Penyampaian Informasi Pers Sebaiknya Tidak Berlangsung Dua Arah

Mabur.co – Perkembangan dunia pers di era digital saat ini menjadi semakin masif dan tidak dapat dibendung. Apalagi sejak kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter (X), Instagram, dan seterusnya. Fenomena ini membuat semua orang bisa menjadi “jurnalis dadakan” dengan sangat mudah, tanpa melalui proses seleksi dan verifikasi yang ketat dari pihak redaksi dan sebagainya.

Adapun salah satu keunggulan menyampaikan informasi di media sosial adalah keberadaan fitur kolom komentar, untuk merespons setiap informasi (postingan) yang disampaikan.

Bahkan beberapa platform seperti Facebook dan X juga mampu memberikan komentar dalam berbagai bentuk, tidak hanya melalui tulisan atau teks semata.

Fitur komentar di platform-platform tersebut bisa menambahkan gambar, link, bahkan juga video maupun GIF (biasanya untuk sekadar lucu-lucuan).

Namun, ketersediaan kolom komentar untuk merespons suatu informasi atau berita, justru bisa menjadi bumerang tersendiri bagi si “jurnalis dadakan” tersebut.

Karena hal itu berpotensi menciptakan kegaduhan baru, masalah baru, perspektif baru yang terlalu jauh atau tidak berkorelasi langsung dengan informasi yang disampaikan, serta yang paling parah juga bisa memicu gangguan mental.

Karena bagaimanapun, dengan mempersilakan publik atau netizen untuk menyampaikan opininya masing-masing terhadap suatu informasi, maka dapat dipastikan akan tercipta respon-respon baru (berupa hate speech dan lain-lain) yang jelas tidak diinginkan sebelumnya.

Jika postingan atau informasi tersebut hanya dikomen oleh 1-5 orang saja, mungkin tidak akan jadi masalah besar. Namun apabila ternyata postingan tadi dikomen oleh 1.000 orang atau bahkan lebih, maka itu sudah pasti akan menciptakan masalah baru di kemudian hari.

Sangat tidak mungkin jika seribu orang itu memiliki opini yang seragam terhadap satu peristiwa yang disajikan di media sosial. Bahkan bisa jadi, seribu orang tadi akan menghasilkan seribu POV (Point of View) baru, di mana tidak semuanya akan setuju atau sejalan dengan pemikiran Anda.

Dan tidak mungkin juga Anda akan mampu membaca seribu komentar tersebut dalam satu waktu, kan?

Membaca seribu komentar di media sosial selain membuat lelah, tidak bermanfaat, membuang-buang waktu, dan akhirnya malah berujung emosi atau bahkan takut, lantaran membaca beberapa komentar yang dianggap sebagai ancaman, hinaan, dan seterusnya.

Lagi-lagi, Anda tidak bisa mengatur pikiran serta jari-jari orang lain, terhadap informasi yang Anda sajikan di media sosial.

Hal ini tentunya sangat berbeda dengan media massa konvensional yang tidak berbasis digital, di mana umumnya mereka tidak menyediakan fitur bagi audience untuk merespon langsung setiap aktivitas maupun informasi yang disajikan ke hadapan mereka. Sehingga suka tidak suka, audience tetap harus menerima apapun yang disajikan oleh media massa tersebut, sekalipun informasinya mungkin tidak disukai, tidak bermanfaat, tidak berimbang, dan sebagainya.

Meskipun sejatinya, jutaan pasang mata yang menyaksikan informasi yang terpampang di TV, koran, majalah, ataupun radio tetap memiliki POV-nya masing-masing, namun keterlibatan mereka sangatlah dibatasi, bahkan cenderung tidak dilibatkan sama sekali. Karena umumnya media konvensional semacam itu hanya mengandalkan forum-forum tertentu seperti “Surat Pembaca”, “Suara Rakyat”, “Rubrik Pembaca”, “Kata Publik”, dan istilah-istilah lainnya, yang menjadi jembatan komunikasi antara media dengan audience-nya.

Forum-forum itu juga kemungkinan besar tidak akan sanggup menampung seribu orang sekaligus, namun hanya bisa memfasilitasi setidaknya lima orang saja, yang dipersilakan untuk bersuara atau berpendapat terkait berita-berita tertentu yang telah disajikan.

Pada akhirnya, kegaduhan media di zaman sekarang yang kebanyakan berbasis digital, salah satunya berasal dari keterbukaan akses masyarakat untuk merespon segala sesuatunya secara bebas dan tanpa filter yang ketat dan berlapis. Sehingga akan lebih baik jika kemudian akses itu ditutup sekitar 95% lebih, agar media bisa lebih fokus terhadap tugas pokoknya sebagai penyedia informasi.

Dan tentu saja, menyampaikan informasi juga tidak dianjurkan menggunakan media yang bernama “media sosial”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *