Iran: Merawat Mental Bangsa dengan Literasi - Mabur.co

Iran: Merawat Mental Bangsa dengan Literasi

Di Teheran, barangkali di sebuah kedai teh yang amat sederhana namun hangat, Divan karya Hafez bukan sekadar deretan rima.

Ia adalah detak jantung. Ia adalah alasan mengapa seorang diplomat Iran bisa menatap mata dunia tanpa rasa gentar.

Di sana, puisi adalah kurikulum, dan sejarah adalah sumsum tulang.

Iran memahami bahwa kedaulatan tidak dimulai dari laras senapan atau angka PDB, melainkan dari literasi yang diwariskan intelektual bangsanya.

Sastra adalah sebuah upaya untuk memberi bentuk pada yang tak berbentuk.

Di Iran, bentuk itu bernama harga diri. Ketika Firdawsi menyusun Shahnamah, ia tidak sedang mendongeng, ia sedang memulihkan ingatan sebuah bangsa yang hampir punah diterjang gelombang sejarah.

Itulah mengapa, ketika sanksi ekonomi menjepit, mereka tak retak.

Mereka punya “cadangan batin” yang melimpah dari Nizami dan Hafez.

Goethe pun, di kejauhan Weimar, harus menunduk hormat pada West-Eastern Divan, mengakui bahwa cahaya intelektual begitu bersinar di Timur.

Lalu kita menoleh ke cermin yang retak: Indonesia.

Kita adalah bangsa yang memiliki I La Galigo yang lebih panjang dari Mahabharata, Serat Centhini yang merupakan ensiklopedia tradisi dan ketuhanan yang sublim, hingga Syair Burung Pinggai Hamzah Fansuri yang mengajarkan navigasi jiwa.

Namun, di ruang-ruang kelas kita, karya-karya ini menjadi hantu.

Sejarah kita yang mungkin sebanding tegak dengan bangsa Iran, saat menguasai Babilonia hingga Romawi, Indonesia versi dahulu juga pernah menggetarkan Mongol saat masih Kalingga dan menguasai ombak Asia melalui Majapahit, dan kini hanya menjadi hafalan angka-angka kering untuk ujian pilihan ganda.

Siapa yang hari ini masih menatap tajam ke dalam Serat Jamus Kalimashada? Serat Hidayatdjati? Serat Wulangreh? Menyelami Wedhatama, atau merenungi Serat Wulung Dharma?

Berapa banyak anak sekolah kita yang mengenal Syair Perahu karya Hamzah Fansuri?

Karya sufi besar Sumatra yang ajaran tentang hidup—bahwa manusia harus memperbaiki perahu iman di tengah lautan badai—nyaris tak terdengar.

Syair itu, yang pengaruhnya melahirkan tembang populer Lancang Kuning, kini mungkin hanya menjadi artefak bisu yang disitir akademisi, bukan panduan batin kebangsaan.

Tragedi kita bukan pada kemiskinan materi, melainkan pada “nol buku sastra”—seperti yang pernah disuarakan dengan pedih oleh Taufiq Ismail.

Kurikulum kita telah membunuh imajinasi dan menggantinya dengan teknokrasi yang dangkal. Kita mengajarkan tata bahasa sebagai rumus matematika, bukan sebagai pengasah rasa (sense of crisis) atau pelunak hati.

Akibatnya? Kita melahirkan birokrat dan diplomat “bermental kerupuk.”

Manusia-manusia yang fasih bicara tentang investasi dan regulasi, namun gemetar di hadapan kuasa asing karena mereka tak memiliki akar yang menghunjam ke bumi literasi mereka sendiri.

Para pejabat kita, dengan gagap, memandang ke Barat bukan sebagai mitra, tapi sebagai majikan.

Bahkan berani membayar 17 triliun, hanya demi mereka bisa mencoret-coret harga diri kita. Literasi kita rendah, bukan karena kurang bahan bacaan, tapi karena kita tak pernah menganggap masa lalu penting untuk masa depan.

Mereka adalah penguasa tanpa kedaulatan batin. Sebab mereka tidak membaca Serat Dewa Ruci atau Syair Perahu, sehingga mereka lupa bahwa pemimpin harus memiliki “tahu akan dirinya sendiri.” Dan, ini berbeda dengan pemimpin-pemimpin di Iran, hampir tiap bicara yang keluar adalah literasi.

Anak-anak sekolah menengah di Iran sudah akrab dengan metafora Hafez, Nizami, Firdausi, Khumasi dan seterusnya, mereka belajar bahwa hidup adalah perlawanan yang indah.

Sementara anak-anak kita hanya mengenal sastra sebagai soal ujian multiple choice—siapa pengarangnya, tahun berapa terbitnya—maka mereka hanya akan tumbuh menjadi sekrup dalam mesin besar bernama globalisasi, tanpa pernah tahu cara mengendalikan kemudi “Lancang Kuning” mereka sendiri.

Kita butuh lebih dari sekadar diplomasi ekonomi. Kita butuh diplomasi kebudayaan yang berangkat dari rak buku di rumah-rumah kita.

Tanpa sastra, politik hanya menjadi perebutan kursi yang berisik, dan kekuasaan hanyalah topeng yang rapuh di bawah bayang-bayang Amerika atau Eropa.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang pikun dan menemukan kembali Hamzah Fansuri atau Ki Ageng Selo yang bukan sekadar untuk romantisme masa lalu, melainkan untuk membangun tegaknya tulang punggung masa depan.

Karena bangsa yang tidak membaca sastranya sendiri adalah bangsa yang sedang menulis surat kematiannya dengan tangan sendiri. Wallahu’alam bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *