Di Ujung Syahidnya Sang Pemimpin - Mabur.co

Di Ujung Syahidnya Sang Pemimpin

Ruangan itu hening. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran itu membawa setumpuk laporan, sambil menyerahkan dan menatap sosok pemimpin tertinggi yang dihormatinya, Ayatollah Ali Khamenei, dengan hati yang bergetar hebat.

Di luar, langit seolah bersiap runtuh oleh api rudal musuh.

“Pemimpinku…” suara Larijani bergetar, memecah hening.

“Ini bukan gertakan. Mereka sungguh mengincar, Tuan. Kami telah menyiapkan bungker tersembunyi, tempat teraman di bumi insyaallah, di mana mata tak akan melihat dan bom tak mampu menjamah. Ini bukan pelarian, tapi mungkin bagian dari strategi. Kumohon bersembunyilah hingga badai ini berlalu.”

Sang pemimpin terdiam. Tatapannya menembus dinding, seolah bercakap dengan sejarah.

Ia berdiri perlahan, menghampiri Larijani, sambil menepuk pundaknya pelan, lalu bertanya dengan lembut yang justru mengiris hati.

“Lalu, jawaban apa yang engkau harapkan dariku, Larijani?”

“Saya tahu, Tuan mungkin keberatan. Tapi bangsa ini butuh pemimpin tertingginya,” jawab Larijani tertunduk.

Sebuah senyum terukir di wajah Sang Pemimpin—senyum yang mungkin menampung beban bahaya sekaligus samudra kebijaksanaan.

“Engkau benar dalam hitungan teori dan strategi manusia, Larijani. Tapi izinkan aku bicara dengan bahasa hati. Bagaimana aku bisa meminta prajurit menantang maut, jika pemimpinnya justru bersembunyi, mendekap ketakutan? Bagaimana aku meminta rakyat berdiri tegak, jika aku sendiri sibuk mencari tempat berlindung?”

Ia berhenti, napasnya berat, seolah pintu Karbala terbuka di dadanya.

“Kita adalah bangsa pewaris Sayyidina Husain bin Ali. Imam yang melangkah tanpa gamang menuju nasibnya, bukan sebagai orang kalah, tapi sebagai kesatria di hadapan umat dan Tuhannya. Beliau tak lari dan bersembunyi meski musuh mengepung.”

Larijani mencoba menyanggah dengan pelan, “Tapi bukankah Imam Mahdi mengajarkan bahwa menghilang adalah bagian dari kebijaksanaan?”

Sang Pemimpin tersenyum tipis.

“Perbedaannya, Larijani… Imam Mahdi menghilang saat tak ada lagi pasukan yang mampu membela kebenaran. Tapi aku? Bagaimana aku bersembunyi, sementara di punggungku ada bangsa yang sedang bertaruh nyawa? Saat pemimpin hilang dalam sepi, itu hikmah. Tapi saat pemimpin hilang di tengah bangsa yang berjuang, itu adalah pengkhianatan bukan?”

Larijani terdiam, tunduk oleh keberanian dan kebenaran yang telanjang.

Malam itu, usai Larijani pergi, Sang Pemimpin mengumpulkan keluarganya.

Ia tawarkan tempat aman bagi mereka. Namun, mereka menatapnya dengan binar mata dan martabat yang sama. Memilih menemani Sang Pemimpin. Sehidup semati.

“Kami berada di mana pun Anda berada,” jawab mereka lirih.

Maka, pemimpin tertinggi itu tetap tinggal di kediamannya yang sederhana. Bukan ia tak takut, tetapi karena ia tahu: jika ia bersembunyi pun, suatu saat juga akan mati, dan kematian di atas kasur akan segera dilupakan bangsanya.

Sebab hidup adalah tentang bagaimana, bukan sekadar berapa lama. Hum al fatihah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *