Trump, dalam wawancaranya dengan Financial Times—kembali blak-blakan.
Ia tak butuh menutupi “tujuannya” dengan metafora. Kenapa menyerang Iran?
Baginya, Iran tak lebih dari sebidang tanah minyak yang harus dikuasai, persis seperti skenario Venezuela: penjualan minyak diatur oleh Washington, dengan Pulau Kharg sebagai sasaran empuk.
Jadi perang ini, bukan lagi soal kegagalan diplomasi antarbangsa, apalagi atas nama “keselamatan” dunia dengan tatanan baru yang antiteroris dan nuklir sebagaimana yang disampaikan Trump, melainkan invasi gaya baru yang disamarkan dalam istilah “kepatuhan” dan “sanksi”.
Kita sering dituduh “kurang pintar” jika tidak melihat konspirasi global.
Tapi dalam kasus ini, rasanya tidak perlu menjadi pintar untuk bisa memahami bahwa Timur Tengah bukan sekadar panggung konflik teologis.
Sunni-Syiah hanyalah bumbu-bumbu, bahan bakar sampingan yang memantik emosi, sementara mesin utamanya adalah kerakusan geopolitik.
Anehnya tidak sedikit dari kita, masih ada yang “terperangkap” dalam perdebatan “sempit” Sunni-Syiah, sementara AS dan Israel terang-terangan merancang peta baru?
Bukankah ini, seperti orang yang bertengkar bagaimana cara berwudu yang afdol dan sah, dengan air mengalir atau cukup dibasuh? Sementara tempat wudunya sedang dihancurkan.
Seringkali sentimen teologis diseret masuk oleh mereka, dikemas dalam narasi perdamaian, toleransi dan hak asasi manusia, padahal itu hanya untuk menutupi niat sesungguhnya: Greater Israel.
Sebuah konsep ekspansionis yang merangkul wilayah-wilayah dari Nil hingga Efrat, menjadikan tanah Palestina, Lebanon, Suriah, hingga sebagian Yordania sebagai bidikan wilayah yang harus jatuh satu per satu.
Kekacauan di Timur Tengah sejak puluhan tahun lalu bukan kebetulan. Ia didesain.
Narasi “ancaman senjata nuklir” atau tuduhan “teroris” dilemparkan seperti sihir, menutupi fakta siapa yang sebenarnya memegang kendali senjata dan siapa yang sebenarnya teroris dan telah memerintahkan perampasan.
Kini pertanyaannya, kapan Indonesia keluar dari Board of Peace yang semu ini?
Nampaknya sudah terlalu lama para pemangku kebijakan luar negeri kita gamang.
Padahal dewan perdamaian yang dibentuk itu, sekarang sudah terbukti hanya menjadi panggung sandiwara, di mana perdamaian hanya kata muluk-muluk, sementara di lapangan, perdamaian itu diinjak-injak oleh sepatu bot mereka yang merasa “paling berhak”.
Bahkan, laporan terbaru, kontingen Indonesia di UNIFIL Lebanon, baru saja diserang Israel, satu anggota TNI gugur dan lainnya luka-luka.
Jadi, perlawanan Iran adalah hak membela diri, dan Iran adalah pihak yang selama ini sudah menjadi target sasaran AS dan Israel selama hampir lima dasawarsa.
Mereka berkolaborasi dengan rezim-rezim Arab. Padahal pada diktum PBB, siapa pun agresor yang menyerang sebuah negara, jangankan atas persetujuannya, bahkan tanpa persetujuan pemerintah dan rakyat mereka sendiri seperti yang dilakukan Trump adalah tindakan ilegal dan melanggar hukum humaniter internasional.
Saatnya kita sadar dan kritis dan jangan terlalu “lugu” di tengah kepintaran teknologi informasi.
Kritis pada jargon HAM yang hanya berlaku untuk mereka, tapi hangus bagi rakyat yang tanahnya dirampas.
Dan, menjadi pintar bukan hanya soal statistik, tapi keberanian melihat kebenaran yang telanjang: bahwa kekacauan, dan ambisi menguasai minyak, serta wilayah adalah biang dari petaka yang hingga hari ini tak kunjung usai di Timur Tengah. Wallahu’alam.



