Darma Mangkuluhur dan Pesona Raja Sehari

Berapa menit atau berapa jam dalam sehari saya dan Anda terlambung imajinasinya dan merelakan tidak menjadi diri sendiri melainkan sebagai sang liyan  atau diri yang lain?

Di masa saya kecil hingga remaja kalau menonton film televisi yang disukai, misalnya film serial The A Team, TJ Hooker, Hunter, Riptide, The Six Million Dollar Man, Highway to Heaven, dan deretan film lain yang pernah berjaya menghiasi layar TVRI di era 1980-1990-an, maka bisa berhari-hari saya membayangkan menjadi tokoh tertentu di dalam film-film itu. Ketika membicarakan cerita film itu ke kawan pun sangat antusias bahkan bisa terkesan sayalah tokoh yang ada di dalam film itu.

Sambil mendengarkan guru mengajar di sekolah, saya kadang-kadang buang muka ke kaca arah jalan raya karena merasa perlu membunuh kepenatan mengikuti pelajaran yang tidak disukai dengan mengimajinasikan diri seperti tokoh di dalam film yang semalam saya saksikan.

Begitulah hari-hari saya dan saya yakin juga Anda adalah hari-hari untuk benar-benar pandai menyiasati kebahagiaan, jalan paling murah meriah adalah dengan buang muka dan membayangkan yang indah sesuai dengan keinginan kita.

Kalau hal seperti ini memang benar terjadi pada setiap orang, saya  membayangkan juga bagaimana dengan orang seperti Darma Mangkuluhur, cucu Presiden Kedua Indonesia, Soeharto, dan anak dari Tommy Soeharto? Apakah dalam setiap jam dalam setiap hari di dalam kehidupannya ia juga masih merelakan dirinya tidak sebagai Darma Mangkuluhur karena masih perlu berangan-angan dan berimajinasi liar?

Ini bukan soal sikap dan pandangan iri. Ini bagi saya adalah fenomena biasa namun tetap menggelitik karena bisa mengundang refleksi. Di mata kita sebuah panorama hidup yang sempurna sudah terjalani oleh Darma Mangkuluhur. Seandainya kita perkirakan kekayaan yang sebenarnya dimiliki bahkan imajinasi siapa pun bisa jadi tidak mampu menyebutkan. Beda dengan kekayaan kita yang sangat tertebak kisarannya. Hahaha.

Melihat acara siraman pengantin yang dilakukan Darma Mangkuluhur dengan pasangannya Patricia Schuldtz yang begitu megah dan juga perayaan keseluruhan pernikahan apa yang juga melintas di dalam imajinasi kita selain ketakjuban betapa jurang kelas sosial memang sangat kontras terjadi di Indonesia.

Saya tidak habis pikir seandainya orang seperti Darma Mangkuluhur dilihat melalui satelit tembus pandang genteng dan eternit, apa yang dilakukan sehari-harinya di rumah? Satu hari dalam hidup Darma Mangkuluhur setelah pernikahan dan sebelum pernikahan apakah aktivitas yang dilakukannya?

Boleh jadi hacker paling brilian di dunia pun jika meneropong melalui satelit dan bahkan melakukan telusur lie detector menggunakan sinar infra merah yang ditembakkan melalui satelit lalu tinggal membaca hasilnya melalui laptop entah di mana sang hacker berada, maka sangat mungkin sang hacker malah pingsan.

Pingsan karena hasil pindai satelit program lie detector yang ditembakkan melalui sinar infra merah sangat di luar ekspektasi. Boleh jadi juga di luar imajinasi siapa pun juga homo sapiens di dunia ini. Apa isi pikiran dan hatinya yang sesungguhnya?

Tapi, demikianlah dunia, sejak dulu menjadi ajang perebutan eksistensi dan yang kalah karena alasan garis keturunan, kekayaan, jabatan, pendidikan, kecerdasan, dan lainnya harus menerima dengan senang hati. Ini bukan soal berbagi rasa cemburu melainkan melatih jujur betapa dalam sehari apakah sepenuhnya setiap detik adalah representasi diri kita: pikiran, kemauan, ucapan, angan-angan, dan realitas yang tak perlu ditutup-tutupi?

Oleh sebab itulah, maka ada istilah raja sehari. Karena sebagaimana yang dilakukan Darma Mangkuluhur ia sudah menunaikan hajat pernikahan yang sungguh membahagiakan. Sebuah hari yang jika digambarkan melalui report lie detector bisa juga susah untuk diterjemahkan.  

Saya dan Anda bisa meniru menjadi raja sehari namun Darma Mangkuluhur dalam hati kecilnya saya yakin tetaplah raja selamanya. Itu yang setidaknya menjadi kepingan ilusi dan membuat Darma Mangkuluhur sungguh sangat berbeda dengan saya dan juga Anda. ***

Penulis adalah pemimpin redaksi mabur.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *