Agama Benar - Mabur.co

Agama Benar

Saudaraku, pada Selasa, Rabu, dan Kamis ini, Indonesia menggelar parade tiga jalan penemuan jati diri: Imlek, Rabu Abu, dan awal Puasa Ramadan.

Jalan beda warna—sukacita, teduh, hening—namun bertemu pada satu muara: pencarian makna dan penjernihan hati.

Di antara ragam agama dan kepercayaan, kuyakini hanya ada satu yang benar: agama penyerahan diri pada keluhuran Yang Tak Terhingga, kasih sayang pada segala ciptaan, keberpihakan pada kebenaran, kebaikan, keadilan, dan keindahan.

Agama yang benar bukanlah tembok, melainkan jembatan.

Ia seperti lentera Imlek yang menerangi tanpa membakar perbedaan, seperti abu di dahi yang menorehkan kerendahan hati; seperti puasa yang melatih batin agar tak dikuasai angkara nafsu dan ego.

Suatu ketika, Leonardo Boff bertanya kepada Dalai Lama, “Yang Mulia, apakah agama terbaik?”

Ia menjawab, “Agama terbaik adalah agama yang membuatmu lebih dekat kepada Tuhan—yang menjadikanmu manusia yang lebih baik.”

Ukuran kebenaran bukanlah nama, melainkan nurani yang bertumbuh; bukan klaim yang lantang, melainkan laku yang baik.

Pope Francis mengingatkan, hidup bagi orang lain adalah hukum alam: sungai tak minum airnya sendiri, pohon tak makan buahnya sendiri, mentari tak bersinar bagi dirinya. Kita dilahirkan untuk saling membahagiakan.

Sebagaimana diungkapkan Ali bin Abi Thalib, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Ia memberi bagian yang sama kepada bangsawan Quraisy dan perempuan Yahudi dari Afrika, seraya menegaskan bahwa di hadapan Kitabullah tak ada kelebihan satu atas yang lain. Di hadapan keadilan, semua manusia setara.

Jika Imlek mengajarkan cahaya harapan, Rabu Abu kerendahan hati, dan Ramadan pengendalian diri, maka agama yang benar adalah ketika cahaya itu kita bagi, kerendahan hati itu kita hayati, dan pengendalian diri itu kita wujudkan dalam keadilan sosial.

Pada akhirnya, agama bukan sekadar ritual, melainkan transformasi—cara Tuhan hadir dalam perlakuan kita terhadap sesama.

Bila seseorang menjadi cahaya bagi sekitar, teduh bagi yang lelah, dan adil bagi yang lemah, ia telah berjalan di jalan yang benar: jalan cahaya dan rahmat bagi semesta. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *