Merawat Harapan - Mabur.co

Merawat Harapan

Saudaraku, ada banyak alasan yang membuat kita pantas kecewa dengan perkembangan kehidupan bangsa ini.

Peluang kebebasan yang diberikan demokrasi belum mampu menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih berdaya, lebih unggul.

Mediokritas mewarnai kepemimpinan di berbagai bidang.

Ketidakateraturan dinormalkan, “aji mumpung” dibudayakan, dan jalan pintas menjadi jalan hidup yang memperlancar korupsi dan pengurasan sumberdaya.

Akar dari semua ini adalah kegemaran pada apa yang disebut Frank Furedi sebagai pemujaan terhadap kedangkalan.

Kita terpesona pada yang praktis dan material, hingga pendidikan pun kehilangan nyala batinnya.

Mereka yang menyalakan api pengetahuan kerap dianggap asing—terlalu tinggi, terlalu jauh dari bumi.

Kedalaman dihindari, kedangkalan dirayakan. Yang sungguh-sungguh tersisih, sementara yang menerabas jalan pintas merajalela.

Kita pun terjebak pada gemerlap luar. Proses dipersingkat, hasil dipuja.

Aturan dilenturkan, lembaga kehilangan wibawa. Banyak gerak tanpa arah, perubahan tanpa makna—seakan berjalan jauh, padahal hanya berputar di tempat.

Yang retak sesungguhnya bukan sekadar sistem, melainkan batin kita.

Seperti telah diingatkan Wiranatakoesoema, kecerdasan tanpa latihan jiwa tak cukup membentuk manusia yang bertanggung jawab.

Tanpa kekuatan batin, kita kehilangan kompas untuk mengenali kebenaran.

Betapa pun, kita tak boleh tenggelam dalam pesimisme. Pikiran yang gelap hanya akan melumpuhkan daya hidup.

Harapan harus dijaga dengan cara berpikir yang jernih dan sikap yang optimistis—bukan yang semu, melainkan yang berakar pada kerja dan kesabaran dalam proses mewaktu.

Sebab masa depan tidak datang dengan sendirinya. Ia tumbuh dari apa yang kita tanam hari ini.

Setiap kebaikan kecil, setiap kesungguhan yang sunyi, adalah benih yang kelak menentukan arah waktu.

Selama waktu masih ada, rebutlah harapan dengan kesungguhan.

Rawatlah kebaikan, meski kecil dan tak selalu terlihat.

Karena seperti kata Leo Tolstoy, ”Dua petarung yang paling kuat adalah kesabaran dan penguasaan waktu.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *