Kabar Buruk dari Kawasan Teluk - Mabur.co

Kabar Buruk dari Kawasan Teluk

Kemarin, dunia dikejutkan dengan kabar buruk dari The New York Times (26/03) tentang 13 dari 17 pangkalan militer “digdaya” Amerika yang selama ini dianggap sebagai “perisai tak tertembus” di Teluk Arab, nyatanya remuk dan lumpuh total. Lalu, bagaimana sisanya?

Lihatlah pangkalan militer Amerika di Bahrain, Qatar, hingga Kuwait? Pangkalan Al Udeid yang megah dan markas besar Armada ke-5 yang gagah, kini kehilangan suaranya.

Terminal SATCOM yang biasanya menghubungkan perintah-perintah maut, kini juga membisu.

Radome yang melindungi mata-mata elektronik itu pecah, seperti kaca yang kehilangan pantulan cahaya.

Radar AN/TPY-2, yang diagungkan sebagai penjaga langit, tak kuasa menahan garis takdir yang dikirimkan melalui drone dan rudal Iran.

Ada juga warta, ketakutan yang amat mencekam dari para penghuni konsulat Amerika di Lahore dan Karachi yang kabur dan melarikan diri.

Ini bukan sekadar evakuasi fisik, melainkan sebuah pelarian batin dari kenyataan bahwa kekuatan materi memiliki batasnya.

Di Pangkalan Pangeran Sultan (Arab Saudi) dan instalasi di UEA, reruntuhan itu seolah berbisik pelan dan sayup-sayup kepada dunia: bahwa di atas langit masih ada langit, dan di atas kekuatan teknologi, mungkin ada doa-doa kaum tertindas yang barangkali sedang dijawab oleh rabbil alamin.

Sementara, di daerah Israel selatan. Rudal-rudal Iran dan Hizbullah terus membumi-hanguskan Kota Nahariya malam tadi, akibatnya 18 tank canggih Merkheva menjadi arang. Puluhan militer Israel dilaporkan menghadap Ilahi Rabbi.

Kini, mungkin kita diingatkan kembali pada hakikat diri yang debu. Seberapa pun canggihnya antena satelit menangkap sinyal di angkasa, ia tetaplah benda bumi yang bisa kembali menjadi puing.

Serangan Iran bukan hanya melumpuhkan infrastruktur, tapi meruntuhkan mitos tentang keabadian kekuasaan di atas tanah orang lain.

Di balik asap yang membumbung, ada sebuah cermin besar bagi kemanusiaan: bahwa kedamaian tak akan pernah bisa dibangun di atas fondasi kekerasan dan rudal yang tak henti-hentinya mengintai. Dan, hari ini Teluk Arab bercerita dalam bahasa luka, bahwa setiap keangkuhan teknologi pada akhirnya akan menemui titik sunyinya sendiri. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *