Mabur.co – Di Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, ada rumah putih yang catnya mengelupas. Di keningnya tertulis ANNO 1944.
Di atas jendela biru, huruf samar tertulis: MONTIR MANUSIA. Posisi rumah ini persis di seberang rel Stasiun Rewulu, stasiun barang satu-satunya yang masih aktif di Bantul untuk angkut BBM Pertamina.
Banyak yang mengira itu rumah hantu. Padahal itu rumah dinas. Sebagaimana dikutip moovitapp.com, dahulu ke arah barat stasiun ini, sebelum Stasiun Sentolo, terdapat Stasiun Sedayu.
Namun, saat ini stasiun tersebut sudah tidak ada lagi karena dibongkar untuk pembangunan jalur ganda. Kini stasiun ini menyisakan rumah dinas pegawai saja. Itulah Rumah Montir Manusia.
Rumah Dinas Bergaya Indis
Stasiun Sedayu non-aktif pada awal 1990-an, lalu diratakan pada 2007 untuk jalur ganda Kutoarjo-Yogya. Yang disisakan hanya mess pegawai, termasuk Rumah Montir Manusia itu. Kenapa di kening (depan) rumah itu tertulis ANNO 1944?
Sebab jalur ini dibangun Staatsspoorwegen 1887 untuk mengangkut tebu Pabrik Gula Rewulu lewat lori decauville.
Bangunan aslinya bukan 1944. Pada Agresi Militer, stasiun dihancurkan pejuang agar tidak dipakai Belanda sebagai alat pertahanan, lalu dibangun kembali.
Sebagaimana dilansir dari disbud.bantulkab.go.id, di masa Jepang 1944, rumah darurat dibangun ulang dengan cetakan Belanda yang masih ada: atap limasan, dinding batu tempel, ventilasi bulat berterali.
Pendataan resmi mencatat, bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu menghadap ke arah barat dan atap menggunakan model limasan.
Arsitekturnya bergaya Indis. Ciri khas dapat dilihat pada atap bangunan, dinding bangunan dilapisi batu kerikil tempel.
Rumah Montir Manusia
Lalu apa arti tulisan MONTIR MANUSIA yang tertulis persis di atas jendela sebelah kanan bercat biru? Dalam struktur SS/PJKA, ada dua jabatan, Monteur Machine: montir mesin, lokomotif, sinyal, dan Monteur Personeel: montir yang mengurusi rumah dinas, absensi kru, dan palang perlintasan.
Oleh pribumi diterjemahkan jadi Montir Manusia. Rumah di seberang rel itu adalah rumah dinas kepala urusan personel.
Tapi di kampung, makna itu bergeser. Setelah PJKA tidak lagi menempati rumah itu akhir 1990-an, serambinya dipakai pensiunan untuk praktik urut keseleo.
Buruh angkut gula, buruh depo gerbong yang terkilir tidak lari ke klinik, tapi ke rumah itu, ke Rumah Montir Manusia.
Gelar tikar di serambi, minyak tawon, daun sirih. Maka di memori warga Samben, Rewulu sekarang, montir manusia bukan yang mbenerke wesel, tapi yang mbenerke balung.
Maksudnya bukan lagi hanya orang yang memperbaiki wesel, rel, dan lain-lain, tapi berarti, tukang sangkal putung atau tukang urut tulang patah, keseleo, dan sejenisnya.

Cucu salah satu pegawai PJKA yang membuka pijat urut atau ahli sangkal putung di rumah itu, kini masih buka praktik di garasi rumahnya. Plang tulis tangan, Sangkal Putung, Keseleo dan lain-lain.
Antreannya jam 5 pagi, yang datang ada buruh pertamina Rewulu atau juga buruh gendong Pasar Gamping dan lain-lain.
Di belakangnya, terowongan Rewulu menyimpan mitos lain, konon terdengar pengumuman berbahasa Belanda pada malam-malam sepi, padahal stasiunnya sudah lama hilang.
Itu sebabnya tak ada pegawai PJKA yang mau menempati rumah itu. Sebagaimana dikutip dari jogjaaja.com. Rumah ANNO 1944 itu jadi palimpsest, Belanda bangun jalur gula, Jepang bangun rumah darurat, Indonesia menghancurkan dan membangun ulang.
Lalu rakyat mengubah montir kereta menjadi montir manusia, memperbaiki tulang manusia yang keluar jalur, seperti rel yang sesekali keluar jalur dan para montir manusia memperbaikinya. ***
