Unik! Abad ke-19 Pengantin Pria Surakarta Berambut Panjang! - Mabur.co

Unik! Abad ke-19 Pengantin Pria Surakarta Berambut Panjang!

Mabur.co- Pada era modern, laki-laki berambut panjang atau gondrong selalu diidentikan dengan kebebasan, kasar, serta setumpuk stigma negatif lainnya.

Padahal sebenarnya, anggapan pria rambut gondrong ‘tak beradab’ itu merupakan stigma warisan kolonial. Sengaja diciptakan oleh kolonial.

Budaya asli Nusantara membuktikan kaum laki-laki sejak zaman dulu memiliki rambut panjang yang dibentuk: gelung, cepol atau urai, sesuai strata sosial.

Rambut panjang menjadi identitas maskulin laki-laki di Nusantara sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum era kolonial tiba.

Rambut panjang pada laki-laki biasanya digelung, dicepol, diikat kain kepala, dikonde, atau kadang dibiarkan tergerai hingga bahu dan punggung.

Rambut panjang bukan sekadar gaya, melainkan simbol kedewasaan, kehormatan, status sosial, bahkan kesakralan. 

Dikutip mabur.co dari National Geographic, Selasa (23/3/2026), Khalid Elhassan dalam tulisannya berjudul “Our Fashion Choices Today Would Have Been Extremely Questionable in History” yang diterbitkan pada 11 April 2022, menyatakan, rambut panjang pria adalah tanda kekayaan, kekuasaan, dan kejantanan.

Di Eropa pada abad pertengahan pria berambut pendek menandakan perbudakan dan kaum tani. Sedangkan pria kelas atas Eropa hanya memotong sedikit dari rambutnya sebagai tujuan pertobatan atau representasi momen berkabung.

Dikutip dari Instagram sejarahyogya, sebuah foto langka dari abad ke-19 kembali memantik diskusi di kalangan peneliti budaya Jawa dan kolektor arsip sejarah.

Foto yang diambil di Surakarta tersebut memperlihatkan sepasang pengantin dari belakang, namun justru dari sudut itulah muncul petunjuk menarik tentang gaya rambut pria Jawa pada masa itu.

Dalam foto tersebut tampak seorang pengantin pria mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan keris yang terselip di punggung.

Namun yang paling menarik perhatian adalah rambutnya yang dibiarkan panjang dan diikat ke belakang. Detail ini menimbulkan satu pertanyaan penting dalam kajian budaya Jawa: jika pada masa itu pria Surakarta masih berambut panjang, bagaimana bentuk iket atau penutup kepala yang mereka kenakan sehari-hari?

Para pemerhati budaya menduga bahwa ketika rambut panjang diikat dan ditutup iket, maka akan terbentuk tonjolan di bagian belakang kepala yang dikenal sebagai mondholan.

Artinya, sangat mungkin model destar atau iket pada masa itu memang memiliki bentuk mondholan alami akibat rambut panjang yang digulung di dalamnya.

Hal ini membuat sebagian narasi populer yang menyebut pria Surakarta sudah berambut pendek sejak lama menjadi patut dipertanyakan. Hingga kini belum banyak bukti visual yang menunjukkan kapan tepatnya perubahan gaya rambut tersebut terjadi.

Beberapa peneliti budaya Jawa memperkirakan perubahan mulai terlihat setelah dekade 1920-an, ketika potongan rambut pendek mulai umum digunakan.

Meski begitu, bentuk mondholan tetap dipertahankan dalam desain blangkon gaya Surakarta, hanya saja dibuat lebih gepeng atau pipih dibandingkan tonjolan alami sebelumnya.

Dalam foto tersebut juga menarik dari sisi detail keris yang dikenakan sang pengantin. Bentuk warangka yang terlihat adalah tipe ladrang Surakarta, salah satu bentuk khas dalam tradisi keris keraton.

Ciri khasnya tampak pada bagian ulu atau jejer keris yang melengkung lebih ke kiri, disertai angkup dan godhongan dengan lekukan yang lebih tajam. Model ini merupakan gaya yang identik dengan tradisi keris dari lingkungan Keraton Surakarta.

Meski hanya memperlihatkan punggung pasangan pengantin, foto arsip ini justru membuka banyak petunjuk tentang kehidupan sosial, gaya berpakaian, hingga perubahan budaya masyarakat Jawa pada akhir abad ke-19.

Dari satu potret sederhana, kita bisa melihat bagaimana rambut panjang pria Jawa, bentuk iket, hingga desain blangkon modern ternyata memiliki hubungan sejarah yang panjang.

Tak heran jika foto arsip seperti ini menjadi bahan penting bagi para peneliti, kolektor, dan pecinta sejarah yang ingin memahami lebih dalam evolusi budaya Jawa dari masa ke masa. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *