Perang Iran-Israel-AS masuk hari ke-27 dan pekan ke empat. Langit Iran tak lagi meraung nyaring seperti sebelumnya.
Serangan Israel mulai melemah drastis, menyisakan jejak sunyi yang menyasar pasar ikan dan gedung-gedung kosong—sebuah pertanda jelas: keangkuhan udara mereka mulai patah.
Sebaliknya, menurut berbagai sumber Iran justru menebar badai. Balistik mereka menghunjam tempat-tempat strategis Israel setiap beberapa jam sekali, seperti tak memberi jeda.
Menjelang Magrib kemarin, pembangkit listrik Israel “Hadera Thermal Power Plant” di Khaedira dihancurkan oleh Iran. Akibatnya, sekian banyak kawasan Israel gelap gulita.
Kemudian Iran menjinakkan pusat agrobisnis Israel: “Rotem” yang selama ini dijadikan pusat penelitian dan pengembangan pertanian serta pupuk Israel.
Konon di Rotem pula, tempat itu dijadikan pusat produksi bahan bakar nuklir Israel yang selama ini ditutup-tutupi.
Selain itu, Iran juga menyerang Bandara Internasional Ben Gurion. Sebelum serangan itu, Iran sudah meminta warga sipil menjauh dari bandara.
Ben Gurion adalah bandara dengan dwi-fungsi. Selain untuk penerbangan sipil, juga sebagai pangkalan militer Israel. Jadi, pertahanan udara Israel, yang dulu dianggap benteng langit, kini rapuh dan terengah-engah.
Mengapa berbalik arah? Ketakutan adalah jawabannya. Iran sepekan ini telah berhasil menjiinakkan pesawat-pesawat tempur canggih, dari F-16 hingga F-35 kebanggaan Israel, juga menghancurkan helikopter- helikopter Blackhawk milik AS yang diparkir di pangkalan militer AS Victoria Base di Irak.
Kedua peristiwa itu seakan pertanda, bahwa langit Iran kini menjadi “zona haram” bagi pilot-pilot Israel dan Amerika yang takut tak kembali. Pemicu kedua adalah game changer nyata: bom cluster Iran. Ia menari-nari melampaui Iron Dome, menghancurkan kota-kota Israel tanpa bisa dicegat.
Di balik layar, kepanikan melanda. AS dan Israel memaksa negosiasi, namun Iran bergeming—tiada respons positif untuk meja runding.
Trump dan Netanyahu kini terjebak deadlock. Netanyahu bersikeras melanjutkan perang hingga nuklir Iran musnah, sementara Trump melunak, terhimpit tekanan internasional dan ekonomi yang mencekik.
Israel kini terjebak dalam posisi yang sulit dan defensif. Rudal mereka yang super mahal terus menerus terpaksa harus beradu dengan rudal murah Iran, ini tentu menguras energi dan ekonomi secara signifikan. Iran tak sendirian; belakangan Hizbullah dan Hasyad Sya’bi ikut terus menekan tanpa henti.
Fasilitas militer AS dan radar canggih di kawasan kini banyak yang runtuh. Serangan yang tak mampu membidik jantung kepemimpinan dan infrastruktur bawah tanah Iran, hanyalah angin lalu. Kemampuan AS-Israel untuk melakukan pembunuhan politik, yang dipamerkan di awal perang, kini tumpul.
Dengan sekaratnya ultimatum AS dan negosiasi yang tak berjalan seperti yang diharapkan Trump, hari-hari ke depan mulai hari ke 27 ini sepertinya adalah hari-hari yang lebih berat bagi Israel.
Saat langit mereka tak lagi aman, dan balistik Iran terus jatuh tanpa henti, kini kita sedang menyaksikan pergeseran peta kekuatan yang sesungguhnya. ***



