Mabur.co- Ribuan masyarakat, baik warga lokal maupun wisatawan, Jumat (20/3/2026), tampak riuh melihat Hajad Dalem Grebeg Sawal Dal 1959 yang digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Teriknya matahari sejak pagi, tak membuat masyarakat surut untuk memadati kawasan Pakulaman.
Tak menyurutkan semangat untuk ngalap berkah atau sekadar mengabadikan momen iring-iringan gunungan yang menjadi simbol sedekah raja kepada rakyatnya.
Gunungan tersebut berisi uba rampe berupa hasil bumi, seperti kacang panjang, cabai, rengginang, dan berbagai hasil pertanian lainnya.
Grebeg atau yang umumnya juga bisa disebut “garebeg” berasal dari kata “gumrebeg“, mengacu pada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan ketika upacara tersebut berlangsung.
Sementara, gunungan merupakan perwujudan kemakmuran keraton atau pemberian dari raja kepada rakyat, sebagai perwujudan rasa syukur atas datangnya Idulfitri, yang diwujudkan dengan memberikan rezeki melalui uba rampe.
Prosesi rayahan yang sudah ditinggalkan sejak beberapa tahun terakhir, diganti dengan pembagian melalui Abdi Dalem. Membuat distribusi uba rampe menjadi lebih tertib.
Pada tahun ini, ada yang berbeda pada pelaksanaan grebeg sawal. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern grebeg, prosesi kirab tidak lagi menghadirkan gajah atau liman. Biasanya menjadi ikon utama. Kali ini digantikan dengan dua kereta kencana milik Pura Pakualaman.

Penghageng II Kawadanan Widya Budaya Keraton Yogyakarta, KRT Rinta Iswara, menjelaskan, pada tahun ini, terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan pada prosesi.
Kelima jenis tersebut adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.
Ada dua Gunungan Kakung yang peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman. Lalu Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen diberi bagian gunungan berupa pareden wajik.
Selain itu, terdapat satu buah gunungan lainnya, yaitu Gunungan Pawuhan, yang secara khusus dibagikan kepada Abdi Dalem Kawedanan Pengulon.
“Grebeg merupakan sebuah upacara budaya yang diselenggarakan oleh keraton dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi,” katanya kepada mabur.co.
Momen pembagian gunungan inilah yang paling dinanti warga. Mereka berbondong-bondong berebut uba rampe karena diyakini membawa berkah.
Salah satu warga asal Magelang, Roro Ayundha Putri, menuturkan, dalam rebutan gunungan, dapat kacang panjang dan cabai.
“Ini buat ngalap berkah. Saya sengaja datang untuk merasakan langsung tradisi tersebut. Melihat orang antusias sepertinya asyik sekali ikut berburu,” katanya. ***



