Teknologi Tidak Akan Pernah Memahami Perasaan Manusia

Mabur.co – Zaman dulu, ketika kehidupan manusia belum tersentuh kecanggihan teknologi sama sekali, manusia bekerja menggunakan seluruh elemen yang ada dalam dirinya, seperti tenaga, pikiran, waktu, serta perasaan (emosi).

Seluruh elemen tersebut merupakan konsep komprehensif yang disebut Sumber Daya Manusia (SDM).

Seluruh elemen dalam konsep SDM tersebut tentu saja ada batasannya, dan tidak bisa dipaksakan manakala sudah tidak mampu lagi.

Itu artinya, semua orang punya hak untuk beristirahat, dan tidak diperkenankan untuk memforsir tenaga di luar batas kemampuannya.

Kini, dengan semakin canggihnya teknologi informasi dan digital yang hadir di hadapan manusia, semua keterbatasan itu seolah tidak ada artinya.

Dengan teknologi, manusia seperti dituntut untuk bekerja 24/7 nonstop, demi bisa bertahan hidup.

Di sisi lain, manusia-manusia yang masih ngeyel dengan konsep SDM konvensional tanpa bantuan teknologi, biasanya akan jauh tertinggal, dan ujung-ujungnya akan tenggelam atau mati secara perlahan.

Karena dunia modern sangat mengandalkan bantuan teknologi informasi, yang bersifat cepat dan dinamis.

Salah satu yang paling terdampak dari pola kerja SDM konvensional ini adalah perusahaan media cetak, seperti koran, majalah, buletin, tabloid, dan sebagainya.

Mereka kebanyakan masih menganut pola kerja SDM konvensional, apalagi masih mengandalkan cetak kertas yang berbiaya cukup mahal, cost produksi tinggi, serta waktu yang jelas tidak efisien.

Hal ini berbeda jauh dengan pola kerja perusahaan media online, yang cukup menyewa satu perusahaan hosting web, membuat domain (alamat website), lalu tinggal memproduksi konten di sana sebanyak-banyaknya.

Bahkan pekerjaan semacam ini juga bisa dilakukan di dalam kamar kos, serta dilakukan secara mandiri, alias tanpa perlu meng-hire karyawan dan lain-lain.

Fakta ini tentu saja membuat perusahaan media cetak kalah saing, dan pelan-pelan terpaksa gulung tikar alias berhenti beroperasi. Atau minimal, mereka ikut bermigrasi ke pola kerja secara digital.

Bahaya Terselubung Pekerjaan Berbasis Teknologi

DI balik sifatnya yang cepat dan dinamis tersebut, pola kerja berbasis teknologi atau digital seringkali menyimpan ancaman tersendiri.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pola kerja dengan teknologi kebanyakan bersifat 24/7 nonstop, alias terus bergerak tanpa henti.

Hal ini jelas bertentangan dengan sifat naluriah manusia, yang tetap memerlukan istirahat (jeda) antar setiap aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan.

Termasuk juga istirahat siang (Ishoma) untuk pekerjaan kantoran.

Padahal, teknologi dengan segala kecanggihannya, sejatinya adalah mesin yang dibuat dan dikendalikan juga oleh manusia, yang pastinya juga punya keterbatasan yang sama.

Salah satu kelemahan terbesar dari pekerjaan berbasis teknologi (mengandalkan Google dan lain-lain) adalah ketiadaan aspek emosional (perasaan manusia), melainkan hanya mensimulasikan pemahaman emosional secara dangkal (dan tetap berbasis data/logika umum, tidak secara spesifik sesuai kebutuhan individu).

Karena teknologi, khususnya AI (Artificial Intelligence) untuk zaman sekarang, hanyalah mesin berbasis data (big data).

Pada dasarnya, teknologi memang tidak dirancang untuk memahami perasaan manusia secara utuh, misalnya bagaimana cara berempati ketika ditimpa musibah/penyakit, saat manusia kelaparan, kegemukan (obesitas), berkeringat, ngantuk, ketiduran, kecelakaan, dan seterusnya.

Padahal berbagai faktor tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia pada umumnya, yang juga dikategorikan sebagai bagian dari istirahat (jeda), yang jelas dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk manusia yang merancang teknologi itu sendiri.

Dilansir dari laman Forbes, berikut adalah beberapa penjelasan sederhana, mengapa teknologi dianggap tidak akan pernah benar-benar memahami perasaan manusia seutuhnya.

1. Simulasi vs Pengalaman Nyata (Real)

Teknologi dapat menganalisis ekspresi wajah, pola suara, dan pilihan kata untuk mendeteksi emosi. Namun mereka tetapi tidak mampu “merasakan” bagaimana emosi tersebut berjalan di dalam pikiran manusia. Teknologi hanya bekerja berdasarkan algoritma dan data, bukan kesadaran diri manusia secara utuh.

2. Kurangnya Empati Nyata

Teknologi jelas tidak memiliki empati secara alami, intuisi, atau pengalaman hidup yang diperlukan untuk benar-benar memahami konteks emosional manusia secara keseluruhan.

Melainkan hanya menampilkan sampel dari orang-orang tertentu, yang kebetulan pernah menuliskannya di media sosial dan sebagainya (sehingga tercatat sebagai jejak digital yang bisa diakses oleh banyak orang).

3. Analisis yang Bersifat Dangkal

Meskipun dapat mendeteksi nada dan emosi hingga batasan tertentu, namun pemahaman mereka hanya didasarkan pada pola, bukan makna emosional yang mendalam, apalagi spesifik dari masing-masing individu, yang jelas memiliki tingkatan emosi yang berbeda dan unik.

4. Risiko Salah Tafsir

Karena teknologi hanya menafsirkan isyarat di tingkat permukaan (misalnya dahi berkerut atau suara keras), teknologi pun berisiko salah membaca emosi manusia secara mendalam. Karena tingkatan emosi manusia jelaslah tidak sesederhana itu.

5. Kurangnya Kebutuhan Manusiawi (Humanisme)

Dalam beberapa bidang yang membutuhkan empati manusia sungguhan, seperti layanan pelanggan (Customer Service) dan sebagainya, penggunaan teknologi seperti AI tentu saja kurang efektif, karena tidak mampu menangkap emosi manusia secara spesifik dan mendalam.

***

Meskipun teknologi terus berkembang dan dianggap mampu meniru emosi manusia dengan sangat meyakinkan, namun lagi-lagi itu hanya berbasis data dan sampel.

Sehingga secanggih apa pun teknologi yang akan hadir ke hadapan manusia, emosi manusia sungguhan tetap tidak akan tergantikan. Karena pada akhirnya, tidak semua hal di dunia ini bisa digantikan oleh teknologi, sampai kapan pun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *