Mengenal Lebih Intim Masjid Gedhe Yogyakarta - Mabur.co

Mengenal Lebih Intim Masjid Gedhe Yogyakarta

Mabur.co– Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta didirikan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I selesai membangun Keraton Yogyakarta.

Masjid ini merupakan bangunan peribadatan untuk rakyat Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus sebagai komponen utama dalam kelengkapan kota sebagai ibu kota/kutha negoro saat itu, yaitu alun-alun, kompleks keraton, masjid, dan pasar.

Letak Masjid Gedhe berada di sebelah barat laut keraton, tepat di tepi barat alun-alun utara.

Keberadaan empat komponen yang terdiri atas alun-alun yang dikelilingi bangunan pusat pemerintahan di selatannya, masjid di sisi barat, dan pasar di bagian utara merupakan komponen yang selalu ada pada kota tradisional di Jawa.

Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta ini merupakan Masjid Keprabon.  

Masjid ini bergaya arsitektur tradisional Jawa yang beratap tajug tumpang tiga dengan penutup atap sirap yang saat ini berganti menjadi seng zingcallum gelombang 0,8 mm.

Memiliki atap teratas berbentuk limas piramidal (tajug) dengan mustaka (makhutha) di atasnya yang menggambarkan gada, daun kluwih dan kembang gambir. 

Atap bangunan utama memiliki konstruksi Tajug Lambang Teplok.

Atap tajug ini secara umum menjadi tipikal bentuk masjid di Jawa yang menandakan bahwa denah bangunan utama masjid (ruang salat utama) berbentuk bujur sangkar. Atap serambi berupa Limasan Klabang Nyander Lambang Gantung. 

Kagungan Dalem Masjid Gedhe merupakan bagian tak terpisahkan dari Kesultanan Yogyakarta.

Keberadaan Masjid Gedhe menegaskan keberadaan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam.

Masjid Gedhe dibangun di sisi barat Alun-alun Utara dan barat daya Pasar Beringharjo, tidak jauh dari bangunan keraton.

Tata ruang ibu kota kerajaan yang menempatkan keraton sebagai pusat pemerintahan, pasar sebagai pusat ekonomi, dan tempat peribadatan sebagai pusat agama dalam posisi seperti ini, telah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Jawa semenjak era Majapahit.

Dilansir dari akun Instagram kratonjogja, dua tahun sejak Masjid Gedhe didirikan, daya tampung bangunan masjid kemudian diperluas karena jemaah yang bertambah banyak.

Perluasan ini diwujudkan dengan pembangunan serambi berbentuk limasan dua tingkat, ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi Tunggal Windu Pandhita Ratu (1701 J).

Pembangunan serambi tersebut bersamaan dengan pembangunan dua pagongan.

Pagongan dipergunakan sebagai tempat dua rangkaian gamelan pusaka, yakni Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga yang dimainkan selama berlangsungnya upacara Sekaten.

Pada tahun 1840, dibangun regol atau pintu gerbang masjid. Regol masjid yang berbentuk Semar Tinandhu ini diberi nama Gapuro.

Gapuro berasal dari kata ghofuro yang berarti ampunan dari dosa. Sedangkan bentuk Semar Tinandhu melambangkan sosok teladan yang mengasuh para ksatria dan raja, sehingga layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya.

Pada tahun 1867, terjadi gempa besar yang memporak-porandakan Yogyakarta.

Regol dan serambi Masjid Gedhe runtuh menimpa Kiai Penghulu hingga meninggal.

Kala itu Sri Sultan Hamengku Buwono VI lalu memberikan Kagungan Dalem Surambi Munara Agung, yaitu material yang sedianya dipergunakan untuk membangun Pagelaran Keraton dialihkan untuk membangun kembali serambi Masjid Gedhe.

Pembangunan kembali ini sekaligus memperluas serambi menjadi dua kali luas semula. Sedangkan Regol dibangun kembali dua tahun kemudian, ditandai candra sengkala yang berbunyi Murti Trus Giri Narpati (1798 J).

Setelah peristiwa itu paling tidak dua kali Masjid Gedhe mengalami renovasi.

Pada tahun 1917 dibangun Pajagan (gardu penjaga) di kanan dan kiri regol. Lalu pada tahun 1933, atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, atap masjid dirombak.

Kayu sirap masjid yang sudah lapuk diganti dengan seng wiron (seng bergelombang), sedang lantai serambi yang tadinya terbuat dari batu kali, diganti dengan tegel kembang.

Dilanjutkan pada tahun 1936, lantai batu kali di ruang salat utama diganti dengan marmer dari Italia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *