Mercon Bumbung, Sejarah Panjang Zaman Penjajah - Mabur.co

Mercon Bumbung, Sejarah Panjang Zaman Penjajah

Mabur.co- Suaranya menggelegar dan sering dimainkan menjelang buka puasa.

Ternyata, mercon bumbung atau meriam bambu punya sejarah panjang sejak zaman penjajahan.

Tak hanya petasan, ada sejumlah permainan tradisional lainnya yang pasti pernah kamu mainkan saat Ramadan.

Salah satunya adalah mercon bumbung atau meriam bambu.

Mercon bumbung cukup populer bagi anak generasi 1990-an.

Permainan ini sering dilakukan saat ngabuburit atau sembari menunggu waktu berbuka.

Bambu yang dipakai sebagai meriam seringkali dibuat sendiri dengan ukuran sekitar satu meter atau lebih.

Di bagian ujung pangkal, bambu diberi lubang yang diisi minyak tanah.

Lewat lubang inilah, kita bisa menyulut ledakan api dengan suara yang menggelegar.

Banyak cara dilakukan masyarakat saat menunggu waktu berbuka puasa atau biasa disebut ngabuburit.

Biasanya mereka akan berada di masjid untuk mengaji. Ada pula yang jalan-jalan hingga berkumpul bersama dengan keluarga atau teman.

Di daerah Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, ada satu kegiatan khas yang biasanya hanya dilakukan saat bulan puasa.

Di sana anak-anak menunggu waktu berbuka dengan bermain meriam bambu atau dikenal dengan long bumbung.‎

Salah satu remaja, bernama Fadli mengatakan, bermain long bumbung merupakan tradisi turun-temurun.

Permainan ini sudah dilakukan sejak lama. Materi bermain long bumbung hanya mengandalkan beberapa ruas batang bambu.

“Setiap ruas bambu pada bagian dalamnya dilubangi agar bisa menyatu. Untuk memainkannya, di bagian ruas terakhir diisi minyak tanah atau karbit. Sedangkan untuk meledakkan disulut dengan api. Hasilnya suara menggelegar dan memekakkan telinga terdengar berulang-ulang,” ucapnya, Jumat (20/3/2026).

Fadli menuturkan, sulitnya mendapatkan minyak tanah membuat enggan memainkannya.

Namun, oleh sejumlah temannya diganti dengan campuran minyak tanah dan bensin.

Apabila diisi dengan karbit, cukup diisi dengan air tanah.

“Harus hati-hati karena bambunya bisa meledak,” ujarnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *