Kesederhanaan di Tengah Kuasa - Mabur.co

Kesederhanaan di Tengah Kuasa

Bayangkan ketika garis tangan kita berada dalam pusaran kekuasaan. Bisakah kita hidup dengan amat sederhana?

Tanpa punya rumah pribadi, mobil super, deposito dan barang brandid?

Nampaknya ini seperti dongeng. Namun ketika kita membuka lembar demi lembar buku “Syam al-Magrib” yang ditulis Ridha Hakim, kita segara tahu, memang ada riwayat seperti itu dari almarhum Ayatullah Ali Khamenei.

Ali Khamenei muda, bukan saja pernah hidup lama di lingkaran istana, melainkan pernah menjadi wakil menteri pertahanan, bahkan pernah menjabat Presiden Iran dua periode (1981–1989) sebelum akhirnya menjadi Pemimpin Tertinggi.

Dan, bisa dibayangkan seumpama kita itu adalah Ali Khamenaei. Memimpin bangsa yang kaya akan minyak dan uranium, bisakah kita hidup dengan amat sederhana?

Tanpa punya simpanan kekayaan jumbo layaknya pejabat.

Bahkan, ia mewariskan sesuatu yang lebih berat dari emas kepada empat putranya—Mustafa, Mojtaba, Mas’ud, dan Meisam—yakni kesederhanaan dan ketidakpunyaan yang sama. Bukan, karena mereka hidup mengembara layaknya sang sufi, yang menjauhi dunia, tetapi ia hidup di lingkaran istana dengan tingkat integritas tinggi.

Hingga hari ini, mereka adalah para pengontrak rumah. Mereka menghuni apartemen sewa, mengantre di pasar layaknya rakyat jelata, dan menjauh dari lampu sorot bisnis yang biasanya mengerumuni anak-anak penguasa.

Padahal, kita selalu membayangkan puncak kekuasaan sebagai sebuah menara gading yang dipenuhi kilau permata dan tumpukan upeti. Namun, di tangan keluarga Ali Khamenei, kekuasaan justru mewujud dalam bentuk yang paling paradoks: kesederhanaan yang hampir-hampir tak masuk akal bagi nalar modern kita. Satu keluarga itu terkena bom di rumah kontrakan sederhana.

Di sini, kita melihat cara ia memandang kekuasaan: bahwa politik seharusnya adalah sebuah “peristiwa” etis, bukan sekadar urusan bagi-bagi kursi. Juga, melihat dimana jabatan tak lebih dari amanah dan ujian berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat dan Tuhan, bukan privilese untuk memperkaya tujuh turunan.

Membaca biografi Ali Khamenei dan keluarganya ini mungkin terasa ganjil, sekaligus sangat kontras jika kita menoleh ke tanah air. Di Indonesia, kita sering menyaksikan paradoks yang menyesakkan dada. Saat rakyat masih antri panjang untuk membeli minyak, gas elpiji, bergelut dengan harga beras, media sosial kita justru riuh dengan pameran kemewahan anak-cucu-cicit pejabat.

Aset tanah ribuah hektar, deretan mobil mewah, lengkap dengan para pengawalnya yang kadang arogan di tengah kemacetan lalu lintas. Gemerlap aset di bank dalam dan luar negeri, tas seharga lima puluh rumah rakyat jelata, hingga perjalanan jet pribadi seolah menjadi “hak lahir” bagi mereka yang orang tuanya memegang stempel basah kekuasaan.

Ada semacam ketakutan kolektif di kalangan elit kita: takut menjadi miskin, takut tidak dihormati jika tidak tampil mentereng. Padahal, kehormatan sejati tidak terletak pada apa yang kita tumpuk, melainkan pada apa yang mampu kita berikan. Dan, Khamenei menunjukkan bahwa integritas adalah sebuah “jalan sunyi.”

Bahkan, ia melarang keluarganya mengambil keuntungan dari kuasa dan jabatannya, dari relasi dan jaringannya, dari fasilitas kenegaraan yang lumrah diambil karena hak sebagai keluarga pejabat publik, karena ia tahu, sekali pintu privilese dibuka, mungkin akan runtuh bangunan keadilan.

Kesederhanaan putra-putra Khamenei adalah sebuah kritik tajam—sebuah tamparan bagi mereka yang menganggap jabatan adalah alat “aji mumpung.” Mereka membuktikan bahwa menjadi besar tidak harus dengan menguasai tanah berhektar-hektar, melainkan dengan menjaga hati agar tetap membumi.

Dari biografi ini, mungkin kita perlu belajar di tengah panassnya ambisi, kesederhanaan ternyata adalah suara yang nyaring. Kita juga butuh belajar kembali tentang hidup sederhana dengan memaknai esensi kata bahagia, rahmah dan amanah. Dan, mungkin perlu diingat, sejarah tidak akan mencatat merk jam tangan yang dipakai seorang anak pejabat, melainkan seberapa bersih tangan ayahnya dari hak-hak rakyat. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *