Dunia saat ini sedang menahan napas. Jika kita membaca tanda-tanda zaman melalui kacamata kearifan lokal, khususnya Jangka Jayabhaya, kita akan menyadari bahwa kegelisahan global ini bukanlah kebetulan. Kita sedang berada di titik nadir siklus Trikali. Kita berada di ambang Perang Dunia Ketiga.
Senjakala Trikali: Menanti Tangan Syiwa
Dalam kosmologi Jawa, sejarah manusia berputar dalam siklus besar. Kita telah melewati Kali Suwara (zaman suara/isu) dan Kali Yoga hingga kini tiba di ujung Kali Sangara (zaman banjir/bencana).
Ini adalah fase di mana moralitas merosot dan alam mulai “lelah” menanggung beban ambisi manusia yang carut-marut.
Di sinilah Syiwa mulai berperan. Syiwa adalah Sang Pengurai.
Dia hadir untuk melakukan Pralina —sebuah proses daur ulang kosmis. Alam yang sudah tidak seimbang harus dihancurkan agar bisa ditata ulang (restorasi).
Dalam perspektif spiritual, perang bukanlah sekadar benturan senjata, melainkan manifestasi dari ketidakseimbangan antara Jagad Gedhe (Alam Semesta) dan Jagad Cilik (Diri Manusia).
Ketika keserakahan di dalam diri manusia (Jagad Cilik) sudah meluap, alam semesta (Jagad Gedhe) akan merespons dengan peristiwa besar untuk menguras energi negatif tersebut.
Setiap zaman memiliki “penanda” (pratandha) sebelum kehancurannya. Jika dahulu penandanya adalah letusan gunung berapi yang menumbangkan kerajaan, kini penandanya adalah perubahan cara berpikir.
Manusia modern cenderung mendewakan logika materialistik dan meninggalkan etika luhur (tata krama). Perang hari ini adalah akumulasi dari krisis identitas dan hilangnya rasa kemanusiaan.
Bagi masyarakat Jawa, perang yang paling dahsyat bukanlah Perang Dunia atau konfrontasi nuklir. Perang yang paling esensial dan melelahkan adalah melawan diri sendiri.
Dalam konsep Ngaji Rasa, musuh sebenarnya bukanlah bangsa lain, melainkan sifat angkara murka (loba, sombong, dan kejam) yang bersemayam dalam diri.
Inilah perang yang paling sunyi namun paling menentukan nasib alam semesta. Jika manusia gagal memenangkan perang di dalam dirinya, maka alam akan mengambil alih melalui Pralina fisik (perang antar-bangsa atau bencana) untuk menciptakan kesetimbangan paksa.
Perang dalam Beberapa Manuskrip Jawa
Ada kutipan dari Kakawin Bharatayudha, yang ditulis oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada masa Kerajaan Kadiri.
“Sang Sura mrih gelaring sasangka, nanging sang natha mrih gelaring prang.” (Artinya: Sang pahlawan mengharapkan ketenangan bulan, namun sang raja justru menginginkan gelar peperangan.)
Perang dipandang sebagai takdir yang tak terelakkan demi tegaknya Dharma (kebenaran). Kutipan ini menggambarkan pergulatan antara keinginan pribadi untuk damai dengan tuntutan tugas negara yang mengharuskan peperangan demi pembersihan dunia dari angkara murka.
Bhagavad Gita adalah rujukan utama spiritualitas perang yang sangat memengaruhi pemikiran Jawa. Terjadi di padang Kurukshetra, saat Arjuna ragu untuk berperang melawan saudara sendiri.
“Sukha-duhkhe same krtva labhalabhau jayajayau, tato yuddhaya yujyasva naivam papam avapsyasi.”(Berperanglah demi kewajiban tanpa mempedulikan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah, dengan cara demikian engkau tidak akan memikul dosa).
Perang adalah bentuk pengabdian tertinggi jika dilakukan tanpa keterikatan ego. Inilah esensi dari peran Syiwa dalam Pralina: menghancurkan bukan karena benci, melainkan demi keseimbangan alam semesta.
Serat Wicara Keras karya R.Ng. Yasadipura II menginformasikan bahwa naskah ini merupakan kritik sosial yang tajam pada masanya, menggambarkan bagaimana peperangan dan kekacauan muncul akibat hilangnya kewibawaan pemimpin.
“Yen wis rusak tatananing nagari, dudu perang kang dadi pungkasan, nanging perang kang dadi pambukaning jaman anyar.” (Artinya: Jika tatanan negara sudah rusak, bukan perang yang menjadi akhir, melainkan peranglah yang menjadi pembuka zaman baru.)
Dalam literatur esoteris Jawa, khususnya Jangka Jayabhaya dan naskah-naskah gubahan Raden Ngabehi Ranggawarsita, terjadinya kondisi carut-marut menandai kedatangan Ratu Adil.
Munculnya sosok ini merupakan titik balik dari siklus Pralina (penghancuran) menuju Kertayuga (zaman keemasan). Berikut adalah tanda-tanda yang digambarkan secara simbolis dan fenomenologis:
Pertama, Fenomena Alam dan Kekacauan Kosmis (Goro-Goro).
“Udan salah mangsa” (hujan di musim yang salah). Alam tidak lagi mengikuti ritme yang teratur, menandakan keseimbangan yang telah hilang.
Gunung-gunung meletus, bumi berguncang, dan air laut meluap. Ini adalah cara alam “mencuci diri” dari beban energi negatif manusia.
Munculnya penyakit yang sulit dicari obatnya, yang dalam narasi Trikali dipandang sebagai cara Syiwa menyeleksi populasi dunia.
Kedua, Kerusakan Tatanan Sosial (Zaman Edan)
Tanda yang paling sering dikutip adalah degradasi moral manusia yang mencapai titik nadir:
Kehilangan Malu: “Wong wadon nganggo penganggo lanang, wong lanang ilang kaprawirane” (Wanita kehilangan sifat kewanitaannya, pria kehilangan sifat kepahlawanannya).
Keserakahan Terang-terangan: “Sing bener ketenger, sing salah malah bungah” (Yang benar terpinggirkan, yang salah justru bersuka-cita).
Pasar Ilang Kumandange: Secara metaforis berarti pusat ekonomi kehilangan kejujuran, transaksi terjadi tanpa ada rasa kemanusiaan, hanya murni angka dan eksploitasi.
Ketiga, Penanda Spesifik Kedatangan Ratu Adil
Dalam naskah Musarar dan Sabdo Palon, terdapat petunjuk yang lebih spesifik mengenai transisi menuju kemunculan Sang Juru Selamat:
Puncak Penderitaan: Ratu Adil muncul saat rakyat sudah berada di titik “Kinasihan Gusti” (sangat menderita hingga hanya bisa berserah pada Tuhan).
Kekacauan Politik: Munculnya banyak pemimpin yang “dudu samesthine” (bukan semestinya), hingga negara terasa seperti tanpa nakhoda.
Kembalinya “Sabdo Palon”: Secara spiritual, ditandai dengan kembalinya kesadaran akan jati diri jati (kearifan lokal) setelah ratusan tahun terkubur oleh budaya asing.
Akhir Trikali adalah Pembersihan
Ratu Adil adalah instrumen Syiwa untuk melakukan penyetimbangan. Setelah kehancuran (Pralina) selesai, ia hadir untuk menata kembali dunia yang carut-marut.
Perang besar yang terjadi sebelumnya dianggap sebagai “pencucian dosa kolektif” agar manusia yang tersisa memiliki kesadaran baru (Cara Berpikir Baru).
Cara berpikir baru ini bukan lagi soal “siapa yang paling kuat”, melainkan bagaimana manusia hidup selaras dengan alam (Memayu Hayuning Bawana).
Perang dalam siklus Trikali adalah katalisator. Tanpa perang, manusia tidak akan sadar akan kesalahannya.
Tanpa Pralina, alam tidak punya ruang untuk tumbuh kembali. Ratu Adil adalah sosok yang bertugas menjahit kembali robekan-robekan peradaban tersebut.
Hikmah terbesarnya adalah kesetimbangan hanya bisa dicapai setelah ada pengorbanan. Ratu Adil bukan sekadar orang, melainkan sebuah Era Kesadaran Baru di mana manusia tidak lagi merasa sebagai penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri. ***



