Mengapa Lebaran Identik dengan Baju Baru? - Mabur.co

Mengapa Lebaran Identik dengan Baju Baru?

Mabur.co – Lebaran dan baju baru, adalah dua kata yang seolah tak bisa dipisahkan begitu saja.

Setiap kali orang mengingat Lebaran, satu kata yang terlintas pertama kali pasti adalah menggunakan baju baru.

Begitu pun sebaliknya, setiap kali orang mengingat baju baru, mereka pasti mengaitkannya dengan periode Lebaran.

Hubungan antara dua kata ini memang tidak datang begitu saja, melainkan hadir melalui sebuah proses turun-temurun, yang sudah dikembangkan sejak abad ke-20 silam.

Istilah baju baru dalam Lebaran sendiri tidak selalu berarti membeli pakaian baru untuk dikenakan di hari raya, namun lebih kepada simbol penyucian diri, memulai lagi lembaran kehidupan baru (setelah berpuasa di bulan Ramadan), serta wujud rasa syukur setelah menjalani berbagai ibadah dan kegiatan selama bulan Ramadan.

Dilansir dari laman IDN Times, berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa perayaan Lebaran seringkali identik dengan baju baru.

1. Simbol Kembali Fitri (Suci)

Pakaian baru melambangkan jiwa dan raga yang kembali bersih, setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu dan beribadah di bulan Ramadan.

2. Wujud Syukur dan Kebahagiaan

Membeli baju baru adalah bentuk kegembiraan dalam merayakan hari raya Lebaran, sekaligus sebagai salah satu cara mengagungkan hari raya.

Dengan kata lain, dalam setiap perayaan hari raya, harus ada sesuatu yang spesial di dalamnya, salah satunya dalam bentuk pakaian baru (dan bersih).

3. Tradisi dan Budaya

Tentu saja, perayaan Lebaran dengan baju baru adalah warisan turun-temurun yang sudah dilakukan masyarakat Indonesia sejak tahun 1900-an.

Selain menjadi bagian dari tradisi dan budaya, baju baru juga sangat erat kaitannya dengan Tunjangan Hari Raya (THR).

Karena dengan uang yang berlebih menjelang Lebaran, seseorang akan memiliki kemampuan untuk membeli pakaian baru saat merayakan Lebaran, dan seterusnya.

4. Anjuran Berpenampilan Terbaik

Meskipun memakai baju baru saat Lebaran tidaklah wajib, namun Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki pada hari Jumat dan Hari Raya.

Hal itu kemudian diterjemahkan secara umum sebagai “memiliki baju baru”, khususnya saat perayaan Lebaran seperti saat ini.

5. Makna Psikologis

Tanpa disadari, mengenakan pakaian baru juga meningkatkan semangat, kepercayaan diri, dan kebahagiaan, dalam menyambut lembaran hidup baru.

Apalagi kecenderungan manusia di zaman sekarang, yang selalu memamerkan apa pun koleksi yang dimiliki ke media sosial.

Sehingga secara tidak langsung, keberadaan baju atau pakaian baru telah mampu mengubah pemikiran seseorang, sehingga lebih mudah untuk berkumpul bersama keluarga, kerabat, teman-teman (ketika momen syawalan), dan seterusnya.

***

Secara esensial, baju baru bukanlah kewajiban dalam Islam, melainkan hanya sebagai bentuk simbolis.

Satu hal yang paling utama adalah pakaian tersebut harus bersih, rapi, menutup aurat, dan digunakan untuk merayakan hari kemenangan dengan penuh rasa syukur.

Jangan sampai tradisi baju baru saat Lebaran ini membuat Anda berusaha mati-matian dan menghalalkan segala cara, hanya untuk supaya tampil kece saat memasuki Lebaran.

Apalagi jika kemudian Anda harus melakukan aksi-aksi tidak terpuji, seperti berutang, nyopet, korupsi kecil-kecilan, dan lain sebagainya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *