Di tengah gema tasbih, tahmid, takbir, tahlil yang mulai menderu di surau-surau dan di masid-masjid, umat Islam di seluruh penjuru Nusantara kini tengah memasuki fase pertengahan ibadah puasa Ramadan.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sebuah pertanyaan klasik kembali menyeruak di ruang publik: “Kapan tepatnya Idulfitri akan dirayakan?”
Perbedaan penetapan awal puasa (1 Ramadan) dan hari raya (1 Syawal) seolah menjadi dialektika tahunan.
Di satu sisi, pemerintah menggunakan metode Imkanur Rukyat, sementara organisasi keagamaan lain menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal.
Namun, di tengah diskursus modern ini, terdapat sebuah sistem perhitungan kuno yang masih kokoh berdiri, sebuah maha karya intelektual dari tanah Jawa: Kalender Sultan Agungan.
Sultan Agung: Sang Arsitek Harmoni
Sejarah mencatat bahwa perbedaan bukanlah hal baru.
Pada era Kesultanan Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo menyadari bahwa ketimpangan antara penanggalan Saka (Hindu-Jawa yang berbasis matahari) dan penanggalan Hijriah (Islam yang berbasis bulan) kerap menimbulkan kebingungan dalam ritual keagamaan dan administrasi negara.
Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka), Sultan Agung mengambil langkah revolusioner.
Ia tidak menghapus penanggalan Saka, melainkan menyelaraskannya dengan sistem Lunar (Qamariyah) namun tetap mempertahankan elemen-elemen Solar (Syamsiyah) serta struktur sosial Jawa yang sudah ada.
Inilah yang kita kenal sebagai Kalender Jawa. Sebuah jembatan yang menghubungkan syariat Islam dengan tradisi luhur lokal.
Kosmologi Jawa: Antara Sakala dan Niskala
Bagi masyarakat Jawa, waktu bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas. Penentuan 1 Syawal adalah perjalanan spiritual untuk menyelaraskan diri dengan alam semesta.
Dalam kosmologi Jawa, waktu terbagi menjadi dua dimensi: Sakala (temporal/duniawi) dan Niskala (non-temporal/spiritual).
Leluhur Jawa menjelaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat sakala harus selalu berorientasi pada yang niskala.
Waktu di dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan keabadian berada di ranah niskala.
Itulah sebabnya, doa-doa orang Jawa sering ditutup dengan kalimat “Hong Bhawana Langgeng“, sebuah harapan agar keselarasan alam semesta tetap abadi.
Menentukan hari raya berarti menentukan titik temu antara usaha manusia (hitung-hitungan) dengan ketetapan Tuhan.
Rumus Matematika Langit: Kurup, Windu
Bagaimana orang Jawa menentukan waktu secara presisi tanpa alat canggih? Jawabannya terletak pada sistem matematika yang disebut Kurup.
Kalender Jawa mengenal siklus Windu (delapan tahun). Setiap tahun dalam satu Windu memiliki nama huruf tertentu: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.
Masing-masing tahun memiliki karakteristik jumlah hari yang berbeda (354 atau 355 hari).
Untuk menentukan awal bulan atau tahun baru, orang Jawa menggunakan rumus Asapon (Alip-Selasa-Pon) tergantung pada pergeseran siklus 120 tahun sekali yang disebut Khamsiah.
Dalam menentukan 1 Syawal, para tetua adat atau abdi dalem juru kunci akan menghitung berdasarkan Neptu (nilai angka) hari dan pasaran (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon).
Kombinasi antara siklus mingguan (7 hari) dan siklus pancawara (5 hari) menghasilkan siklus 35 hari yang disebut Selapan.
Ketelitian ini memastikan bahwa perayaan besar tidak hanya tepat secara astronomis, tetapi juga selaras secara energi alam menurut kepercayaan setempat.
Adapun cara menentukan awal tahun dan 1 Sawal tahun 1959 J adalah sebagai berikut:
Berdasarkan Kalender Aboge maka 1 Sawal jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026, sementara berdasarkan Kalender Asapon jatuh pada Jum’at Legi tanggal 20 Maret 2026.
(Cara sederhananya: hari awal tahun baru, sama dengan hari 1 sawal, sedang pasarannya jika pasaran tahun barunya Pon, maka pasaran 1 sawalnya adalah wage).
Manfaat dan Relevansi di Dunia Modern
Mungkin muncul pertanyaan: di era GPS dan aplikasi astronomi, apa gunanya metode kuno ini? Metode ini adalah bukti bahwa Nusantara memiliki peradaban sains yang maju jauh sebelum intervensi teknologi Barat.
Menggunakan kalender Jawa adalah bentuk penghormatan terhadap jati diri atau wujud dari ketahanan budaya dan identitas.
Meskipun berbasis bulan untuk ritual, kalender Jawa tetap menyimpan memori Pranata Mangsa (ketentuan musim).
Ini membantu petani memahami kapan tanah harus diistirahatkan dan kapan benih harus disemai, sebuah kearifan yang sangat dibutuhkan di tengah isu perubahan iklim.
Perbedaan penetapan hari raya yang dihitung dengan metode Jawa biasanya diterima dengan sikap tepa selira.
Bagi mereka, perbedaan adalah sunnatullah. Jika perhitungan internal menghasilkan hari yang berbeda dengan pemerintah, mereka tetap melaksanakannya dengan khidmat tanpa harus menciptakan konflik horizontal.
Implementasi Modern: Lebih dari Sekadar Ramalan
Di dunia modern yang serba cepat, implementasi kalender Jawa merambah ke aspek psikologi dan manajemen risiko.
Banyak pengusaha atau keluarga di Jawa masih menggunakan Primbon (berbasis penanggalan Sultan Agungan) untuk menentukan waktu terbaik memulai usaha atau membangun rumah.
Bukan sebagai klenik, melainkan sebagai bentuk manajemen waktu preventif dan upaya mencari momentum psikologis yang tepat (ngupaya hayuning bawana).
Secara teknis, digitalisasi kalender Jawa kini telah hadir dalam bentuk aplikasi, memudahkan generasi Z untuk tetap terhubung dengan akar budayanya.
Penentuan Idulfitri pun menjadi momen edukasi, di mana anak muda diajak melihat kembali bagaimana kakek-nenek mereka menghitung bulan dengan melihat bayangan matahari atau posisi bintang.
Menuju Idulfitri yang Fitrah
Sesaat lagi, gema takbir akan berkumandang. Baik mereka yang mengikuti rukyatul hilal, hisab, maupun perhitungan kalender Sultan Agungan, semuanya bermuara pada satu titik: kemenangan melawan hawa nafsu.
Bagi orang Jawa, Idulfitri adalah momen untuk kembali ke titik nol, kembali ke niskala. Dengan memahami waktu, kita memahami bahwa hidup adalah perputaran.
Perbedaan hari raya tidaklah mereduksi nilai ibadah, justru ia memperkaya khazanah intelektual bangsa.
Sebab, pada akhirnya, yang abadi bukanlah kapan kita merayakannya, melainkan seberapa dalam makna kesucian yang kita bawa kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. (*)



