiap tugas pun dikerjakan dengan sangat baik,” ujar Tedi Kusyairi selaku mentor kelas buku nonfiksi di SMPN 1 Piyungan, Jumat (13/2/2026).
Kelas penulisan buku nonfiksi sendiri juga menghadapi tantangan yang cukup kompleks, lantaran para peserta diminta untuk menulis sekitar 70 halaman bahan, yang tentu saja memerlukan semangat dan konsentrasi yang luar biasa.
“Yang luar biasa dari para peserta di sini adalah, mereka tak hanya bisa mengonsep sebuah buku dengan memilih judul yang menarik, tapi sudah bisa menjabarkan outline draft isi buku yang akan ditulis, yang diperkirakan mencapai 70 halaman. Bagi usia SMP seperti mereka, tentunya ini sangatlah menarik,” lanjut Tedi.
Nia, salah satu peserta kelas penulisan nonfiksi, mengaku penasaran dengan proses pembuatan buku nonfiksi secara umum, yang menurutnya merupakan sesuatu yang baru dan menyenangkan.
“Banyak aturan menulis buku yang baru aku tahu, dan ternyata kalau nulis buku nonfiksi itu harus benar-benar memperhatikan sumber info, topik yang diangkat, sama audiensnya. Pokoknya seru sekali,” kata Nia, yang rencananya akan menulis buku berjudul “Suara yang Pernah Diam”.
Tidak hanya Nia, seluruh peserta lainnya yang terlibat dalam bimtek kali ini juga antusias menjalani proses langsung pembuatan buku dengan penerbit, yang menjadi pengalaman kali pertama dalam hidup mereka, apalagi di usia SMP. (*)



