Hidup Ruwet, Bercita-citalah Jadi “Orang Biasa”?

Mabur.co – Hampir semua orang di dunia ini memiliki cita-cita setinggi langit. Misalnya ingin jadi dokter, pilot, polisi, presiden, pengusaha, dan masih banyak lagi.

Kemungkinan profesi-profesi tersebut yang akan dijawab oleh anak-anak kecil, saat ditanya mengenai cita-cita mereka ketika sudah dewasa.

Tentunya tidak ada yang salah dengan profesi-profesi yang telah disebutkan di atas, semuanya adalah profesi yang sangat baik dan mulia, serta bermanfaat bagi banyak orang.

Namun di saat yang sama, tekanan menjalani profesi-profesi template semacam itu juga sama sekali tidak mudah.

Butuh kerja keras, usaha, doa, serta sedikit keberuntungan sekaligus bantuan “orang dalam”, untuk bisa sampai ke titik tersebut.

Namun pernahkah Anda mendengar, saat anak-anak ditanya tentang apa cita-citanya ketika sudah besar, jawabannya adalah “orang biasa”?

Ya, bercita-cita menjadi “orang biasa” tampak merupakan sesuatu yang tidak lazim diucapkan, apalagi bagi anak kecil.

Namun siapa sangka, dengan ruwetnya kehidupan di zaman sekarang, termasuk potensi gangguan mental yang bisa menyerang segala usia, pilihan menjadi “orang biasa” sepertinya tampak masuk akal, sebagai gaya hidup “kekinian”.

Kesalahpahaman Makna Orang Biasa”

Mungkin banyak orang di luar sana yang masih salah tangkap terkait definisi “orang biasa”, apalagi jika itu dijadikan sebagai cita-cita.

Namun, “orang biasa” yang dimaksud di sini bukanlah seseorang yang tidak ngapa-ngapain, atau bahkan disebut sebagai “pemalas”.

“Orang biasa” yang dimaksud di sini adalah kemampuan diri sendiri untuk lebih memprioritaskan ketenangan mental, keseimbangan hidup (work-life balance), dan kebahagiaan sederhana dari hal-hal kecil, tanpa perlu merasa ambisius atas pencapaian tertentu, apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan, jabatan, dan seterusnya.

Lagi-lagi Ini bukanlah suatu tanda kemalasan, melainkan pilihan secara sadar untuk tidak terjebak dalam rutinitas monoton demi mengejar kesuksesan yang sifatnya semu.

Termasuk bagaimana mengejar validasi berupa penilaian dari orang lain, baik itu di media sosial, omongan tetangga, teman, dan sebagainya.

“Orang biasa” tetap mampu beraktivitas seperti biasa, bekerja seperti biasa, dan melakukan rutinitas lain layaknya manusia pada umumnya.

Hanya saja, mereka tidak memiliki niatan untuk selalu ikut-ikutan orang lain, yang selama ini terkesan “memaksakan diri” untuk ikut tren, mengejar sesuatu yang semu, dan semacamnya.

Adapun satu kalimat andalan yang sering diucapkan oleh “orang-orang biasa” adalah “Biasa aja” (terkait penilaian terhadap sesuatu yang dianggap woow oleh sebagian orang, tapi justru terlihat biasa saja di mata Anda).

Selain itu, ada pula beberapa faktor lain, yang menjadikan “orang biasa” justru tampak lebih spesial, ketimbang mereka yang terlalu ambisius mengejar pencapaian duniawi, latah terhadap tren, dan seterusnya. Sebagaimana dikutip dari laman Kumparan.

1. Hidup Tenang Tanpa Tekanan Ekspektasi

Menjadi “orang biasa” tidak memiliki kewajiban untuk terus-terusan memenuhi ekspektasi publik, atau tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan orang lain.

Bahkan Anda bisa memiliki lebih banyak waktu untuk ngopi, membaca koran, atau apapun yang Anda sukai, tanpa takut penilaian orang lain.

2. Standar Kebahagiaan yang Lebih Realistis

Dengan menjadi “orang biasa”, Anda tidak perlu menetapkan standar kebahagiaan yang terlalu tinggi.

Cukup dengan bangun tidur tanpa pegal, bisa minum kopi, bersantai di rumah bersama keluarga, lalu kembali tidur dengan nyenyak di malam hari. Itu semua sudah menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi Anda.

Selain itu, Anda juga akan belajar untuk lebih mensyukuri pencapaian kecil di hidup Anda, tanpa perlu merasa bersalah untuk hal-hal yang dianggap sepele.

3. “Orang Biasa” Bukan Berarti “Pemalas”

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menjadi orang biasa tetap butuh usaha dan kerja keras seperti manusia lain pada umumnya.

Bedanya adalah, Anda bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Anda tetap mampu menjadi profesional yang hebat dan berprestasi di lingkungan kerja Anda, namun Anda tidak perlu memikirkan tentang bagaimana caranya meraih jabatan yang lebih tinggi, menikung sesama teman kantor, atau permainan curang lainnya, hanya demi ambisi yang tiada habisnya.

“Orang biasa” pun cenderung tidak memaksakan diri untuk jadi kaya raya, apalagi jika harus menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya.

Karena menjadi kaya raya jelas bukan tanpa gangguan. Justru menjadi kaya akan membuat hidup lebih gelisah, karena terus-menerus dihantui oleh tagihan, hutang, cicilan, dan sebagainya, yang semuanya berasal dari peningkatan gaya hidup, akibat memiliki uang yang lebih banyak dari biasanya.

Karena “orang biasa” tidak perlu mengubah gaya hidupnya sama sekali, meskipun jumlah uangnya berlebih.

Balik lagi, jadi kaya raya pun “biasa aja”. Nggak usah norak.

***

Dunia memang butuh sosok orang-orang hebat sebagai pemimpin, namun dunia juga butuh “orang-orang biasa” yang menerapkan slow living, tidak terlalu ambisius, dan tetap tenang dalam setiap pemikirannya.

Ketika orang-orang di zaman sekarang kerap dihadapkan pada masalah mental atau kejiwaan, mungkin inilah saatnya untuk benar-benar bercita-cita jadi “orang biasa”.

Terserah saja apa kata orang lain terkait predikat tersebut, karena semuanya “biasa aja”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *