Adalah homo sapiens berjuluk penyair atau sastrawan yang biasanya menyandarkan proses kreatif berkarya dengan dikaitkan pada momen tertentu. Misalnya terkait dengan momen Nisfu Syaban yang dalam agama Islam diyakini sebagai penanda buku catatan amal yang digunakan segera diganti dengan yang baru.
Selain itu pula, diyakini Allah juga membuka pintu ampunan bagi seluruh homo sapiens kecuali bagi homo sapiens yang tetap memanjakan diri dalam gelimang dosa besar, misalnya syirik dan permusuhan.
Terkait dengan momentum Nisfu Syaban juga, saya teringat sahabat lama penyair Amien Wangsitalaja yang punya dua buku kumpulan puisi monumental yaitu Kitab Rajam (2001) dan Perawan Mencuri Tuhan (2004).
Saya sangat suka puisi-puisi Amien Wangsitalaja yang lahir dengan semangat dekonstruktif. Meskipun berbicara tentang religiusitas, puisi-puisi Amien Wangsitalaja tidak mendudukkan diri sebagai pengisah yang moralis. Puisi-puisinya justru selalu hadir menimbang moralitas yang dalam banyak hal selalu ditutup-tutupi.
Demikianlah, begitu media kesayangan Anda mabur.co ini memberi tugas pada saya untuk menulis tema Nisfu Syaban, maka secepat kedipan mata saya menghubungi penyair Amien Wangsitalaja untuk mengirim puisi tentang Nisfu Syaban. Syukurlah, secepat buraq juga melalui pesan WA ia mengirimkan puisi tentang Nisfu Syaban yang memang langsung menyergap selera saya. Sangat saya sukai.
Inilah puisi tentang Nisfu Syaban itu yang kembali menyegarkan ingatan saya pada puisi-puisi sufistik yang pernah melanda dunia sastra Indonesia, sebagaimana yang pernah terdokumentasi di majalah sastra Horison.
MENGADU
murid mengadukan teman
kepada kiainya
“kiai, teman saya bela-belain puasa
nishfu sya’ban
tapi ia justru tidak melengkapi
puasa ramadhan.”
kiai tersenyum
diam-diam air matanya titik
entah siapa yang membuat sedih
mungkin si murid
mungkin teman si murid
mungkin dirinya sendiri
yang tidak mampu berbuat banyak
2026
Kalau boleh ngerumpi estetika, maka diksi manakah yang saya sukai dari puisi itu? Ternyata bukan soal diksinya, namun tentu saja pesan moral secara keseluruhan. Bahwa sosok kiai di situ juga berhadapan dengan buah simalakama.
Yang menarik karena ada perspektif bahwa diri kiai itu sendiri yang bisa jadi juga bersalah. Kiai tidak menyalahkan begitu saja si murid namun justru hadir sebagai sosok tak anti-kritik.
Di situlah nilai dekonstruktif dalam puisi bekerja meskipun masih berupa narasi puitik yang lumrah. Namun cukup mengena juga di batin pembaca, setidaknya saya, sebagai puisi yang menggelitik.
Puisi berjudul Mengadu yang sangat spontan itu saya sukai, karena sebaiknya karya seni memang dibuat spontan. Bukan merupakan karya yang direvisi berkali-kali.
Meskipun itu juga boleh alias tidak ada salahnya. Namun dalam spontanitas itulah pembaca menjadi tahu arti konsep dan kegigihan membangun estetika sesuai dengan konsep itu sendiri.
Kita tahu, gaya puisi Amien Wangsitalaja memang banyak yang pendek dan singkat begitu, namun tetap saja selektif pilihan diksinya dan pekat pesan moralnya.
Bagi Anda yang merasa banyak dosa, seperti halnya saya, boleh jadi tersindir dengan keberadaan puisi itu. Namun bisa jadi juga malah terhibur. Saya termasuk yang merasakan keduanya, tersindir dan terhibur. Keduanya memang sama-sama menggembirakan saya.
Lebih menggembirakan lagi kalau kita mau membaca puisi-puisi Amien Wangsitalaja lainnya seperti dalam kumpulan puisi Kitab Rajam itu. Bagaikan sebuah kitab yang merajam Amien Wangsitalaja. Hahaha.
Tidak perlu bermuram durja saat membaca puisi itu dan mungkin akan lebih baik jika saya maupun Anda segera bergegas mengambil cermin lalu melihat wajah. Siapakah diri kita sebenarnya sehingga dalam peradaban homo sapiens yang panjang ini harus melalui reinkarnasi dan melewati bulan Nisfu Syaban? ***



