Disrupsi ternyata bukan sekadar kisah tentang toko fisik yang tumbang oleh aplikasi, atau pemasaran konvensional yang gagap dihadapi influencer media sosial atau kreatifitas manual tergantikan oleh yang serba instan dan digital.
Di kawasan Timur Tengah yang “panas” oleh invasi, disrupsi juga tengah merobek-robek buku teks militer konvensional.
Bayangkan, pangkalan militer Amerika yang serba teknologi mutakhir, dengan kelengkapan navigasi antariksa yang presisi, beserta deretan jet tempur dan kapal induknya yang super canggih, dengan harga super mahal, serta telah menjadi simbol supremasi negara adidaya, kini tampak seperti raksasa yang tidur.
13 dari 17 pangkalan militer “raksasa” itu diserang—dan lumpuh total—oleh kawanan drone shahed 136 atau drone kamikaze yang harganya tak lebih mahal dari motor matic.
Drone-drone “murahan” itu, dengan biaya produksi minim, mampu menciptakan serangan cepat dan menghancurkan (saturation attack) serta membakar anggaran pertahanan jumbo menjadi abu.
Inilah ironi sejarah terbaru: efektivitas berbiaya rendah meruntuhkan efisiensi berbiaya tinggi.
Ini adalah demokratisasi presisi. Perang tidak lagi memenangkan siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling cerdik memproduksi senjata murah berdaya rusak tinggi.
Tetapi, yang lebih mengherankan, bahkan terkesan ganjil, Trump kemudian sesumbar, ingin menerjunkan militernya untuk invasi ke daratan Iran.
Bukankah itu samacam anomali dari negara besar? Bangsa adidaya dengan kemajuan teknologinya? Lalu, kenapa mereka melontarkan wacana “perang” kembali lagi ke masa lalu? Dengan mempertaruhkan banyak nyawa dan air mata perpisahan? Padahal era kini, denyut jantung sudah digantikan oleh mesin tak berawak.
Mesin tak berawak dari Iran itulah yang banyak menerbangkan “kematian” teknologi raksasa Israel dan Amerika dari jarak jauh melalui teknologi buatan sendiri.
Dan, di balik layar “kecil” itu, ada sebuah investasi yang senyap, namun dinamis di ruang-ruang kelas akademis. Bangsa Iran, dalam tekanan sanksi, ternyata memilih menanam modal pada otak manusianya, bukan pada pragmatisme “membeli” dan sekadar gaya hidup.
Dengan anggaran pertahanan yang jauh di bawah AS—bahkan belum sepersepuluh dari gabungan AS-Israel, Iran fokus pada pendidikan berbasis literasi; mencetak Master dan PhD yang jumlahnya signifikan untuk menguasai STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Drone-drone itu tidak diciptakan oleh penyihir, melainkan oleh sarjana-sarjana mereka sendiri. Mereka tidak hanya merakit, tapi merancang. Mereka tidak hanya mengoperasikan, tapi menginovasi.
Untuk itu, mari kita merenung dan menundukkan kepala sejenak untuk bangsa kita. Kita sering kali mungkin bangga dan silau pada alat-alat perang super canggih yang dibeli, bukan yang dibuat.
Kita terpukau pada besarnya anggaran, bukan besarnya kecerdasan yang memproduksi alat. Kita—sadar atau tidak—sering lebih sibuk mendebatkan “judul” daripada memikirkan “isi”. Kurikulum nasional sering hanya sebagai “basa-basi” peralihan kekuasaan.
Hari ini, Iran memberi tahu kita, bahwa kedaulatan bukan hanya tentang seberapa gagah seragam militer kita, lalu mengimpor senjata dan terus menjadi konsumen, tapi seberapa mumpuni otak warganya menciptakan solusi di tengah himpitan.
Sebab, dalam perang modern, kecerdasan adalah pertahanan terbaik, dan kemandirian adalah panglima tertinggi sebuah negara. Wallahu’alam.



