Di sudut-sudut Teheran, saat senja merambat jatuh di atas kubah-kubah biru langit, mungkin seorang tua sedang membalik halaman Divan Hafez, membiarkan bait-bait puisi abad pertengahan menenangkan jiwanya yang ditempa embargo.
Di luar jendela, suara televisi menyiarkan narasi sanksi Barat yang bertalu-talu —kawat berduri ekonomi yang mencoba melilit leher negara Iran.
Namun, di dalam, ada ketenangan yang janggal.
Ketabahan yang —mengambil metafora Sapardi— mungkin lebih tabah dari hujan di bulan Juni.
Seringkali, kacamata Barat tergoda menyamakan Iran dengan Venezuela.
Keduanya adalah negeri dengan cadangan minyak yang melimpah, dan keduanya dipeluk oleh sanksi Amerika Serikat (AS) yang menyesakkan.
Namun, di situlah kesalahan narasi dimulai.
Venezuela, jika kita melihat sejarah baru-baru ini, tampaknya goyah saat ditekan keras, seperti permainan kartu yang runtuh saat meja digebrak.
Sementara Iran? Iran adalah bangsa Persia. Dan, Persia tidak pernah benar-benar mati, meskipun ditembak berkali-kali.
Melihat Iran hari ini, kita tidak sedang melihat negara “kemarin sore” yang baru merdeka.
Kita sedang memandang warisan peradaban Achaemenid, Parthia, hingga Sasanian yang mengendalikan Asia Barat selama lebih dari dua belas abad sebelum Masehi.
Ketika Cyrus Agung menaklukkan Babilonia pada 539 SM, ia membangun fondasi kekuatan yang tidak hanya berakar pada militer, tapi pada ketahanan mental dan spiritual.
Iran adalah bangsa yang terbiasa hidup dalam kepungan, tumbuh dari sejarah penaklukan dan pertahanan diri yang luar biasa.
Jejak itu nyata. Saat revolusi 1979 meletus, Iran memilih jalannya sendiri —sebuah Republik Islam yang lahir dari referendum 98%— yang menolak tunduk pada pengaruh Barat.
Mari lihat data kalender. Sejak 1980, saat Perang Teluk I (perang Irak-Iran) dimulai, Iran telah ditempa.
Delapan tahun perang (1980-1988) yang berdarah melawan Irak, yang didukung banyak negara, tidak membuat Iran gentar apalagi runtuh.
Anak-anak remaja dan generasi penerusnya paham betul soal itu, bahkan riwayat agung bangsanya sejak era sebelum masehi menjadi kurikulum wajib untuk dibaca mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Pelajaran sejarah dan sastra menjadi pendamping wajib pendidikan kedinasan dan militer.
Buku antologi Divan Hafez menjadi buku yang hampir ada di setiap rumah dan mulai diajarkan di sekolah menengah pertama.
Karya sastra monumental penyair Persia, Hafez Shirazi ini memberikan pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak dan pemerintah mengerti betul manfaat dari warisan intelektual masa lalunya.
Karena itu, tak berlebihan, kelak lahirlah birokrat dan militer yang mandiri dan berkarakter.
Ketika sanksi ekonomi berkali-kali dijatuhkan, itu bukan hal yang menyulitkan bagi Iran.
Bahkan, ketika puluhan tahun diembargo, Iran justru mengembangkan rudal, drone, dan program nuklir secara mandiri, mengubah tekanan menjadi kekuatan.
Berbeda dengan kasus Caracas, di mana sanksi menyebabkan kejatuhan ekonomi drastis, Iran memiliki ketahanan geologis dan manajerial.
Ladang minyak Iran tetap terawat dan berada di bawah kendali ketat Perusahaan Minyak Nasional Iran, jauh berbeda dengan situasi Venezuela yang bergantung pada pihak asing.
Iran belajar bertahan dengan barter dan membangun perdagangan alternatif, bahkan mengekspor produk ke Venezuela.
Iran hari ini adalah produk dari ingatan masa lalu yang panjang: kesabaran, kelincahan geopolitik, dan kebanggaan peradaban yang merasa lebih tua dan besar daripada pengaruh Arab maupun Barat di sekitarnya.
Menembak Iran dengan embargo ibarat menembak batu karang di Teluk Persia.
Ia mungkin retak, tapi ia tak akan hancur. Ia punya warisan kuno untuk bertahan, dan pengalaman perang modern untuk bertarung.
Ia bukan Venezuela yang runtuh sekali gebrak.
Di Iran, sanksi dan bom mungkin hanya seperti hujan yang lewat saat musim kemarau.
Esok tiba musim semi dan Persia tetap berdiri. Wallahu’alam bishawab. ***



