Judith Berkson dan Ruang Musik Tanpa Batas Genre - Mabur.co

Judith Berkson dan Ruang Musik Tanpa Batas Genre

Judith Berkson terdengar seperti seseorang yang sejak awal memang tidak tertarik pada pilihan yang rapi.

Di album Thee They Thy ini, alih-alih menetap pada satu idiom, ia membiarkan berbagai bahasa musik —jazz, tradisi lagu, eksperimentasi vokal, bahkan jejak avant-garde— bertemu tanpa perlu disatukan secara paksa.

Hasilnya bukan campuran yang gaduh, melainkan ruang yang terasa personal, sedikit ganjil, dan justru karena itu, hidup.

Kalau ditarik ke belakang, rilisan ini memang terasa sebagai kelanjutan logis dari kerja solonya.

Berkson sendiri bilang bahwa lagu-lagu di sini adalah perpanjangan dari praktik yang sudah lama ia bangun: lagu yang intim, personal, tapi tetap terbuka pada improvisasi.

Jazz jadi salah satu fondasi, tapi bukan satu-satunya. Ada juga jejak tradisi lagu, bahkan kecenderungan avant-garde dalam cara ia memperlakukan harmoni dan melodi.

Minimalisme dan sentuhan konseptual juga ikut masuk, tapi tidak pernah terasa seperti teori yang dipaksakan —lebih seperti cara berpikir yang sudah menyatu.

Album sebelumnya, Oylam, bisa dibilang titik penting.

Di sana Berkson mulai membangun bahasa vokalnya sendiri —bukan sekadar menyanyi dalam arti konvensional, tapi menciptakan cara baru untuk mengolah suara, kata, dan makna.

Ia juga mengembangkan pendekatan keyboard yang cukup idiosinkratik untuk menopang itu semua.

Proses ini bukan sesuatu yang instan, ia sendiri mengaku mengerjakannya selama bertahun-tahun.

Maka ketika di album baru ini ia membawa gagasan tersebut ke dalam format trio, itu terasa seperti langkah berikutnya yang wajar.

Format trio piano, bass, dan drum memang terdengar klasik. Tapi di tangan Berkson, format ini bukan untuk kembali ke tradisi, melainkan untuk diuji ulang.

Ia sendiri bilang ingin “mengangguk” pada tradisi trio jazz, tapi dengan syarat: harus bersama orang yang tepat. Dan pilihan itu jatuh pada drummer Gerald Cleaver dan bassist Trevor Dunn.

Cleaver adalah sosok yang sudah lama ia kenal dan sering bermain bersama —drummer yang tidak sekadar menjaga tempo, tapi benar-benar mengolah ruang, tekstur, dan dinamika.

Dunn, di sisi lain, adalah kolaborator baru, dengan latar belakang yang luas, dari eksperimental rock sampai proyek-proyek bersama John Zorn.

Yang menyatukan mereka adalah satu hal: ketidaksukaan pada batasan idiom. Mereka tidak datang untuk “memainkan jazz”, tapi untuk bergerak bebas di dalamnya.

Di album Thee They Thy, Berkson memimpin keduanya melalui rangkaian materi yang cepat berubah: lagu orisinal, eksperimen vokal, improvisasi total, bahkan setting baru untuk doa.

Yang menarik bukan hanya keberagamannya, tapi bagaimana semuanya bisa terasa menyatu.

Seperti dicatat oleh Wall Street Journal, yang menonjol bukan sekadar rentang genre, melainkan kemampuan Berkson untuk merajut semuanya menjadi satu alur yang koheren —mengungkap hubungan antara hal-hal yang tampaknya tidak berhubungan.

Secara struktur, album ini memainkan keseimbangan antara yang terkomposisi dan yang spontan.

Beberapa lagu seperti “Slow”, “Dust”, dan “Sated” ditulis secara penuh (through-composed), dengan bentuk yang relatif ringkas tapi padat informasi.

“Dust”, misalnya, hanya berangkat dari empat nada, tapi dibentangkan di atas perubahan akor yang menggabungkan harmoni abad ke-19 dengan idiom jazz. Sederhana di permukaan, tapi kompleks di dalam.

Sebaliknya, ada juga materi yang lahir sepenuhnya di momen itu sendiri.

“Slowly Walk Into It” adalah contoh di mana kata dan musik muncul secara stream-of-consciousness, tanpa rencana awal.

Ini jenis pendekatan yang mengandung risiko tinggi—tidak ada jaminan hasilnya akan “berhasil”.

Tapi justru di situ letak daya tariknya: ada kerentanan, ada kemungkinan gagal, dan ada kejujuran yang tidak bisa direkayasa.

Eksperimen lain muncul di “Torque”, di mana improvisasi dipicu oleh barisan dua belas nada. Tapi Berkson tidak memperlakukan sistem ini secara kaku.

Ia lebih melihatnya sebagai bahan rujukan—sesuatu yang bisa disentuh, dikutip, lalu ditempatkan ulang di konteks berbeda.

Ia sendiri menyebutnya sebagai bentuk penghormatan yang penuh kasih, sekaligus permainan lintas era dan gaya.

Track “Thee They Thy” sendiri bergerak di wilayah yang lebih ringan dan sedikit ironis—semacam scat song yang terasa seperti dunia mimpi, sekaligus parodi kecil terhadap vokal atonal dan tradisi jazz.

Ada jarak di situ, tapi bukan jarak yang dingin. Lebih seperti kesadaran bahwa semua ini adalah permainan bentuk, dan justru karena itu bisa diperlakukan dengan santai.

Di tengah album, Gerald Cleaver mendapat ruang untuk tampil solo lewat “Cleav”.

Ini bukan sekadar interlude, tapi bagian penting dari dinamika keseluruhan.

Permainan drumnya tidak menonjolkan kecepatan atau kekuatan, melainkan detail: tekstur, resonansi, perubahan kecil dalam warna bunyi.

Ia menyesuaikan diri dengan estetika album yang lebih intim dan sensitif.

“Notice” menghadirkan momen lain yang menarik: vokal yang diulang secara minimalis perlahan “ditelan” oleh permainan trio yang semakin intens.

Sementara di “Amerika”, ketiga musisi mendapat ruang lebih luas untuk berekspansi, dengan Trevor Dunn memberikan solo yang terasa emosional dan reflektif.

Lapisan lain yang cukup menonjol adalah kehadiran musik kantorial. Berkson bukan sekadar mengutip tradisi ini—ia adalah praktisinya.

Karena itu ketika ia menyanyikan “V’shamru”, hasilnya terasa otentik dan penuh intensitas.

Ia sendiri menyebut bahwa memasukkan karya kantorial orisinal ke dalam album adalah sesuatu yang penting baginya.

Pertanyaannya sederhana: kenapa tidak membiarkan semua ini berdampingan? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Pendekatan ini pada akhirnya menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar gaya musik.

Berkson tampaknya tidak melihat genre sebagai batas, melainkan sebagai sumber.

Jazz, musik liturgis, avant-garde, minimalisme—semuanya bisa hidup berdampingan selama ada benang penghubung yang jelas. Dan dalam kasus ini, benang itu adalah kepekaan terhadap suara, struktur, dan momen.

Latar belakangnya menjelaskan banyak hal. Ia belajar vokal dengan Lucy Shelton dan komposisi dengan Joe Maneri—dua figur yang memang berada di pinggiran arus utama.

Aktivitasnya juga meluas ke berbagai bidang: dari pertunjukan solo, musik elektroakustik, hingga opera kamar.

Ia bahkan menulis musik untuk film Christopher at Sea (2022), yang diputar di Sundance dan Biennale Venesia.

Semua ini membentuk cara berpikir yang tidak terikat pada satu disiplin.

Sebagai cantor, ia juga terlibat langsung dalam praktik nyanyian liturgis, dan pernah berkolaborasi dengan nama-nama seperti Frank London, Theodore Bikel, hingga Kronos Quartet.

Semua pengalaman ini terasa meresap ke dalam musiknya—bukan sebagai referensi eksplisit, tapi sebagai bagian dari bahasa yang ia gunakan.

Rekaman album ini dilakukan di Oktaven Audio Studio, New York, dengan produksi oleh Manfred Eicher—nama yang identik dengan estetika ECM: jernih, luas, dan penuh perhatian pada detail.

Pendekatan produksi ini cocok dengan musik Berkson yang memang bergantung pada nuansa halus dan interaksi antar-musisi.

Thee They Thy bukan album yang menawarkan kenyamanan instan. Ia lebih seperti ruang yang harus dimasuki pelan-pelan.

Di dalamnya, lagu bisa berubah bentuk, improvisasi bisa muncul tanpa peringatan, dan suara bisa berfungsi di luar perannya yang biasa.

Tapi justru di situ letak daya tariknya: ia tidak meminta pendengar untuk mengenali, melainkan untuk mendengarkan ulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *