Perang Iran-Israel-Amerika Hari ke-15 - Mabur.co

Perang Iran-Israel-Amerika Hari ke-15

Memasuki hari ke-15 konfrontasi Iran-Israel telah menyeret Amerika Serikat ke palung ketidakpastian.

Kita melihat sebuah pemandangan ganjil: Donald Trump, tampak kian linglung di balik meja ovalnya.

Kegagalan utusan khususnya Steve Witkoff melobi Menlu Iran Abbas Araghchi untuk sebuah gencatan senjata, bukan hanya sekadar kegagalan diplomatik, melainkan tamparan keras bagi ego sebuah negara adidaya.

Hari ini, Selat Hormuz bukan lagi sekadar urat nadi perdagangan dunia, melainkan sakralitas yang sepenuhnya berada dalam genggaman Teheran.

Iran dengan rudal dan dengungan drone-nya, telah membuktikan bahwa mereka bukan hanya penjaga pintu, melainkan pemilik kunci kawasan tunggal.

Tak ada kapal yang bisa melewat di Selat Hormuz tanpa izin Iran. Indonesia, yang terang-terangan masuk BoP, masih mendapat berkah izin melintas untuk kapal Pertamina.

Karena itu, tentu kita patut sujud syukur, juga berterimakasih kepada Iran.

Sementara itu, kapal Thailand yang nekat harus menerima nasib tragis dihempas rudal—sebuah pesan berdarah bahwa tanpa restu Iran, tak ada yang boleh menyentuh air Hormuz.

Akibat blokade itu, jagat ekonomi terguncang; harga minyak mentah melambung tinggi, mengancam angka 100 dolar per barel. Di Amerika, rakyatnya mulai menjerit.

Tangki mobil yang dulu penuh hanya dengan 40 dolar, kini menuntut 70 dolar.

Ketegangan ini memicu gelombang demonstrasi yang membelah domestik AS, menciptakan retakan sosial yang kian menganga.

Di tengah kecamuk itu, ada ironi yang menyakitkan bagi Washington. Iran tetap tenang menjalankan bisnisnya.

Kapal-kapal mereka meluncur mulus menuju Cina, mengirimkan 16,8 juta barel minyak tanpa ada satu pun yang berani mengusik.

Lalu, bagaimana dengan Israel? “Negara benteng” itu kini tampak rapuh dari dalam. Militer Israel (IDF) kini, mungkin sedang meratapi nasihnya.

Bayangkan, menurut sumber terpercaya, sekitar 15.000 prajurit tewas dan 20.000 lainnya terluka. Yang lebih mengerikan bukan hanya luka fisik, melainkan 56% dari mereka kini dihantui luka batin, alias gejala gangguan jiwa.

Mentalitas tempur mereka runtuh ditelan trauma yang tak berkesudahan. Secara ekonomi, Israel juga sedang meniti jalan menuju kebangkrutan.

Meski susah ditutup rapat-rapat, nyatanya keluar juga rilis.

Kas negara itu terkuras hingga 3 miliar dolar setiap minggunya. Senjata dan amunisi mulai menipis, sementara kepercayaan publik berada di titik nadir.

Lebih dari 82.000 warga telah memilih angkat kaki, melarikan diri dari tanah yang mereka klaim sebagai janji suci, namun kini terasa seperti bertetangga dengan bara api.

Rakyatnya tak lagi percaya pada jargon dan omon-omon kemenangan pemerintahnya, mereka tahu, perang ini hanya memuaskan nafsu politik segelintir elit di atas penderitaan kolektif.

Perang hari ke-15, kita seperti menyaksikan sebuah pergeseran zaman, di mana arogansi dan kekuatan militer yang canggih sekalipun tak berdaya menghadapi keteguhan hati dan penguasaan medan yang presisi.

Kini, dunia tidak hanya melihat perang fisik, tapi juga melihat runtuhnya narasi supremasi Barat di hadapan ketabahan Timur yang menyimpan sejarah gemilang. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *