Mabur.co- Fenomena tak biasa menyita perhatian publik.
Kalender tahun 2026 disebut-sebut identik dengan tahun 1914, salah satu periode paling kelam dalam sejarah dunia.
Seluruh susunan tanggal dan hari dalam setahun ke depan akan sama persis dengan pola lebih dari satu abad lalu.
Wakil Ketua Umum IPSM Nasional, Dr. Susianah Affandy, M.Si, mengatakan, tahun 2026 dan 1914, pada pandangan pertama, merupakan dua periode yang terpisah jauh dalam lintasan sejarah global.
Namun, analisis terhadap sistem penanggalan menunjukkan sebuah fakta yang menarik yakni kedua tahun tersebut memiliki kesamaan struktur kalender, di mana setiap tanggal jatuh pada hari yang sama dalam pekan.
“Fenomena ini bukanlah kebetulan acak, melainkan konsekuensi dari mekanisme siklus dalam kalender Gregorian yang digunakan secara luas di dunia saat ini,” ujarnya, dilansir dari Republika, Selasa (7/4/2026).
Susianah, menjelaskan, kalender Gregorian, yang diperkenalkan pada abad ke-16, dirancang untuk menyelaraskan tahun kalender dengan siklus astronomis bumi.
Dalam sistem ini, pola hari dan tanggal cenderung berulang setiap 28 tahun, dengan catatan bahwa distribusi tahun kabisat mengikuti pola yang konsisten.
“Secara matematis, kombinasi antara 7 hari dalam seminggu dan siklus kabisat menciptakan kemungkinan pengulangan konfigurasi kalender,” ungkapnya.
Susianah mengatakan, dalam konteks ini, tahun 1914 dan 2026 berada dalam siklus yang menghasilkan struktur kalender identik.
Artinya, jika tanggal 1 Januari 1914 jatuh pada hari Kamis, maka tanggal yang sama pada tahun 2026 juga jatuh pada hari Kamis.
“Kesamaan ini berlaku untuk seluruh tahun, dari awal hingga akhir,” katanya.
Susianah mengatakan, kesamaan kalender ini tahun 1941 dan 2026 menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan peristiwa historis besar.
Tahun 1914 dikenal sebagai titik awal Perang Dunia I, salah satu konflik paling destruktif dalam sejarah modern.
Pemicu langsung perang tersebut adalah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand pada 28 Juni 1914 di Sarajevo.
Peristiwa ini memicu rangkaian eskalasi politik dan militer yang melibatkan kekuatan besar dunia seperti Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Austria-Hongaria.
“Dalam waktu singkat, konflik regional berubah menjadi perang global yang berlangsung hingga 1918 dan menelan jutaan korban jiwa serta kerusakan ekonomi dan sosial yang luas,” ucapnya.
Susianah, mengatakan, memasuki tahun 2026, dunia kembali dihadapkan pada dinamika geopolitik yang kompleks. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dan Israel beserta sekutunya, menjadi sorotan utama dalam berbagai laporan media internasional dan analisis kebijakan global.
“Eskalasi konflik ini melibatkan dimensi militer, ideologis, dan strategis, serta berpotensi memicu keterlibatan aktor-aktor global lainnya,” ucapnya.
Susianah menjelaskan, kesamaan kalender antara tahun 1914 dan 2026 memunculkan pertanyaan reflektif yakni apakah ini sekadar kebetulan matematis, ataukah terdapat makna simbolik yang dapat diinterpretasikan dalam konteks sejarah?
Dari perspektif ilmiah, fenomena ini sepenuhnya dapat dijelaskan melalui logika matematika dan astronomi.
Tidak terdapat hubungan kausal antara kesamaan kalender dan terjadinya konflik global.
Namun demikian, dalam pendekatan historis dan sosiologis, manusia cenderung mencari pola dan makna dalam peristiwa yang berulang.
“Konsep historical recurrence atau pengulangan sejarah sering digunakan secara metaforis untuk menggambarkan kemiripan kondisi struktural, bukan pengulangan peristiwa secara literal. Dalam hal ini, kesamaan kalender dapat dilihat sebagai pengingat simbolik bahwa ketegangan geopolitik, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menghasilkan konflik berskala besar, sebagaimana yang terjadi lebih dari satu abad lalu,” tuturnya.


