Kita tahu numerologi yang merujuk pada angka 30 Maret 2026 sudah terbaptis sebagai Hari Film Nasional.
Sejak film pertama dibuat di Indonesia dengan capaian Darah dan Doa karya Usmar Ismail pada 1950, banyak film kemudian lahir dengan berbagai aliran. Ada film humor, film horor, dan lain-lain.
Film-film itu pastilah mempunyai segmen pasar penonton sendiri-sendiri.
Namun di antara banyak karya film Indonesia, bahkan sampai pada era sineas Hanung Bramantyo kini, saya masih tetap belum bisa menggeser memori bahwa yang terbagus adalah film boneka Si Unyil.
Saya bersetuju dengan pandangan sastrawan dan pengamat industri hiburan seperti Arswendo Atmowiloto yang mendudukkan film boneka tersebut cukup berhasil dalam seluruh kaidah film.
Pesan edukasinya bisa sampai dengan mudah, pesan hiburannya tak kelewatan selalu berkesan, tokoh-tokohnya kuat dan benar-benar mengendap dalam memori penonton, gratis karena ditayangkan di TVRI hari Minggu pagi pada era 1980-an, terjangkau semua kalangan hingga di pelosok desa, pokoknya tidak terkalahkan dari segi apa pun.
Kemasan visual pendidikan dan pengarahan ala Orde Baru yang paling berhasil memang melalui tayangan di TVRI.
Bagi saya, setelah Si Unyil, yang selalu terkenang lagi adalah Film Cerita Akhir Pekan yang ditayangkan setiap Sabtu malam. Di situlah film-film dewasa diputar dan khazanah tema film pun meluas.
Era kini, orang berebut momentum mendapatkan film favoritnya melalui Netflix.
Sambil istirahat di rumah dan makan gorengan setiap orang bisa memuaskan hasrat sinemanya.
Film pun tidak lagi harus ditonton secara komunal dan memang setiap orang justru bisa merayakan personalitasnya dengan menonton gelaran visual ala Netflix.
Mau memelototkan mata, mau mengumpat, bahkan mau melempar bantal ke tembok, bisa saja dilakukan karena gemas dengan adegan yang tersaji.
Ibadah menonton film memang akhirnya menjadi salah satu laku ibadah yang mencerdaskan. Logika apa pun diuji meskipun jika tidak hati-hati tetap akan tergelincir dalam bingkai cuci otak dengan misi tertentu.
Memang, idealnya rasionalitas harus tetap berjarak dengan film karena bisa jadi film yang ada menawarkan iman alternatif dan tersuntikkan tanpa terasa ke dalam nadi aliran darah dan belum tentu kita butuhkan kegunaannya.
Namun berguna atau tidak berguna tayangan film tertentu dalam melengkapi laku hidup kita, tentu saja dalam perspektif hiburan tetap bisa diterima.
Namanya juga hiburan tai kucing pun rasa coklat. Dirgahayu film Indonesia! ***



