Budaya “Mohon Izin” dan Respek yang Berlebihan

Mabur.co – Belakangan ini, di setiap forum seminar maupun workshop dan semacamnya, seringkali kita mendengar istilah “mohon izin” atau “izin pak/bu…” setiap hendak memulai percakapan atau melewati orang tertentu yang dianggap lebih tinggi jabatannya.

Kalimat-kalimat yang kerap terdengar misalnya, “Mohon izin bapak, saya akan menyampaikan pendapat saya.” Atau, “Izin Pak, malam ini saya hendak pergi ke luar kota bersama keluarga.”

Sekilas ungkapan ini memang terdengar sopan dan penuh rasa hormat. Namun pertanyaannya, apakah memang begitu kita harus selalu mengucapkan kata “mohon izin” atau “izin pak/bu…” setiap mengawali sebuah kalimat kepada orang lain? Kalau pun ternyata malah “tidak diizinkan”, apakah lantas Anda tidak jadi berbicara?

Migrasi dari Bahasa Militer

Dikutip dari Detik, ungkapan “mohon izin” serta “izin pak/bu…” ini sebenarnya berasal dari tradisi militer, di mana kata-kata “mohon izin” dan “siap laksanakan” merupakan bagian dari disiplin komando dalam bertugas. Ini adalah sistem yang menuntut setiap prajurit untuk selalu siap sedia dengan segala instruksi yang diberikan oleh komandan.

Tanpa disangka-sangka, bahasa militer ini kemudian bermigrasi jauh hingga ke ruang publik yang lebih luas. Terutama di lingkup pemerintahan, di mana unsur atasan dan bawahan masih melekat cukup kuat di ranah birokrasi.

Bahkan, dalam percakapan sehari-hari pun (baik online maupun offline), sedikit-sedikit orang akan selalu mengawali kalimat dengan “mohon izin” atau “izin pak/bu…”. Seolah-olah kata-kata itu sudah menjadi “intro wajib” sebelum menyampaikan maksud dari pesan yang ingin disampaikan.

Padahal kalau Anda perhatikan, tidak pernah ada respons spesifik dari kata-kata “izin” tersebut, kecuali yang bernada lelucon. Ungkapan ini pun sebenarnya tidak memiliki esensi apa-apa dalam keseluruhan kalimat yang ingin disampaikan, kecuali rasa hormat atau tunduk dan patuh (secara berlebihan).

“Baik saya izinkan, silakan,” kurang lebih seperti itu tanggapan dari orang yang dimintai izin (dengan ekspresi bercanda).

Dampak yang Lebih Luas

Meskipun ini hanyalah sebuah frasa sederhana yang kemungkinan tidak terlalu penting. Namun ada satu pelajaran budaya yang terselip di dalamnya.

Terdapat pergeseran nilai yang begitu masif antara si pengucap kata “mohon izin” dengan orang yang dimintai izin. Orang yang mengucapkan “mohon izin” tampak seperti pihak yang tidak punya power lebih di hadapan orang yang dimintai izin. Seolah-olah ada jarak yang begitu menganga di antara keduanya.

Mengingat kita tidak sedang berada di ruang lingkup militer yang penuh dengan disiplin dan komando yang begitu kaku, maka tidak seharusnya kata “mohon izin” ini diucapkan di mana saja, sekalipun kepada atasan Anda di lingkup pekerjaan.

Karena yang terjadi adalah, Anda seperti membatasi kreativitas Anda ketika menyampaikan pendapat ataupun gagasan, Anda juga jadi takut salah dan tidak berani terbuka secara terang-terangan. Yang ada hanyalah main aman dengan kata-kata andalan seperti “siap” (yang juga merupakan istilah dunia militer).

Bahasa bukan hanya digunakan sebagai alat komunikasi, melainkan juga cerminan cara berpikir manusianya. Manakala setiap orang semakin banyak yang menggunakan ekspresi hierarkis seperti “mohon izin” tersebut, maka bisa dikatakan pola pikirnya juga sudah berbelok ke arah sana. Padahal lagi-lagi, kita tidak sedang berada di lingkup TNI atau Polri. Kita hanyalah masyarakat sipil biasa yang punya hak dan kesetaraan yang sama.

Kita juga sudah tidak lagi berada di zaman Soeharto, di mana Pemerintah tidak boleh dikritik, atasan tidak boleh digugat, dan semacamnya.

Budaya Basa-basi

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan intro “mohon izin” atau “izin pak/bu…” di setiap awal kalimat. Hanya saja, penggunaannya secara berlebihan bisa memunculkan sikap yang kurang baik, karena kesannya Anda sedang menyampaikan laporan kepada atasan, bukan sedang menyampaikan pendapat atau gagasan.

Lagi pula itu hanyalah sebuah basa-basi yang memang menjadi salah satu ciri khas dari bangsa Indonesia sejak lama.

Daripada capek-capek harus selalu bilang “mohon izin” di setiap awal kalimat, lebih baik sampaikan saja inti dari pesan Anda secara langsung. Tidak perlu merasa bersalah apabila tidak menyampaikan “izin” di awal. Karena pasti mereka sudah mengizinkan Anda berbicara.

Sebagai negara demokrasi yang berdaulat, kebebasan berpendapat seharusnya sudah terjamin bagi setiap warga negara, tanpa memandang status maupun jabatannya, entah itu presiden atau petani sekalipun, semuanya punya hak yang sama, dan itu tidak memerlukan izin sama sekali. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *