Mabur.co – Dalam setiap situasi kehidupan, tentunya semua orang pernah mengalami kondisi yang tidak mengenakkan dalam hidupnya.
Salah satu kondisi tersebut adalah “kekurangan”, atau bisa disebut juga “sedikit”, baik itu kekurangan (atau sedikit) uang, kekurangan asupan makan, kekurangan perhatian terhadap sesama, kekurangan waktu untuk jalan-jalan bersama keluarga, dan masih banyak lagi situasi kekurangan atau sedikit lainnya.
Namun dalam banyak kasus, perasaan kekurangan atau sedikit ini seringkali disamakan dengan “tidak ada”, atau bahkan “tidak ada sama sekali”.
Dengan kata lain, jika seseorang mengalami kekurangan atau sedikit uang, maka dia akan bilang “tidak memiliki uang sama sekali”. Padaha sebenarnya dia tetap masih punya uang, bukan 0 rupiah.
Begitu juga ketika seseorang merasa kekurangan waktu untuk jalan-jalan bersama keluarga.
Dia akan mengatakan “tidak punya waktu sama sekali (untuk jalan-jalan bersama keluarga)”.
Padahal jelas-jelas ia tetap punya waktu untuk makan, tidur (istirahat), dan melakukan aktivitas lainnya.
Lalu mengapa hampir semua orang selalu mengasosiasikan “sedikit”atau “kekurangan” dengan “tidak punya” atau bahkan “tidak ada sama sekali”?
Dilansir dari laman Repositori Institusi, Minggu (12/4/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa banyak orang kerap mengasosiasikan “sedikit”atau “kekurangan” dengan “tidak punya” atau bahkan “tidak ada sama sekali” alias “nol” dalam konteks kehidupan sehari-hari, terutama dari segi perspektif psikologi maupun komunikasi.
1. Penyederhanaan Kognitif (Heuristik)
Tanpa disadari, otak manusia cenderung menyederhanakan informasi yang kompleks. Maka ketika menghadapi situasi yang jumlahnya sangat sedikit (misalnya sedikit uang), otak akan mengkategorikannya sebagai “tidak signifikan” atau “sama dengan nol” untuk memudahkan pengambilan keputusan.
Dengan kata lain, istilah “sedikit uang” akan sama dengan “tidak punya uang sama sekali”, meskipun kenyataannya dia tetap punya lebih dari 1 sen di dalam dompet maupun rekeningnya.
2. Terlalu Fokus pada Dampak (Hasil Akhir)
Seringkali, jumlah yang “sedikit” masih dianggap tidak cukup untuk membawa perubahan atau dampak yang diharapkan.
Jadi ketika misalnya seseorang mengalami situasi “sedikit uang”, sehingga tidak bisa membeli barang yang diinginkan, otak pun secara fungsional akan menyebutnya dengan “tidak bisa membeli barang yang diinginkan karena sedang tidak ada uang”, dan seterusnya.
3. Perspektif “Semua atau Tidak Sama Sekali” (All or Nothing)
Dalam situasi tertentu, orang menggunakan pola pikir biner (ekstrem) dalam mengkategorikan permasalahan yang sedang dihadapinya.
Jika harapan adalah jumlah yang besar, maka jumlah yang kecil akan dianggap kegagalan total atau dianggap “tidak ada”.
Contohnya ketika “Prabowo Subianto dianggap sebagai presiden yang gagal”. Maka kata-kata itu akan berkonotasi bahwa Prabowo adalah mutlak 100% gagal sebagai presiden RI.
Padahal dalam kenyataannya, Prabowo tetap memiliki jasa-jasa tertentu bagi rakyat Indonesia, yang bahkan belum pernah dilakukan oleh rezim-rezim pemerintahan sebelumnya.
Namun karena jasa-jasa itu jumlahnya “sedikit” atau masih “kekurangan” (di mata sebagian besar rakyat), maka Prabowo akan tetap dianggap sebagai presiden gagal (secara keseluruhan). Tanpa benar-benar menghitung kebaikan yang pernah ia lakukan untuk bangsa dan negara.
4. Konteks Emosional
Ketika seseorang merasa sangat kecewa terhadap situasi “sedikit” atau “kekurangan” yang dialaminya, maka sedikit saja kekurangan yang ada, akan langsung dicap sebagai “kegagalan total”.
Misalnya ketika seorang siswa gagal mencapai nilai 100 dalam sebuah ujian. Namun ia hanya mampu mendapatkan nilai 90 (hanya melakukan sedikit kesalahan dalam pengerjaan soal, sehingga gagal mendapatkan nilai sempurna), maka ia akan menganggap nilai 90 itu sebagai “gagal total”. Lantaran ia sudah belajar dan berlatih sebegitu kerasnya, untuk bisa meraih nilai sempurna alias 100.
Padahal bagi segelintir siswa lainnya, mendapatkan nilai 90 bisa jadi merupakan suatu prestasi tersendiri. Karena selama ini ia tidak pernah mendapatkannya sama sekali di sepanjang hidupnya.
Disitulah bagaimana perspektif dan sudut pandang kesyukuran manusia bekerja dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Ada yang menganggap nilai 90 merupakan sebuah kegagalan total (bagi mereka yang biasa meraih nilai sempurna), tapi tak sedikit pula yang menganggap nilai 90 sebagai suatu prestasi membanggakan (bagi orang-orang yang jarang atau tidak pernah mendapatkannya sama sekali).
***
Secara tidak langsung, “sedikit atau kurang sama dengan tidak ada” adalah perspektif umum yang terjadi, ketika kuantitas fisik tidak lagi relevan, dibandingkan dengan kualitas atau dampak yang dihasilkan bagi masing-masing individu. (*)



