Di antara perang Iran-Israel (AS) yang berlangsung hingga hari 12 ini, ada satu bangsa yang terselip di sana, yaitu Palestina.
Mata dunia paham, Iran adalah bangsa yang paling total membela Palestina, sementara Israel dan AS sebaliknya.
Perang di antara meraka tak bisa dipisahkan dari garis lurus Palestina. Lalu bagaimana relasi Palestina dengan bangsa kita?
Dalam lipatan sejarah, ada sebuah ta’aruf ruhani antara dua bangsa yang dipisahkan oleh ribuan mil samudra, namun di masa lalu disatukan oleh semangat dan detak jantung yang sama, yaitu merdeka dari kolonialisme.
Relasi Palestina dan Indonesia bukanlah sekadar urusan hubungan diplomatik dan politik luar negeri, melainkan mungkin upaya kembali melihat catatan harian tentang hutang budi, kesetiaan santri, dan sebuah “proklamasi” yang telah bergema di langit Yerusalem jauh sebelum teksnya diketik di Jakarta.
Jika kita membaca buku misalnya Wadli’u Labinati Istiqlali Indonesia yang ditulis Sayyid Asad Syihab. Di sana, kita menemukan sebuah fragmen yang menggetarkan: hubungan antara Mufti Besar Muhammad Amin al-Husseini dan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.
Di bawah naungan langit Hijaz, saat angin gurun intelektual membawa aroma pembebasan. Ada sebuah perjumpaan yang melampaui batas geografis.
Syaikh Amin al-Husseini, sang penjaga Yerusalem, adalah murid yang menimba kearifan dari Mbah Hasyim.
Hubungan ini bukan sekadar relasi guru-murid dengan sanad dan di atas meja kayu atau sajadah, melainkan jalinan suluk dari salik perjuangan.
Sang Mufti membawa spirit pesantren ke dalam perlawanan Palestina, sementara Mbah Hasyim menyisipkan doa bagi Al-Aqsa dalam setiap sujud panjangnya di Tebuireng.
Itulah mengapa, pada 6 September 1944, melalui gelombang Radio Berlin, suara Mufti Amin membahana. Ia tidak hanya menyapa umat Islam, ia sedang memanggil “saudara tua”-nya.
Sebelum bendera Merah Putih benar-benar tegak di Pegangsaan Timur, Palestina telah lebih dulu membentangkan pengakuan de facto.
Tentu saja itu adalah tindakan yang mengharukan sekaligus politis: sebuah bangsa yang sedang dirundung lara pendudukan, justru menjadi yang pertama yang mengakui dan bicara di atas mimbar dunia, sembari menyalakan lilin bagi kemerdekaan orang lain.
Selain Syaikh Amin, ada juga pengorbanan besar yang sunyi, yaitu Muhammad Ali Taher, saudagar Palestina yang namanya mungkin jarang masuk dalam buku teks sekolah kita. Taher adalah bukti bahwa solidaritas tidak mengenal kalkulasi untung-rugi. Ia menyerahkan seluruh simpanannya untuk mendukung biaya perjuangan Indonesia. Baginya, kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan martabat kemanusiaan.
Melalui Taher, kita diigatkan bahwa kemerdekaan suatu bangsa, ternyata tidak hadir sendirian, tetapi selalu membutuhkan “pihak lain” untuk mengukuhkannya. Dan, Indonesia merdekaka, berkat juga kebaikan orang Palestina dan doa-doa dari Gaza, serta lobi-lobi dari Yerusalem.
Diplomasi epik tersebut kemudian diteruskan oleh KH Agus Salim, sang “The Grand Old Man” yang lidahnya setajam pedang namun hatinya selembut sutra. Salim berinteraksi dengan para tokoh Palestina bukan sebagai pengemis dukungan, melainkan sebagai kawan sejawat dalam barisan perjuangan melawan kolonialisme.
Puncaknya, saat Mufti Amin menginjakkan kaki di Yogyakarta pada tahun 1955, memberikan ceramah di Masjid Besar, seolah-olah lingkaran sejarah itu menutup dengan sempurna: Sang Murid kembali menemui tanah air Sang Guru untuk merayakan kemenangan.
Kini, saat kita menyaksikan langit Gaza yang robek oleh mesiu, kita seolah melihat cermin masa lalu. Indonesia yang pernah menerima kebaikan dari tokoh-tokoh Gaza apakah akan terus berdiri tegak di forum internasional untuk two-state solution? Dan apakah BoP adalah bagian dari sekenario bangsa besar ni membayar “hutang peradaban”nya? Atau sebaliknya?
Palestina adalah bagian dari nasab politik dan spiritual Indonesia. Jika dulu mereka mendorong Mesir untuk mengakui kedaulatan kita pada 1947, maka hari ini adalah kewajiban kita untuk menjadi suara bagi mereka yang dibungkam. Sayangnya ketika Indonesia bergabung dengan BoP tak ada nama Palestina sebagai amggotanya.
Antara Tebuireng dan Al-Aqsa, kita diingatkan ada keberpihakan pada ketidak adilan, dan juga garis cahaya yang tak pernah putus. Sebuah silsilah perlawanan yang dimulai dari jabat tangan antara Mbah Hasyim dan Mufti Amin, yang harus kita rawat hingga fajar kemerdekaan Palestina benar-benar menyapa Yerusalem, sebagaimana mereka pernah menyambut fajar kita di tahun 1945. Semoga! ***



