Cunong Nunuk Suraja di Antara Suara-suara yang Terpinggirkan

Saya baru mengenal Mas Cunong Nunuk Suraja, penyair kelahiran Yogyakarta pada 1951 itu, pada 2012 lalu. Tepatnya saat peluncuran antologi puisi Suara-suara yang Terpinggirkan. Antologi puisi bersama puisi-puisi mbeling di Bentara Budaya Yogyakarta. Antologi puisi keroyokan itu diinisiasi almarhum penyair Heru Emka. Mas Cunong sendiri waktu itu menuliskan epilog dan jauh-jauh datang dari Bogor sebagai kawasan perantauannya untuk kembali pulang kampung dan mendatangi Bentara Budaya Yogyakarta. Saya termasuk yang cukup muda di antara penyair lain dalam buku itu.

Para penyair yang masuk dalam antologi puisi mbeling itu adalah:  Abah Yoyok, Abdul Hadi WM, Adhie M. Massardi, Adri Darmaji Woko, Afrizal Anoda, Achmad Arifin, Ahmadun Yosi Herfanda, Akhudiat, Alex Poerwo, A. Slamet Widodo, Ariana Pegg, Beni Setia, Betty Yulia, Biolen Fernando Sinaga, Cunong Nunuk Suraja, Darman D. Hoeri, Darmanto Jatman, Dimas Indianto S, D. Zawawi Imron, Eddie Hara, Eko Budihardjo, Endah S.Trusthi, Erry Pranawa, Faryda D. Emmy, F. Rahardi, Gus Mustofa Bisri, Handrawan Nadesul, Heru Emka, Heryus Saputro, Joko Pinurbo, Jose Rizal Manua, Kwek Li Na, Landung Simatupang, La Rose Djayasupena, Lenny Someday, Muhammad Rain, Noeralandra Surya, Noorca Massardi, Nugroho Suksmanto, Palestina Bila, Pandu Ganesa, Prijono Tjiptoherijanto, Ratna Dewi Barrie, Ren Ren Gumanti, Rini Febriani Hauri, Satmoko Budi Santoso, Sutirman Eka Ardana, Syarifuddin Arifin, Taufiq Effendi, Wanda Rosanty, Yanti Riswara Idris, Yogira Yogaswara, Yudhistira Massardi, Yuki Sastradirdja, dan Yus Marni.

Pernyataan Mas Cunong dalam epilog buku itu saya suka. Misalnya tertulis seperti ini: kejelian memparodikan karya maestro puisi mbeling Remy Silado bukan bermaksud meningkahi penyair senior ini, karena para penyair yang karyanya terangkum dalam antologi ini lebih mengutamakan permainan logika dan balada yang memberi roh pada puisi-puisi mbeling mereka.

Artinya para penyair yang ada mencoba mengembangkan lebih jauh estetika puisi mbeling ala Remy Silado. Saya senang karena selain bertemu Mas Cunong di acara itu, saya juga bisa menimba ilmu dari para pendekar puisi Indonesia lainnya. Bahkan waktu itu Jose Rizal Manua juga datang dari Jakarta. Begitu juga Slamet Widodo.

Kesan saya waktu itu Mas Cunong sangat ramah dan merupakan sosok pribadi yang terbuka, maka ketika mendengar ia mangkat melalui grup WA Kongkow Sastra belum lama ini, saya hanya bisa tercenung lama. Orang kecil dan pendek, mungkin jika tua nanti saya juga akan sependek dirinya, telah berpulang.

Di luar puisi Mas Cunong dalam buku itu saya juga membaca puisi-puisi lainnya misalnya yang ada di media online. Sejujurnya saya memang tidak mengikuti secara intens perjalanan karya sastra dirinya. Hanya lepas-lepas saja, namun kesan saya ia banyak melahirkan puisi-puisi sangat impresif yang menantang kedalaman sublimasi kata. Salah satu yang saya suka dari puisi Mas Cunong di media digital adalah berikut ini.

BULAN BERSARUNG KARDUS

cuaca bergerak lunglai memasuki perkampungan
dijejaki penanda arah kabur di sudut langit
bulan Juni tinggal bayangan sepotong membeku di ujung waktu
puisimu belum tegak lurus dengan laman

bergumul dalam pasir pantai bersama umang-umang patah sayap
terpatuk ombak laut selatan menggelorakan kisah
petualang lazuardi dalam kapal terbang Nabi Nuh bertenaga angin
musim menceraikan serpihan airmata duyung
mitos kegelapan samudra perkasa perawat petaka

sepi memukul-pukulkan bayang kardus terseret gelombang

Bogor-2018

Selamat jalan, Mas Cunong. Tidak banyak kata yang bisa saya tuliskan bukan karena kata-kata telah hilang makna. Namun lebih karena minimnya perjumpaan dan interaksi karya kita masing-masing. Bisa jadi juga hanya sebagian kecil saja karya saya yang pernah dibaca Mas Cunong. Apa mau dikata itulah kutukan puisi di negeri kaya raya nan melimpah ruah kata. Kita hanya bisa mengabadikan semuanya dalam puisi saja. Seperti perjumpaan singkat kita, perjumpaan dengan selintas kesan.

Mungkin sekarang sudah saatnya Mas Cunong membuat puisi-puisi yang sesungguhnya yang juga reflektif untuk mencatat jejak perjalanan di alam lain. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *