Memahami Perasaan Generasi Tua yang Selalu “Ketinggalan Zaman”

Mabur.co – Dunia sepertinya terlalu kejam kepada generasi tua, apalagi yang berusia lansia (lanjut usia), yakni 60 tahun ke atas.

Karena segala macam hal yang ada di dunia ini seolah-olah hanya ditujukan kepada anak-anak muda, milenial, Gen Z, dan lain-lain.

Sebaliknya, generasi tua selalu saja terabaikan.

Keberadaan mereka juga seringkali tidak dianggap, lantaran orang-orang hanya berfokus terhadap diri mereka sendiri, serta generasi muda yang ada di sekitar mereka.

Apalagi dalam hal teknologi, generasi tua sangatlah tertinggal jauh.

Mereka dipaksa “berlari” mengikuti perubahan yang terlalu cepat setiap harinya.

Padahal kemampuan dan fisik mereka sudah tidak lagi sanggup melakukan itu semua.

Misalnya saja seorang guru. Guru di zaman dahulu cukup berdiri dan menyampaikan materi di depan kelas yang berisi 20-30 orang (atau bahkan lebih), selama satu sampai dua jam setiap harinya.

Guru cukup membutuhkan kapur (atau spidol), penghapus, lalu papan tulis besar untuk menuliskan materi kepada puluhan muridnya.

Bisa dibilang, guru zaman dulu cukup bermodal public speaking serta penguasaan materi, untuk bisa mengajar di depan kelas.

Tiba-tiba sekarang, seorang guru harus tampil beda di depan murid-muridnya. Tidak hanya kapur, penghapus, dan papan tulis.

Setiap guru juga harus membawa laptop, materi presentasi (biasanya Power Point), serta pengerjaan soal menggunakan media sosial, email, gambar, video, dan seterusnya.

Bagi generai tua, atau yang lahir tahun 70-an ke belakang, semua piranti canggih seperti itu jelaslah tidak mudah untuk digunakan.

Terlebih mereka sudah terbiasa dengan metode mengajar konvensional, yakni ceramah di depan kelas selama kurang lebih setengah jam, lalu di akhir sesi gantian murid-murid yang bertanya kepada sang guru, terkait materi pembelajaran yang telah disampaikan.

Bagaimana bisa, jika guru yang sudah terbiasa dengan metode mengajar secara konvensional, tiba-tiba harus beradaptasi dengan segala macam teknologi yang tersedia saat ini.

Jika tidak, sang guru akan langsung dicap “ketinggalan zaman” dan sebagainya. Tentu saja ini tidak adil.

Selalu Dianggap “Salah Generasi”

Ilustrasi Lansia sedang menggunakan laptop Foto Tichardz via freepikcom

Di luar soal metode mengajar yang dituntut untuk serba canggih, secara umum generasi tua juga seringkali menghadapi kenyataan pelik, ketika apa yang menjadi comfort zone di masa mudanya dulu, kini sudah tidak berlaku sama sekali, atau minimal sudah mulai ditinggalkan.

Sebut saja bacaan harian seperti koran, televisi, radio, atau pola komunikasi melalui surat, SMS, telepon umum, wartel, serta pola kerja melalui mesin tik, dan seterusnya.

Semua hal tersebut sudah semakin tidak diminati oleh anak-anak muda zaman sekarang.

Karena generasi milenial atau Gen Z seperti sekarang sudah dapat mengakses semuanya melalui layar gadget, dengan tampilan yang begitu canggih serta modern.

Parahnya, semua orang kini juga sudah beralih ke sana, yakni menggunakan gadget sebagai tools utama penunjang kegiatan sehari-hari, termasuk juga kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas.

Akibatnya, banyak lansia atau generasi tua yang merasa “salah generasi”, atau lahir di “tahun yang salah”.

Karena memang, di masa prime-nya mereka (usia 20-30-an), alat-alat canggih semacam itu masih belum eksis sama sekali.

Masih Belum Cukup

Ilustrasi lansia sedang bermain game consol Foto Vitaly Gariev via Unsplashcom

Melalui satu kecanggihan bernama internet. Perubahan itu menjadi terasa sangat masif, bahkan cenderung “terlalu cepat” untuk diikuti oleh generasi tua.

Belum selesai beradaptasi dengan alat-alat canggih seperti gadget, laptop, dan sebagainya. Para generasi tua tiba-tiba mendengar banyak peluang baru yang tercipta melalui kehadiran internet, seperti media sosial, bisnis online, marketplace, media online, lalu di masa pandemi covid ada lagi pembelajaran daring (dalam jaringan), pertemuan virtual, dan seterusnya.

Lepas dari masa pandemi covid, ada lagi kisah-kisah orang yang tiba-tiba menjadi kaya raya melalui NFT (Non-Fungible Token), trading, crypto, serta yang terbaru adalah penggunaan AI (Artificial Intelligence) untuk memudahkan pekerjaan manusia dalam dunia digital.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya generasi tua untuk bisa mengikuti seluruh elemen kemajuan zaman tersebut.

Lalu tiba-tiba dicap “ketinggalan zaman” begitu saja, ketika dianggap tidak sanggup mengikutinya, alias “gaptek” (gagap teknologi).

Jangankan generasi tua, anak-anak muda lainnya yang lahir sekitar tahun 90-an atau akhir 80-an saja, belum tentu sanggup mengikuti itu semua. Karena memang, perubahannya sudah “terlalu cepat”.

Padahal untuk mempelajari satu bidang saja, susahnya sudah minta ampun. Boro-boro untuk menghasilkan cuan dari sana.

Menghasilkan cuan saja belum tentu, eh ternyata trennya sudah ganti lagi.

Pada akhirnya, mengikuti perkembangan zaman itu sangatlah melelahkan, tidak ada habisnya, dan ujung-ujungnya malah tidak menghasilkan apa-apa (sekadar mengikuti tren).

Apalagi jika Anda adalah seorang lansia atau berusia 60 tahun ke atas.

Buat apa sok-sokan ikut tren perkembangan zaman dan teknologi, kalau akhirnya tidak membawa hidup Anda jadi lebih baik dari sebelumnya.

Lagi pula, semuanya hanyalah soal tren, yang selalu datang dan pergi begitu saja. Sementara manusia dari dulu tetaplah sama.

Justru teknologilah yang mengubah manusia jadi seperti sekarang, yang semakin bersifat individualis, dan dikit-dikit selalu nunduk lihat layar setiap harinya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *