Mabur.co- Sungkeman menjadi salah satu tradisi yang ada di Indonesia saat Lebaran.
Sungkeman merupakan sebuah tradisi yang mencerminkan akulturasi antara budaya Jawa dan Islam.
Kata “sungkem” berasal dari bahasa Jawa yang artinya sujud atau tanda bakti.
Tanda bakti inilah yang diwariskan dari budaya Jawa dan berpadu dengan konsep pengampunan dosa dalam Islam.
Sungkeman menjadi oasis di tengah bisingnya kehidupan yang menawarkan momen hening untuk merenungkan makna kebersamaan dan saling menghargai.
Meskipun zaman terus berkembang, tradisi sungkeman tetap dilakukan oleh masyarakat Jawa. Tradisi ini patut dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Jawa.
Dilansir dari Mangkunegaran.id, awal mula adanya tradisi sungkeman dapat dilihat pada era K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I (1757–1795).
Setelah salat Idulfitri, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I mengadakan pertemuan secara serentak dengan para punggawa dan prajuritnya di balai istana.
Pada pertemuan itu, para punggawa dan prajurit mencium tangan serta lutut K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I yang sedang duduk di singgasananya.
Proses inilah yang kemudian dikenal sebagai tradisi sungkeman.
Tradisi sungkeman diprakarsai oleh K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I sebagai upaya untuk bertemu sekaligus dengan seluruh punggawa dan prajuritnya, sehingga dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Tradisi ini kemudian diadopsi oleh masyarakat Jawa secara luas, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Jawa.
Selain itu, sungkeman juga digunakan sebagai simbolisasi momen suci untuk saling memaafkan, membersihkan hati, dan memperkuat tali persaudaraan.
Pengasuh Pesantren Joglo Alit Klaten, Muhammad Qowim, menjelaskan sungkeman dalam bentuk bersimpuh di depan orang tua, baru dikenali di era Mataram Islam.
Keraton-keraton Islam menjadikan sungkeman sebagai protokol resmi untuk menyatakan kesetiaan abdi atau bawahan kepada raja.
Abad ke-18 Masehi, misalnya di era Mangkunegara I, pangeran Sambernyawa mempopulerkan sungkeman kala Idulfitri.
Fase pertama sungkeman beredar di kalangan keluarga keraton lalu menyebar di kalangan prajurit keraton.
Tentu saja, penerimaan terhadap protokol resmi sungkeman itu bukan serta merta muncul dari ruang hampa nilai budaya.
“Di era masyarakat Vedic yakni pengikut Hindu dan Buddha, nilai-nilai penghormatan pada yang lebih tua, lebih senior atau pun pihak yang lebih berkuasa, ada dalam kegiatan Sembah, Puja atau Pranama. Penghormatan juga ditujukan sebagai bentuk bakti,” tuturnya, Jumat (20/3/2026).
Qowim menuturkan, hingga di masa Majapahit di mana agama sinkretik Syiwa Buddha menjadi dominan kala itu, Tribuana Tunggadewi sebagaimana disebutkan dalam Serat Negarakertagama, melaksanakan Sadra untuk melakukan bakti pada leluhur.
Sekaligus sebagai langkah rekonsiliasi Dinasti Sanjaya dan Dinasti Sailendra.
Sadra yang bersifat elitis dan politis ini digelar dengan melakukan pemujaan pada abu leluhur di candi.
Sebagaimana Sadra, posisi elit dan politis selanjutnya mewujud menjadi tradisi kelas sosial yang lebih rendah di kalangan rakyat, tradisi sungkeman pada akhirnya meluas, dari keraton-keraton Islam ke lapis bawah masyarakat.
Ditambah lagi banyaknya para kiai dan pesantren semakin memperkuat tradisi sungkeman di kalangan kiai dan santri.
“Sungkeman bisa dibilang merupakan salah satu bentuk mata rantai keberlanjutan tradisi Nusantara dari masa ke masa,” ucapnya.
Qowim mengatakan, di era modern, tradisi sungkeman dilaksanakan tanpa melakukan jengkeng atau jalan merunduk.
Hal ini masih lazim dilaksanakan di kalangan keluarga keraton dan pesantren dengan maksud yang berbeda.
Di keraton sungkeman yang disertai jalan jengkeng lebih sebagai simbol kesetiaan, sementara di pesantren lebih melatih ketangkasan dan penghormatan pada ahli ilmu dan guru/kiai.
Itulah kenapa sungkeman disertai jalan jengkeng di keraton berlaku untuk semua orang dan segenap rakyat.
Sementara di pesantren jalan jengkeng hanya berlaku untuk santri dan tidak berlaku untuk wali santri serta tetamu lainnya.
Pada akhirnya, baik sungkeman di keraton dan di pesantren, masing-masing menjadi subkultur unik yang pada saat bersamaan diterima masyarakat.
Sekaligus berbeda dengan sungkeman di kalangan masyarakat luas.
“Sungkeman di kalangan masyarakat luas lebih memilih bentuk praktis dari tradisi persahabatan dan kekerabatan, sementara sungkeman di keraton dan pesantren memilih bentuk protokoler serta bermuka resmi,” ujarnya.
Sementara itu, Mas Lurah Amat Nurcholis, salah satu Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta, menuturkan, tradisi sungkeman atau dalam konteks Keraton Yogyakarta dikenal dengan istilah ngabekten merupakan bagian dari tata nilai budaya Jawa yang telah berlangsung sejak masa kerajaan-kerajaan Mataram.
“Tradisi ini menjadi simbol penghormatan seorang anak atau kawula kepada orang tua, sesepuh, maupun raja sebagai pemimpin. Dalam lingkungan keraton, ngabekten tidak sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian dari etika dan tata krama yang mencerminkan hubungan hierarkis yang harmonis antar-manusia,” katanya.
Mas Lurah Amat Nurcholis menuturkan, asal usul ngabekten tidak bisa dilepaskan dari tradisi Jawa kuno yang menjunjung tinggi nilai hormat kepada leluhur dan orang yang dituakan.
“Sejak masa Mataram Islam, nilai tersebut semakin diperkaya dengan ajaran-ajaran moral dan spiritual yang menekankan pentingnya adab, unggah-ungguh, tata krama serta kesadaran akan posisi diri dalam tatanan sosial,” katanya.
Mas Lurah Amat Nurcholis menuturkan, tradisi ngabekten merupakan hasil akulturasi yang kuat antara budaya adiluhung Jawa dan nilai-nilai Islam yang mengajarkan tentang tawadhu (rendah hati), silaturahmi, dan saling memaafkan. Terutama dalam momentum Idulfitri memberi roh spiritual yang sangat kuat dalam tradisi.
“Perpaduan inilah yang menjadikan ngabekten tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga bernilai ibadah,” ucapnya.
Mas Lurah Amat Nurcholis mengatakan, dalam perkembangan modern, tradisi ngabekten tidak hanya dilakukan di lingkungan keraton, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya masyarakat luas, khususnya saat momen Lebaran.
Meski bentuknya lebih sederhana, esensinya tetap sama, yaitu penghormatan kepada orang tua dan permohonan maaf.
Di masyarakat umum istilahnya adalah sungkeman. Sebagian besar masih dilakukan, salah satunya tampak dari adanya tradisi mudik.
“Walaupun sudah bisa video call, tetap saja bertemu secara langsung untuk sungkeman ‘wajib’ dilakukan,” ucapnya.
Mas Lurah Amat Nurcholis, menjelaskan, filosofi utama dari ngabekten adalah menerapkan “birrul waludain” atau berbakti kepada orang tua, dan memohon maaf atas segala kesalahan di momen Idulfitri yang sakral.
Dalam praktiknya, seorang anak atau Abdi Dalem menundukkan diri sebagai simbol pengakuan atas kesalahan, sekaligus wujud ketulusan dalam memohon maaf dan restu.
Selain itu, ngabekten juga mengandung makna spiritual bahwa manusia harus selalu menyadari posisinya tidak hanya dalam hubungan sosial, tetapi juga di hadapan Tuhan.
“Dengan demikian, tradisi ini menjadi sarana membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan menjaga harmoni dalam kehidupan,” katanya. ***



