Oleh: Wahjudi Djaja
Mengapa di dunia ini. Selalu menertawai. Hidupku yang hina ini. Berteman dengan seorang gadis.
Lagu lama grup legendaris The Mercy’s era 1970-an ini memang tak lekang oleh waktu. Mengisahkan seorang pramuria yang harus hidup dan menghidupi keluarganya tetapi masyarakat memberinya stigma yang selalu negatif. Dipopulerkan Boomerang (1998) dalam irama rock menjadikan napas lagu ini semakin panjang.
Sebuah lagu sederhana tetapi kaya makna, tentang hidup, cinta, pengorbanan, status sosial, mentalitas hidup, perjuangan, pilihan hidup, dan risiko yang harus dihadapi. Dalam masyarakat paternalistik dan hipokrit, labelisasi dan stigmatisasi bisa dengan mudah dilekatkan pada perempuan.
Satu dari enam ciri-ciri orang Indonesia, menurut Mochtar Lubis, adalah munafik. Merasa paling suci, mulut berbusa-busa jualan ayat, berjubah bak pemimpin agama, bisa dengan mudah menilai orang lain seenak jidatnya sendiri. Lupa bahwa dia pun tak lebih baik dari orang yang dihina. Suka menjilat, tilep uang haram, berlindung di bawah ketiak penguasa, tapi merasa sebagai pembawa pintu surga.
Jawa mempunyai idiom khas, tambuh. Terlibat, melakukan, menikmati, menjalankan, tetapi pura-pura tidak tahu. Tiap kali melihat perempuan cantik selalu ngiler, thuk mis, tetapi menjadi orang yang paling lantang menghina dan merendahkan pramuria (PSK). Apalagi yang bersangkutan tengah dihakimi massa atau, kini, sedang viral. Itu tambuh, hipokrit, dan munafik.
Khairun Nisya. Nama yang indah. Ada doa yang diselipkan orang tua padanya saat dia lahir. Wanita mulia, wanita baik. Terlihat betapa sayang orang tua pada buah hatinya hingga mengharapkan anaknya menjadi wanita idaman dalam Islam. Dia memang cantik, putih, semampai, dan halus tutur katanya. Sama seperti adik kelasku SMA di Klaten yang kemudian menjadi pramugari. Gaya hidup sebagai seorang pramugari sudah terlihat sejak sekolah. Jalannya terukur, senyumnya manis, jam tangan berkelas, pakaian selalu rapi, dan potongan rambut sebahu yang indah.
Nisya hidup di zaman yang lebih maju dan bebas. Dunia penerbangan kita tak semuanya steril dari skandal. Seorang eks Dirut Garuda divonis lima tahun penjara karena korupsi saat pengadaan pesawat. Dari dalam kabin, pernah kita dengar bau tak sedap akibat skandal perselingkuhan seorang pilot maskapai penerbangan swasta dengan pramugari. Belum lagi kasus pelecehan seksual yang menimpa para pramugari. Ada juga kisah pramugari Santi Anggraeni yang gugur dalam pendaratan darurat pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA 421 di Sungai Bengawan, Solo (16/1/2002).
Nisya ingin menjadi pramugari. Nampaknya dia sudah mempersiapkan segalanya. Fisik terawat dan terjaga. Tabungan disiapkan. Dan niatnya mulia, membahagiakan kedua orang tua. Doa dan usaha yang selaras dengan makna namanya. Ikut mendaftar, mengikuti seleksi, dan tak hanya gagal, dia tertipu oleh orang yang menjanjikannya menjadi pramugari.
Ia ingin pulang, bisa jadi, ingin memeluk ibunya agar merasakan kehangatan seperti saat masih belia. Menangis dalam pelukan ibu, lalu dibelai mesra, agar hilang segala rasa duka derita. Ia ingin sekali melakukan itu. Tetapi Nisya tak mau menyakiti kedua orang tua yang amat sayang dan mencintainya. Aku boleh gagal kali ini, tetapi masih bisa aku tebus di kesempatan berikutnya. Bahkan, demi menggaransi tekadnya, Nisya rela berdusta. Membeli baju uniform pramugari dan hendak pulang sesaat menemui kedua orang tuanya, kemudian pamit ke kota untuk mencoba kembali mendaftar jadi pramugari.
Tapi dia tertangkap. Viral. Dan dia, bisa jadi, menyerah. Rela dan sadar kita mem-bully Nisya? Tak bisakah merasakan apa yang dia rasakan? Tak mampukah kita membayangkan apa yang berkecamuk di dalam pikirannya? Pada posisi mana negara, maskapai atau masyarakat pernah dirugikan oleh Nisya? Tak terbersit iba dan kasihankah kita melihat dan merasakan niat Nisya untuk sebuah kebaikan, sekecil apapun itu?
Nisya, saya yakin, tak akan menyerah. Dian akan menapaki kesuksesan, entah di bidang apa. Niat, tekad dan keinginannya sangat kuat. Naluri dan kreativitasnya di atas rata-rata perempuan sebayanya. Bukankah kesuksesan itu adalah berani bangkit berdiri tegak setelah jatuh terjerembab? Kalaupun ini bukan quote, setidaknya doa kita pada Nisya. Sama-sama mengeluarkan energi, bukankah lebih baik dan bijak mendoakan dibanding menghakimi dengan kata penipu, gadungan, murahan, etc?
Get up, Nisya! Cobalah menyanyikan lagu The Mercy’s:
Walaupun hinaan ini
Ditujukan pada diriku
Namun ku selalu tersenyum
Karna cintaku suci padanya
Semua itu tiada arti bagiku
Kuanggap sebagai penguji imanku
Kiranya Tuhan jadi saksi hidupku
Betapa sucinya jalinan cintaku
Penulis adalah Budayawan Sleman



