Pertanyaan di atas itu seperti membentur tembok negeri Konoha.
Iran, sebuah negeri yang kerap dicap sebagai “musuh” Barat, di tengah kepungan embargo dan lilitan sanksi yang seharusnya lumpuh, tetapi masih tegak berdiri dan penuh martabat.
Ada sebuah kisah nyata yang menampar logika dunia modern.
Ini bukan dongeng seribu satu malam, namun ini adalah kesaksian, sebuah kesan dari mereka yang pernah mendekap langsung dan merasakan hangatnya keadilan sosial di Teheran.
Salah satu saksi mata itu datang dari Dian Wirengjurit, seorang diplomat kita (2011-2016) yang pernah menjadi Dubes Indonesia untuk Iran.
Mungkin, saking nyamannya, ia merasa lebih sering “pulang” ke sana daripada di tanah air sendiri.
Selain Pak Dian, ada kesakian lain datang dari sahabat dan senior saya, jurnalis harian Kompas untuk Timteng, Mustafa Abd Rahman, yang menulis buku sangat apik: Iran Pasca-Revolusi.
Buku ini membahas transformasi politik, sosial, dan budaya di Iran setelah jatuhnya Shah dan berdirinya Republik Islam tahun 1979.
Menjelaskan juga banyak kebijakan populisnya Ayatullah Khomeini.
Di mana pemerintah hampir seluruhnya menyediakan akses gratis dan lebih terjangkau untuk layanan dasar, pendidikan, dan kesehatan bagi masyarakat umum.
Jadi, apa yang membuat pemimpin Iran begitu dicintai? Pertanyaan itu masih terus menggema.
Konon, kata Pak Dian, jawabannya sederhana, mereka memanusiakan manusia. Bahkan, menurutnya andai iblis punya hati, juga akan mecintai jika diperlakukan seperti itu.
Begitu Ayatollah Khomeini mengambil alih kekuasaan dari Syah Reza, ia tidak sibuk berpidato tentang “investasi asing” atau “stabilitas makro” sementara rakyatnya megap-megap.
Dan, yang pertama ia lakukan adalah memeluk rakyatnya dengan kasih sayang berupa kebijakan: Listrik gratis, air gratis, pendidikan gratis, berobat gratis.
Bayangkan, BBM yang di belahan bumi lain menjadi alasan rakyat demo dan tertembak, di sana harganya dipatok sekitar 500 rupiah saja per liter.
Hampir gratis bukan? Khomeini tahu, kebutuhan dasar bukan komoditas dagang. Jika pun ada harganya, itu hanya tanda agar rakyat berhemat, bukan untuk mencekik. Peraturan itu berlaku serta-merta, tanpa nunggu revisi undang-undang yang bertele-tele.
Jadi apa alasan rakyat begitu mencintainya? Pertanyaan ini bisa dibalik menjadi: Apa alasan rakyat untuk membencinya? Di saat negara lain—sebut saja Konoha—pemimpinnya gemar “menepal-kan” kebijakan, alias membuat rakyat melarat di negara sendiri.
Listrik naik, air pam bayar mahal, SPP mencekik, BBM melampaui batas? Minyak goreng dan ges elpiji sering menghilang.
Sudah begitu, ada pula kebijakan aneh: orang miskin kini terancam bayar BPJS tiap bulan, tapi kalau sakit, penyakit tertentu tak ditanggung.
Kecelakaan berat? Pasien cuci darah dan lainnya berjuang sendiri.
Di Iran, konon, seluruh penyakit ditanggung. Kurap, panu, sampai pikun—yang belakangan ini sering diidap oleh bekas pemimpin—semua diobati.
Pemimpin Iran tidak membiarkan rakyatnya mati kurus di atas tanah yang gersang. Keteladanan adalah kunci. Pemimpin Iran tidak “omon-omon”—tidak sekadar berjanji muluk-muluk di depan mikrofon.
Ketika berjanji memberlakukan UU perampasan aset, itu diberlakukan. Saat janji lapangan kerja, itu tersedia, bahkan berlebih.
Mereka tidak sibuk menjadi herois dengan ingin memberi asupan gizi seluruh anak Indonesia, dengan mengeruk lebih dalam APBN, tapi anehnya kebijakan yang baru setengah jalan itu hampir tiap hari dikomplain rakyatnya sendiri.
Pemimpin Iran tidak perlu itu, yang mereka pikirkan adalah rakyat, kesejahteraan rakyat, dan kedaularan rakyat. Di sini, kita tertegun.
Mengapa di tanah yang kerontang, terbentang luas gurun dan padang pasir, keadilan bisa tumbuh rindang? Sementara di tanah yang hijau royo-royo, keadilan hanya menjadi barang dagangan jelang pemilihan?
Iran mengajarkan kita, bahwa kecintaan tulus rakyat tidak bisa dibeli dengan pencitraan sesaat, melainkan dengan kepastian jawaban yang berimbas pada kehidupan nyata.
Bahwa pemimpin sejati bukan yang paling nyaring suaranya, melainkan yang paling pertama hadir saat rakyatnya butuh air, butuh cahaya, dan butuh harapan.
Mungkin, kisah Iran adalah sebuah cermin retak bagi kita.
Apakah kita akan terus memuji cermin yang pecah, atau berani menuntut wajah pemimpin yang benar-benar memanusiakan manusia? Dan, sudahkah kita benar-benar mencintai pemimpin Konoha?
Wallahu’alam.



