Di perairan Selat Hormuz yang masih dalam kendali penuh Iran, empat kapal Pertamina yang membawa sekitar delapan juta barel minyak akhirnya diizinkan lewat.
Bertahap dua, dua (27/3/2026). Ini bukan sekadar izin teknis pelayaran.
Di tengah blokade de facto dan eskalasi konflik yang memanas di bulan Maret 2026, sinyal hijau dari Teheran adalah sebuah anomali.
Kita bisa bayangkan, seandainya satu saja kapal tangker itu dihancurkan seperti kapal Thailand, atau kalau-kalau Iran “balas dendam” dan keempatnya itu dimusnahkan, apa yang terjadi pada “stok” energi (BBM) kita?
Delapan juta barel tidaklah sedikit. Tetapi, sebuah kemurahan hati datang dari pemimpin tertinggi Iran atau mungkin, sebuah teguran halus yang “dibalut” kebaikan.
Bagaimana mungkin, sebuah bangsa yang berkali-kali “disakiti” oleh kebijakan luar negeri Indonesia, era pemerintahan Prabowo — tetapi Iran seperti tak merasakannya.
Meski mungkin ia tidak akan pernah lupa, terutama penolakan mendadak dua kapal perang mereka, Mahdavi dan Shahid Abbas, pada Februari 2025 lalu —justru memberikan jalan bagi kebutuhan energi kita?
Kita sungguh, perlu menundukkan kepala sejenak, merenung, dan jujur pada sejarah yang baru saja diukir.
Februari 2025 itu, Bali menjadi saksi. The Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) seharusnya menjadi panggung persahabatan maritim.
Namun, apa yang terjadi? Iran, yang sudah mengirimkan kapal perang mereka sejauh ribuan mil, sebagai bentuk apresiasi pada hajatan kita, kemudian diperintahkan berbalik arah. Izin dicabut seketika di tengah pelayaran.
Kita tahu—dan dunia mencatat—bahwa penolakan itu adalah akibat tekanan keras dari Amerika Serikat, yang mengancam akan menarik sekutunya jika Iran ikut serta.
Pemerintah Prabowo Subianto, dalam dilema diplomatik, tampaknya memilih untuk “berhati-hati” dan mengikuti irama Washington, mengorbankan kepercayaan Teheran yang telah terjalin sejak 1950.
Bayangkan posisi mereka. Kapal sudah sejengkal dari perairan kita, namun diminta berbalik arah saat itu juga.
Dan, mereka dipaksa putar balik, tanpa jeda dan negosiasi lagi.
Luka itu itu terlalu dalam bukan? Mungkin kemudian meninggalkan kesan bahwa Indonesia tidak konsisten dalam bersahabat.
Tindakan itu bukan sekadar penolakan militer, melainkan penolakan persaudaraan dan diplomasi.
Kini, setahun berlalu. Saat kapal-kapal tanker kita—Pertamina Pride dan Gamsunoro—tertahan di kawasan penuh bahaya, Iran memegang kendali penuh.
Mereka berhak menutup mata, seperti kita menutup pintu saat mereka ingin bertamu dulu. Lalu meledakkan!
Namun, Iran memilih jalan yang “berbeda” Mereka mengizinkan kapal kita lewat. Padahal kita bergabung dengan BoP bersama Israel dan Amerika.
Di sinilah letak sentuhan kemanusiaan dan martabat diplomatik yang sesungguhnya.
Iran, dengan segala luka akibat penyitaan MT Arman 114 dan penolakan MNEK 2025, tidak membalas air tuba dengan air tuba.
Mereka menunjukkan bahwa dalam budaya Timur, martabat dan “keramahan” (hospitality) kadangkala lebih tinggi daripada balas dendam.
Ini adalah sebuah renungan bagi bangsa ini. Kemurahan hati Iran di Selat Hormuz adalah cermin yang memantulkan kembali wajah kebijakan luar negeri kita.
Apakah kita sudah benar-benar menerapkan “bebas aktif”, atau kita hanyalah pion di papan catur kekuasaan Barat?
Luka Iran mungkin tersembunyi di balik izin perlintasan kapal-kapal Pertamina.
Tapi, kemurahan hati mereka adalah pengingat, bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa besar tekanan negara adidaya, melainkan dari seberapa teguh kita memegang komitmen pada teman di masa sulit.
Almarhum Sayyid Ali Khamenei selalu mengingatkan bangsanya, apapun itu, sesama muslim bersaudara dan Indonesia adalah saudara, dan “islam” mestinya di atas negara.
Terima kasih, Iran. Di tengah dinginnya hubungan diplomatik, kemurahanmu adalah kehangatan yang mengharukan buat Indonesia. Wallahu’lam.



