Perang hari ke-19, nampaknya membuat langit Teheran benar-benar muram.
Sebuah kabar “pahit” berembus seperti angin luruh yang membawa aroma duka mendalam, sekaligus mungkin menyisakan kebanggaan.
Innalillahi wainna ilaihi rajiun: Ali Larijani—Sang Arsitek Kebijakan, Sang Negosiator yang tenang itu dikabarkan telah syahid menyusul para pendahulunya.
Kantor berita Fars memberitakan, ia gugur bersama putranya Morteza Larizani, wakil sekretaris keamanan Alireza Bayat, Gulamreza Soleimani, komandan elit Basej dan para pengawal setianya.
Semua itu tidak gugur di bungker bawah tanah yang aman dari bom, tidak pula di persembunyian yang rapat.
Namun, mereka gugur di kediaman sederhana putrinya Larizani, di wilayah Pardis yang terbuka bagi siapa saja.
Tentu saja itu bukanlah kemenangan intelijen lawan yang patut dibanggakan.
Sebab, bagi seorang Larijani, keberanian bukanlah tentang seberapa lihai bersembunyi, melainkan seberapa siap membersamai rakyat menghadapi bahaya di tengah tugas-tugas kemanusiaannya.
Mendiang Larizani pernah berseragam IRGC hingga menjadi brigadir jenderal.
Kemudian mengundurkan diri dan memilih parlemen sebagai medan perjuangan barunya, hingga dipercaya sekretaris.
Lalu kepala dewan keamanan nasional, dan akhirnya menutup lembaran hidupnya di usia 67 tahun sebagai seorang martir di pinggiran timur Teheran.
Iran benar-benar terpukul, sebab Larizani adalah salah satu tokoh penting dan paling berpengaruh di Republik Islam.
Seorang penasihat utama mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang diserang mendadak oleh AS dan Israel pada hari pertama perang.
Ingatan publik, mungkin tidak begitu saja melupakan peran mendiang Larizani sebagai negosiator nuklir dalam pembicaraan dengan Washington.
Dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya ketegangan dengan kekuatan Barat, ia telah menyatakan pandangan yang lebih moderat.
Bayangkan di tengah himpitan embargo dan lilitan sanksi, Larizani masih bersedia menandatangani kesepakatan dunia harus terbebas dari nuklir.
Tentu saja, ada sesak yang menghimpit dada saat mendengar barisan pemimpin itu berguguran, terlebih di saat nasib Netanyahu masih dibalut simpang siur misteri.
Namun, dalam hukum sejarah yang ditulis dengan darah, kematian seorang pemimpin bukanlah titik henti.
Lihatlah bagaimana Teheran menjawabnya. Langit Israel hari ini menjadi saksi betapa pedihnya luka yang ditinggalkan.
Rudal-rudal balistik—Emad, Sejjil, dan Khorramshahr—membelah cakrawala, membawa pesan balasan atas wafatnya Sang Negosiator Moderat itu.
Ada 280 korban militer Israel (IDF) yang berjatuhan tewas, di tanah seberang dan dimana-mana suara sirine memekakkan telinga.
Bahkan, mungkin ada sesuatu yang lebih besar yang sedang tumbuh di bawah tanah Iran.
Jika dahulu generasi milenial dan Gen Z Iran dianggap mulai menjauh dari api revolusi karena tak pernah mengecap pahitnya Pertahanan Suci delapan tahun, kini sejarah sedang mengulang dirinya dengan cara yang lebih kolosal.
Anak-anak dari generasi Alpha kini berdiri di jalan-jalan dan berjanji akan membalas gugurnya pemimpin.
Mereka tidak lagi hanya membaca sejarah dari buku yang kusam, mereka kini menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Kekejaman mereka atas bangsanya, sekaligus mungkin bangga, karena mereka juga melihat bagaimana Amerika dan sekutunya mencoba membendung Teluk Hormuz namun usaha itu gagal.
Di jalan-jalan kota, suara-suara kecil itu kini menderu, meneriakkan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan kemunafikan.
Inilah keajaiban dari sebuah ideologi yang disirami air mata dan darah: ia tidak akan layu, melainkan tumbuh lintas generasi.
Dan, yang muda bersiap maju ke medan laga, sementara yang tua mungkin menghabiskan sisa keberaniannya dengan risiko “jemputan” syahid di penghujung usia.
Kematian Ali Larijani mungkin sebuah kehilangan sosok yang besar, setelah Ali Khamanei, namun sejatinya ia hanyalah benih yang jatuh ke bumi untuk menumbuhkan ribuan Larijani baru.
Revolusi ini tidak lagi hanya milik para pendahulu, ia telah menjadi roh yang berdenyut di nadi generasi Iran hari ini.
Di ujung senja Pardis, maut bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang lebih abadi bagi sebuah bangsa yang menolak tunduk pada imperialisme. Hum al fatihah. ***



