Mabur.co – Memasuki bulan Ramadan yang tinggal hitungan hari, di mana umat muslim diwajibkan berpuasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam, otomatis membuat durasi makan dan minum akan berkurang.
Biasanya 24 jam nonstop, kemudian hanya menjadi 12 jam saja (setengah hari). Itu pun hanya berlaku di saat Magrib hingga Imsak saja, yang juga dipisahkan oleh tidur malam. Sehingga waktu yang tersedia tidak akan sampai 12 jam.
Fakta tersebut seharusnya bisa menjadi landasan kuat, bahwa pengeluaran di bulan Ramadan akan lebih sedikit atau berkurang dari biasanya. Karena waktu untuk makan akan berkurang setengah hari.
Namun jangan salah, di bulan Ramadan, justru pengeluaran akan jauh lebih meningkat dari biasanya. Sekalipun durasi makan dan minum berkurang setengah hari.
Hal ini didukung dengan data dari berbagai survei dan analisis keuangan, yang menyatakan bahwa pengeluaran rumah tangga di Indonesia rata-rata meningkat sekitar 20–40% selama bulan suci Ramadan.
“Hemat” di Ucapan, “Boros” di Kenyataan
Istilah “hemat” di bulan Ramadan seringkali hanya menjadi ekspektasi atau kata-kata pemanis bagi setiap orang.
Kenyataannya, meskipun durasi makan berkurang setengah hari, masih banyak elemen lain yang tetap harus dipenuhi selama bulan Ramadan, dan itu tidak selalu berkaitan dengan urusan perut.
Sayangnya, kebanyakan pengeluaran yang terjadi di bulan Ramadan cenderung bersifat foya-foya (yang dikemas dengan kedok “silaturahmi”), atau bukan sesuatu yang urgent untuk dimiliki.
Misalnya saja pembelian baju lebaran, parcel, mudik ke kampung halaman, serta tak ketinggalan berbagai promo yang seringkali mampir di beranda e-commerce atau media sosial, membuat orang berpotensi “kalap” untuk senantiasa menghambur-hamburkan uang setiap harinya.
Padahal, aktivitas semacam itu justru tidak pernah (atau jarang) terjadi di sebelas bulan lainnya.
Masih ada lagi beberapa penyebab lainnya, yang membuat pengeluaran di bulan Ramadan seringkali lebih besar dari biasanya, selengkapnya bisa Anda simak di bawah ini, dilansir dari laman Suara Mahasiswa.
1. Peningkatan Harga Bahan Pokok
Menjelang dan selama Ramadan, harga-harga sembako seperti daging, telur, dan cabai biasanya akan naik karena tingginya permintaan pasar.
Jika harga bahan-bahan pokok saja sudah naik di bulan Ramadan, Itu sudah jauh dari yang namanya konsep “hemat”.
2. Budaya Buka Bersama (Bukber)
Bulan Ramadan juga kerap menjadi momentum diselenggarakannya agenda reuni atau kumpul teman, yang dikemas dalam bentuk Bukber (Buka Bersama).
Pemilihan lokasi Bukber pun seringkali mewah atau mahal, karena dianggap kekinian, Instagrammable, dan seterusnya.
Sangat jarang ditemukan acara-acara Bukber yang berlokasi di warung-warung sederhana seperti Warmindo, Warteg, atau angkringan pinggir jalan.
Selain itu, umumnya setiap peserta Bukber akan dikenakan iuran. Itu saja sudah menjadi salah satu bukti, yang membuat bulan Ramadan justru lebih “boncos” dari bulan-bulan lainnya.
Belum lagi jika Anda hendak menghadiri semua acara Bukber yang tersedia, entah itu Bukber Keluarga, Bukber Alumni Kampus, Bukber Rekan Kerja di Kantor, Bukber Alumni SD, SMP, SMA, Karang Taruna, dan sebagainya.
Tentu saja semua acara Bukber itu tidak gratis, sehingga membuat pengeluaran Anda sudah remuk duluan meskipun hanya makan setengah hari.
3. Pengeluaran Ekstra Lainnya (Non-makanan)
Selain pengeluaran dari segi makanan, bulan Ramadan juga kerap menawarkan kesempatan “boncos” lainnya melalui beberapa tradisi, seperti zakat fitrah, sedekah, perlengkapan ibadah, serta tradisi akhir Ramadan yakni beli baju baru serta mudik ke kampung halaman.
4. Penawaran Promo & Diskon
Tidak hanya makanan dan tradisi yang begitu melekat, momentum bulan Ramadan juga kerap dimanfaatkan berbagai perusahaan maupun e-commerce, untuk meraup keuntungan ekstra dari orang-orang yang menjalankan ibadah puasa.
Di bulan Ramadan, setiap perusahaan berlomba-lomba menghadirkan promo maupun diskon gila-gilaan, untuk memaksa konsumen terus berbelanja setiap harinya.
Tanpa disadari, hal itu lagi-lagi akan menguras keuangan Anda, akibat ingin memanfaatkan momentum promo yang hanya tersedia di bulan Ramadan.
Jika tidak berhati-hati, tentunya hal ini akan sangat membahayakan keuangan diri Anda sendiri, dan juga keluarga Anda.
Bisa dibayangkan, sudah berapa uang yang akan Anda habiskan, jika menuruti semua kegiatan yang telah disebutkan di atas.
***
Ketika semua orang “terlalu berlebihan” memanfaatkan momentum bulan ramadan sebagai “bulan penuh pengeluaran”, di situlah Anda harus bisa lebih cermat.
Karena pada dasarnya, momentum yang dibuat hanyalah bersifat tren semata, dan tidak ada keharusan sama sekali untuk menuruti semua momentum atau tren tersebut, apalagi jika memang tidak ada manfaatnya, serta lebih banyak memicu perilaku konsumtif (alias belanja) di dalamnya.
Jangan sampai kehadiran bulan Ramadan yang begitu suci ini, justru berubah menjadi bulan yang begitu “boncos”, hanya karena kalap tidak bisa menahan godaan untuk mengikuti tren yang sedang berjalan. (*)



