Mabur.co – Syahrizal Pahlevi, seorang seniman yang berasal dari Palembang, Sumatra Selatan, hendak menceritakan lika-liku kehidupannya, melalui karya lukis menggunakan cukil kayu.
Melalui pameran lukis bertajuk “Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, mulai dibuka pada Selasa (10/3/2026) mendatang, Pahlevi “curhat” tentang mood atau perasaan yang kerap ia alami dalam hidupnya, sekaligus menampilkan sosok-sosok yang berjasa dalam hidupnya selama ini, terutama keluarga.
Bagi Pahlevi, mempertemukan Jogja dengan Palembang adalah sesuatu yang sangat istimewa, karena Palembang merupakan kota kelahirannya, sedangkan Jogja adalah tempatnya berkarya, yang telah mempertemukannya dengan tradisi seni yang begitu kuat dan mengakar sejak lama, termasuk seni grafis menggunakan cukil kayu (woodcut print).
Pahlevi mengatakan, bahwa pameran ini merupakan kumpulan karya-karya grafisnya yang menggabungkan batas-batas antara citraan “yang terlukis” dan “yang tercetak”. Karya yang ditampilkan tidak hanya mencetak karyanya pada kertas, tapi juga kain blacu dan juga kanvas.

Jika pelukis pada umumnya hanya menggunakan kanvas beserta kertas sebagai media dalam berkarya, Pahlevi justru ingin menampilkan sesuatu yang berbeda, sekaligus lebih menantang, yakni dengan melukis melalui cukil kayu, yang telah dipahat sedemikian rupa, untuk menjadi representasi dari kehidupan Pahlevi yang sarat dengan makna.
Bagi Pahlevi, meskipun melukis dengan cukil kayu membutuhkan teknik tinggi dan waktu pengerjaan yang tidak sedikit, namun ia tetap ingin memaksimalkan satu jenis teknik saja, dan menghasilkan karya yang sederhana, sekalipun terlihat rumit bagi kebanyakan orang.
Ciri khas Pahlevi sendiri adalah lukisan yang memadukan garis, warna, barik tak rata, dan adat pembidangannya yang menggambarkan citra eksresif atau abstraksi dari setiap lukisan Pahlevi. Dan lagi-lagi, semua itu adalah wujud representasi kehidupan Pahlevi, khususnya di bidang seni rupa maupun seni grafis.
Dalam pameran ini, Pahlevi turut memamerkan puluhan seri tema karya yang sudah dikerjakannya dalam kurun waktu tiga dekade terakhir, di antaranya seri “Kartu Pos” (1990-91), “Orang-orang Biasa” (2004-05), “Mobile Woodcut” (2011 – sekarang) dan “Yudo” (2015).
Bisa dibilang, sepanjang sejarah perkembangannya, pameran lukisan cukil kayu dari Pahlevi ini adalah pameran retrospektif pertama yang pernah ada di Indonesia. (*)



