Waktunya Ramadan, Waktunya “Mendadak Religius” - Mabur.co

Waktunya Ramadan, Waktunya “Mendadak Religius”

Mabur.co – Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah, penuh ampunan, dan juga bulan di mana pahala akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Tidak hanya itu saja, bulan Ramadan juga menandai satu tradisi penting umat manusia, termasuk di Indonesia. Di mana bulan Ramadan akan membuat orang-orang jadi “mendadak religius”.

Fenomena “mendadak religius” bisa diartikan sebagai perubahan drastis sifat manusia, yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah ke masjid, tidak pernah mengaji, atau bahkan tidak pernah salat sama sekali.

Lalu tiba-tiba menjadi seorang yang begitu alim di bulan Ramadan seperti sekarang.

Sungguh unik menjalani bulan Ramadan di Indonesia.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, yakni sekitar 249 juta jiwa, atau sekitar 88% dari total 280 juta penduduk, Indonesia jelas sanggup menjadikan penduduknya “mendadak religius”, termasuk kepada 12% minoritas yang non-muslim sekalipun.

Bagaimana tidak, setiap memasuki bulan Ramadan, ada begitu banyak acara yang digelar oleh umat muslim di seluruh Indonesia.

Misalnya saja buka bersama (bukber), sahur on the road, takbiran, kajian keislaman, berkeliling kampung membangunkan orang sahur, hingga kegiatan ritual ibadah khusus di bulan Ramadan, seperti salat tarawih, tadarus Alquran, takjilan, nuzulul quran, lailatul qadar, dan seterusnya.

Ilustrasi. Bagi-bagi takjil di bulan Ramadan. (Foto: infopublik.id)

Tidak hanya itu saja, bagi kaum perempuan, mereka biasanya akan mendadak “kerudungan” selama bulan Ramadan.

Padahal biasanya tidak kerudungan sama sekali di bulan-bulan lainnya. Hal yang sama bahkan diikuti juga oleh umat nonmuslim.

Selain dari tradisi di lingkungan masyarakat, media konvensional maupun media sosial juga kerap menyuguhkan konten-konten bertema Ramadan dalam saluran mereka.

Semua orang yang tampil di sana pun tiba-tiba berpakaian rapi dan tertutup, sopan, bicaranya santun, lemah lembut, dan sebagainya.

Bagaikan sosok pangeran dan bidadari surga yang tiba-tiba turun ke bumi.

Masih belum cukup, beberapa perusahaan komersial pun ikut memanfaatkan momentum bulan Ramadan dengan memberikan diskon besar-besaran kepada para konsumen, khususnya terkait penjualan produk-produk yang identik dengan ibadah, seperti baju koko, pecis, sarung, sajadah, mukena, hijab, dan seterusnya.

Tentunya kebiasaan-kebiasaan di atas akan sangat baik, jika kemudian diteruskan di bulan-bulan berikutnya setelah Ramadan.

Namun kenyataannya, pasca-Ramadan, manusia-manusia ini seolah kembali ke “fitrahnya”, yaitu tidak religius sama sekali.

Padahal, bulan Ramadan tidak semestinya dimaknai dengan peningkatan kegiatan ibadah secara drastis semacam itu.

Karena yang lebih penting adalah bagaimana manusia mampu mengambil hikmah dari makna berpuasa itu sendiri, yakni mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan dan hati, serta menanamkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Di mana semua itu baru benar-benar bisa terlihat pasca-Ramadan usai.

Ibarat kata, Ramadan berfungsi sebagai “penggugah” kesadaran manusia, agar bisa lebih meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah SWT, yang selama ini terkesan belum konsisten atau masih setengah-setengah.

Itulah yang seharusnya menjadi tujuan utama dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Segala macam acara dan kemeriahan yang terjadi, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anggap saja sebagai cara atau metode untuk dapat menggugah kesadaran manusia, bukan sebagai acara foya-foya yang hanya menghabis-habiskan dana takmir masjid, perusahaan, dan seterusnya.

Pada akhirnya, kehadiran Ramadan tidak akan berarti apa-apa, jika hanya dimaknai sebagai FOMO (Fear of Missing Out) dengan mengikuti banyak acara dalam waktu yang berdekatan setiap harinya.

Karena kualitas puasa seorang manusia tidak diukur dari banyaknya acara yang diikuti selama satu bulan penuh, melainkan bagaimana momentum itu dapat menjadi penggugah seseorang, untuk dapat mengubah kebiasaannya secara perlahan, tidak perlu secara drastis atau besar-besaran.

Apalagi fitrah manusia memang tidak sanggup mengubah kebiasaan dalam waktu sekejap.

Karena semua itu butuh niat, waktu, dan konsistensi yang terukur, agar bisa mencapai perubahan yang diinginkan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *