Rumah Kapiten Tan Jin Sing di Kampung Ketandan, Sejarah Masyarakat Tionghoa Tersaji - Mabur.co

Rumah Kapiten Tan Jin Sing di Kampung Ketandan, Sejarah Masyarakat Tionghoa Tersaji

Mabur.co- Di salah satu bangunan yang dikenal dengan Rumah Kapiten Tan Jin Sing terdapat pameran sejarah Tionghoa di Indonesia.

Mulai penjelasan Tionghoa masuk ke Nusantara, aneka jenis alat musik dari Tionghoa, wayang Potehi dan Wacinwa, Wishing Board, kamar tidur peranakan, hingga peran peranakan Tionghoa dalam Pandu Indonesia.

Sejarah masyarakat Tionghoa  tersaji di rumah ini. Terletak di Jalan Ketandan, Kota Yogya. Bukan saja arsitektur bangunannya yang sarat akan sejarah dan budaya. Tapi juga sosok Tan Jin Sing, sang kapiten Tionghoa.

Ketua RW 05 Ketandan, Tjundaka Prabawa, mengatakan,  bangunan Rumah Budaya Tionghoa, terletak di Kampung Ketandan, Kota Yogyakarta.

“Yang lenggah (duduk/memimpin) di situ seorang kapiten Tionghoa. Namanya Tan Jin Sing. Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono III, Tan Jin Sing dianugerahi gelar KRT Setjodiningrat,” katanya, Senin (2/3/2026).

Tjundaka Prabawa, menuturkan, Tan Jin Sing adalah menantu Yap Sa Ting Ho, pemilik asli rumah tersebut. Tan Jin Sing lahir di Wonosobo pada 1760. Dia terlahir sebagai muslim keturunan ningrat. Di Yogyakarta dia pernah didaulat sebagai bupati pada 1800-an.

Tan Jin Sing dipercaya oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa kala itu.

Oleh raja yang bertakhta saat itu, Tan Jin Sing juga dipercaya sebagai tondo atau penarik pajak warga Tionghoa.

“Dari situlah awal mula penyebutan Ketandan. Selain beristrikan seorang Tionghoa, Tan Jin Sing memiliki istri keturunan keraton. Tan Jin Sing meninggal pada 1831. Jenazahnya dimakamkan di Mrisi, Madukismo, Kasihan, Bantul,” ungkapnya.

Tjundaka Prabawa, menjelaskan, semasa hidupnya, Tan Jin Sing sangat dipercaya oleh Hamengku Buwono III, raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kala itu.

Bahkan, keseharian Tan Jin Sing dihabiskan di dalam benteng keraton. Tiap Senin hingga Jumat. Hanya saat akhir pekan Tan Jin Sing pulang ke rumahnya di Ketandan.

“Pada awal pendiriannya, rumah tersebut sangatlah luas. Total luas tanah dan bangunannya mencapai hampir satu hektare. Dalam kondisi sekarang kira-kira hingga Toko Ramayana di Jalan Malioboro. Kala itu wujudnya satu bangunan besar. Tanpa penyekat yang sekarang menjadi jalan kampung. Rumah itulah cikal bakal lahirnya Kampung Ketandan,” katanya.

Tjundaka Prabawa, menjelaskan, memasuki awal 1900-an keluarga dari istri pertama Tan Jin Sing mulai berdatangan.

Demi keadilan, rumah besar itu pun dibagi beberapa kapling. Keluarga keturunan Tan Jin Sing menempati rumah bagian belakang. Luasnya 600 meter persegi.

“Rumah inilah yang kemudian menjadi Rumah Budaya Tionghoa saat ini,” jelasnya.

Tjundaka Prabawa, menuturkan, sekilas bagian depan rumah kuno itu tampak cukup terawat. Hanya tembok di bagian dalam sudah mengelupas di beberapa bagian.

Juga retak-retak cukup lebar hingga semak belukar di luar bangunan terlihat jelas dari dalam.

Rumah Budaya Tionghoa beberapa kali berganti kepemilikan. Pernah dibeli oleh seorang warga pada tahun 1900-an.

Terakhir dibeli oleh Dinas Kebudayaan DIY. Dijadikan bangunan cagar budaya. Kemudian direstorasi. Untuk dikembalikan ke bentuk aslinya.

“Sempat mengalami perubahan bentuk. Tapi tidak begitu banyak. Properti tambahan akan dicopot dan bagian yang hilang akan dipasang kembali,” jelasnya.

Tjundaka Prabawa,  memaparkan,  ke depan Rumah Budaya Tionghoa akan difungsikan sebagai museum. Sebagai peranakan, wujud akulturasi dan asimiliasi antara budaya Tiongkok dan Jawa.

“Salah satunya ada juga budaya encim. Atau lebih dikenal dengan istilah gaya pesisiran. Diperkuat lagi dengan sejarah kawasan Ketandan dengan sosok Tan Jin Sing sebagai tokoh utama,” ucapnya.

Tjundaka Prabawa, membeberkan, di rumah ini pula tersimpan puluhan wayang potehi. Tersebar di setiap dinding berlapiskan kain merah.

Rumah tersebut menjadi House of Potehi selama Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2026.

Mangga (silakan) berkunjung saja. Bebas bertanya-tanya tentang sejarah cikal bakal Kampung Ketandan dan sosok Tan Jin Sing,” tuturnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *