Mabur.co – Kegigihan seorang Arif Afandi, warga Kulon Progo, untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya Jawa di Keraton Yogyakarta membuahkan hasil. Ia terpilih menjadi prajurit atau bregada Surakarsa.
Arif Afandi menuturkan, tertarik untuk menjadi prajurit bregada saat ingin menyaksikan keindahan konser Yogyakarta Royal Orchestra.
Pada bulan Juni 2024, kelompok orkestra Keraton Yogyakarta menggelar konser Paramaswara di Taman Bendungan Kamijoro, Kulon Progo.
“Saya kehabisan tiket. Namun, pesona orkestra istana itu tetap menjerat. Mau registrasi tapi nggak dapat, terus mikir, kayaknya asyik juga jadi Abdi Dalem,” kenangnya, dilansir dari Tepas Tandha Yekti Keraton Ngayogyakarta, Selasa (23/3/2026).
Arif mengutarakan keinginan menjadi bregada. Ia meminta tolong kepada teman yang kebetulan sudah menjadi Abdi Dalem.
Dari temannya tersebut ia mendapat informasi pembukaan bregada prajurit.
“Akhir tahun 2023 sudah dikasih tahu ada pembukaan untuk prajurit, tapi belum masukkan (lamaran), soalnya harus ada rekomendasi dari bregada rakyat. Tahun berikutnya tidak harus pakai rekomendasi, jadi lebih mudah,” ungkapnya.
Setelah memasukkan berkas pada akhir 2024 ia mengikuti seleksi dan diterima. Saat itu, pengetahuannya tentang keraton nyaris nol.
“Saya tak punya satu kerabat pun yang pernah menjadi Abdi Dalem. Masuk sambil belajar, akhirnya itulah yang dilakukan. Sebelumnya, nggak tahu sama sekali, lihat grebeg saja sampai umur sekarang itu baru dua atau tiga kali,”ujarnya.
Arif memaparkan, tidak tahu bahwa Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit atau bregada, mulai dari Wirabraja sampai Surakarsa.
“Dalam prajurit Bregada ini saya masuk dalam Rambah IV (angkatan empat) yang dihitung sejak 2024 hingga awal 2025. Sebulan sebelum Ramadan, rambah empat mulai berlatih. Saya ditempatkan di Bregada Surakarsa,” ucapnya.
Arif menjelaskan, selain dilatih baris-berbaris, juga belajar membawa waos (tombak) sesuai dengan tugasnya di bregada tersebut.
“Rambah IV itu dipisah-pisah. Ada yang jadi pendherek, ada yang jadi arahan di Kamandungan, ada yang di Magangan, ada yang di Pagelaran, Mangkubumen, dan Kedhaton. Aku mendapat bagian di Mangkubumen, stand by di sana,” ujarnya.
Menurut Arif pula, aba-aba dalam bahasa Jawa terasa asing di telinganya. Pernah menjadi hambatan terbesar pada awal latihan.
“Saya harus membiasakan diri dengan istilah-istilah baru, seperti nikung nekuk, nikung balik kanan, dan kiri,” katanya.
Arif mengatakan, tantangan lainnya adalah komitmen waktu setiap akhir pekan. Harus meluangkan waktu setiap Sabtu–Minggu untuk proses seleksi masuk bregada dan itu ada 13 pertemuan.
Pada penugasan pertama, ia bertugas sebagai arahan atau prajurit jaga. Semacam liaison officer. Untuk tugas ini, ia mengenakan busana pranakan, bukan seragam prajurit.
Sekitar dua bulan kemudian, dalam Grebeg Besar, masih dalam status magang, ia ditempatkan sebagai pendherek (pengikut) di Bregada Nyutra.
“Saya mendapat tugas membawa kotak regalia,” ucapnya.



