41 Hari Blokade Selat Hormuz, Iran Masih di Atas Angin - Mabur.co

41 Hari Blokade Selat Hormuz, Iran Masih di Atas Angin

Tak ada berita baik dari Pakistan sampai hari ke -5 dari kesepakatan gencatan senjata, sejak Trump menyetujui 10 syarat yang diajukan Iran.

JD Vance, Wakil Presiden AS dan Steve Witkoff, nampaknya akan pulang dengan tangan hampa.

Tidak ada jabat tangan yang hangat dari Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan Abbas Araghchi.

Dan, yang ada hanyalah sebuah pesan tegas dari Teheran: kedaulatan tidak untuk ditawar.

Sebab, dua tuntutan AS —pemindahan uranium ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz— ditolak mentah-mentah oleh Iran. Penolakan ini bukan sekadar defiance (pembangkangan) biasa.

Secara psikologi politik, ini adalah pernyataan terang-terangan bahwa Iran sadar mereka datang ke Pakistan bukan sebagai pemohon, melainkan sebagai pemenang yang sedang mendiktekan syarat.

Di sinilah strategi AS nampak “kedodoran”. Pentagon mungkin salah langkah.

Nyatanya, mereka lebih membutuhkan negosiasi ini daripada Iran, anehnya AS masih memilih menjadi “pelayan” agenda Israel daripada mengutamakan rasionalitas kepentingan nasionalnya sendiri.

Bayangkan, 17 pangkalan militernya dilaporkan hancur. 41 hari Selat Hormuz tertutup. 41 hari pula diplomasi AS gagal membuka jalur nadi energi dunia itu.

Ini bukan sekadar kegagalan taktis, melainkan tamparan keras geopolitik. Saat AS memaksa uranium Iran “dibuang” keluar, Iran menjawabnya dengan diam: garis merah itu tetap merah.

Tidak ada opsi nuklir bagi AS. Iran menempatkan posisi mereka di atas angin (upper hand).

Kini, bola panas sepenuhnya berada di tangan AS. Pilihannya sempit: mencari jalan berliku untuk putaran kedua negosiasi, atau Resuming a War —melanjutkan perang. Dan, secara kalkulasi, gagalnya negosiasi di Pakistan adalah kemenangan strategis telak bagi Iran.

Selama nuklir mereka aman dan Hormuz tertutup, Iran sedang memegang kendali.

Sementara gencatan senjata berlangsung, Iran dengan tenang melakukan konsolidasi militer, merapikan logistik, tentu dengan dukungan penuh Rusia dan Cina yang tersenyum dari kejauhan.

Bagi AS dan Israel, memilih perang besar-besaran saat ini adalah tindakan irasional.

Namun, jika arogansi menutup mata mereka, Iran sudah siap. Senjata-senjata mereka masih fit, balistik aman, pemimpinnya teguh, dan rakyatnya solid.

Sebaliknya, mari kita lihat kondisi di balik panggung AS dan Israel.

Netanyahu mungkin sedang dalam “tegangan tinggi” secara politik.

Tekanan rakyat Israel yang jengah, kasus korupsi, hukuman 4500 tahun dari Turki atas genosida, kecaman Eropa yang dimotori Spanyol, kemudian meluas hingga jerat ICC.

Netanyahu tidak sedang berperang, ia sedang berlari dari ajal politiknya.

Sementara Trump, ia sedang dihimpit tekanan domestik, impeachment kongres, kekacauan Pentagon, dan ketidakstabilan ekonomi global yang dipicu oleh macetnya Hormuz.

Di Pakistan, arogansi Barat bertabrakan dengan keyakinan Timur. Gagalnya negosiasi ini menegaskan satu hal: era dikte Amerika atas dunia sedang berada di senjakala.

Iran telah menunjukkan bahwa keberanian menolak tunduk adalah senjata terkuat.

Kini, nasib ada di tangan mereka sendiri.

Lanjutkan perang dengan segala konsekuensi kehancuran, atau berhenti, mengakui hak-hak kedaulatan Iran sebagai bangsa yang merdeka, dan menghentikan perang secara permanen.

Jawabannya ada dalam kepala Trump dan Netanyahu. Wallahu’alam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *