Mabur.co- Bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai momentum peningkatan ibadah, tetapi juga membawa dampak sosial yang kuat di tengah masyarakat.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Aly Aulia, Lc., M.Hum, menuturkan, bulan Ramadan di Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai momentum ibadah, tetapi juga sebagai ruang komunikasi budaya yang sarat makna sosial.
Berbagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat, seperti berbagi takjil, buka puasa bersama, hingga mudik, menjadi media penyampaian nilai-nilai keagamaan secara kultural.
“Tradisi Ramadan di Indonesia dapat dipahami sebagai bentuk high context communication, yaitu komunikasi yang tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui simbol, tindakan, dan praktik sosial,’’ ucapnya.
Aly menjelaskan bahwa berbagai tradisi yang muncul selama Ramadan sebenarnya merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan nilai dan identitas budaya masyarakat.
“Pesan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui simbol dan tindakan. Tradisi seperti berbagi takjil, sahur bersama, buka puasa bersama, mudik, hingga nyekar merupakan bentuk komunikasi nonverbal tentang asal-usul, bakti, dan proses pembersihan diri,” ujarnya.
Aly mengatakan budaya tidak mendahului agama, melainkan menjadi sarana agar nilai-nilai agama lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
Dalam konteks ini, budaya menjadi “kendaraan” untuk menerjemahkan ajaran Islam yang bersifat abstrak agar lebih membumi.
“Nilai seperti sabar, syukur, dan ikhlas tidak hanya disampaikan di mimbar, tetapi diwujudkan melalui perilaku budaya masyarakat selama Ramadan,” jelasnya.
Aly menilai tradisi seperti berbagi takjil atau buka puasa bersama dapat bertahan karena memiliki fungsi sebagai ritual sosial yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, tradisi tersebut menjadi ruang temu yang mampu menghapus sekat sosial dan mempererat hubungan antarindividu.
“Takjil gratis di pinggir jalan bukan sekadar memberi makanan. Itu adalah komunikasi kasih sayang yang bersifat universal, sebuah pesan bahwa kita tidak sendirian dalam menjalankan ibadah,” katanya.
Tradisi Ramadan juga memiliki peran penting sebagai sarana pendidikan nilai bagi generasi muda.
Aly menjelaskan bahwa generasi muda cenderung belajar melalui contoh perilaku yang mereka lihat di lingkungan sekitar.
“Ketika anak-anak melihat orang tua berbagi atau terlibat dalam kegiatan Ramadan, mereka sebenarnya sedang mempelajari nilai kepedulian, kepemimpinan, dan amanah tanpa merasa digurui,” ujarnya.
Di era digital saat ini, Aly juga menyoroti perubahan cara masyarakat mengekspresikan tradisi Ramadan.
Media sosial membuat berbagai aktivitas Ramadan menjadi fenomena visual yang kerap dibagikan secara publik.
Fenomena tersebut memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial dapat memperluas penyebaran pesan kebaikan.
Namun di sisi lain, terdapat risiko ketika ibadah lebih dipandang sebagai tampilan daripada pengalaman spiritual.
“Jika digunakan untuk syiar dan inspirasi, media sosial dapat memperkuat pesan sosial Ramadan. Namun jika hanya demi pencitraan atau engagement, makna spiritualnya bisa berkalu, bisa berkurang,” jelasnya.
Aly menekankan, tantangan terbesar dalam menjaga tradisi Ramadan ke depan adalah meningkatnya individualisme di tengah budaya digital.
Menurutnya, masyarakat perlu menjaga agar tradisi Ramadan tetap memiliki kedalaman makna sosial dan spiritual.
“Jangan sampai kita duduk buka bersama, tetapi masing-masing sibuk dengan ponselnya. Tradisi harus tetap menjadi ruang kebersamaan yang menghadirkan interaksi dan kepedulian nyata,” pungkasnya. ***



