Terkadang sejarah bukanlah sekadar barisan abad dan angka tahun yang beku, melainkan sebuah denyut nadi yang berdegup kencang.
Di tanah yang kini kita sebut Iran, jejak masa lalu Mesopotamia dan gema dari Epik Gilgamesh tidak pernah benar-benar hilang.
Ia mengendap dalam air teh, dalam rima puisi Hafez, dan dalam keputusan-keputusan politik yang membuat dunia terperangah.
Di bawah langit Iran Kuno, sejarah mencatat, pernah bangkit Kekaisaran Besar Persia sebagai fajar peradaban yang memukau, di mana Cyrus Agung merajut keberagaman menjadi jalinan kekuasaan dengan ibu kota Persepolis yang berdiri megah dan terhubung dengan tiga benua.
Persia tidak hanya menaklukkan banyak wilayah, tetapi juga menanamkan fondasi tata pemerintahan, seni, serta Silinder Cyrus yang dianggap sebagai salah satu dokumen hak asasi manusia pertama di dunia.
Kejayaan ini mengalir melalui dinasti-dinasti besar, melahirkan sastra epik, sains, dan keindahan artistik yang tak lekang oleh waktu.
Manusia modern, dengan kecongkakan teknologi dan amnesia sejarahnya, seringkali lupa bahwa sebelum ada gedung pencakar langit di New York, telah ada hukum yang dipahat di atas batu oleh Hammurabi.
Mereka lupa bahwa Romawi, sang adidaya kuno itu, berkali-kali harus menunduk lesu di hadapan kavaleri Partia dan Sasania.
Tetapi bisa juga ada semacam “dendam sejarah” yang dipelihara oleh Barat —sebuah kecemasan purba terhadap mereka yang memegang kunci peradaban Timur.
Namun, bagi orang Persia, ini lebih dari soal sejarah. Ini soal kedaulatan. Seperti kata pepatah lama: orang Persia mungkin pernah kalah, tapi mereka tidak pernah bisa ditundukkan.
Dalam lanskap diskursus modern, sosok almarhum Sayyid Ali Khamenei berdiri sebagai manifestasi dari daya tahan Persia yang legendaris itu.
Ia bukan sekadar pemimpin politik, ia adalah seorang visioner yang membaca zaman melalui lensa teologi dan sejarah yang mendalam.
Di tengah kepungan sanksi yang mencekik, misalnya ia justru melahirkan doktrin “Ekonomi Perlawanan”.
Ia memandang ketergantungan pada minyak dan dolar adalah bentuk perbudakan modern. Baginya, kedaulatan sebuah bangsa dimulai dari meja makan dan laboratorium penelitiannya sendiri.
Dengan ketajaman seorang intelektual, ia merasa perlu menggeser dan mengembalikan matahari peradaban ke Asia.
Langkahnya merapat ke poros Timur bukan sekadar taktik geopolitik, melainkan pengakuan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tidak harus selalu berkiblat pada liberalisme Barat yang seringkali hipokrit.
Selain itu, ia membangun sebuah “tembok” kesadaran di Timur Tengah. Baginya, Palestina bukan sekadar isu agama dan politik, melainkan ujian bagi nurani kemanusiaan universal.
Ia mengajarkan bahwa berdiri tegak di hadapan penindas adalah sebuah bentuk ibadah yang paling tinggi.
Kelebihan lain Ali Khamenei adalah ia begitu fasih bicara tentang nanoteknologi sekaligus hafal ribuan bait puisi Persia klasik.
Ia percaya bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang pikirannya dipenuhi sains, namun hatinya tetap dipenuhi kelembutan agama dan sastra.
Mungkin kita layak bertanya, mengapa mereka tidak pernah mau tunduk pada gedung putih dan zionis? Jawabannya ada pada ingatan akan Babylon dan Persia lama.
Mereka tahu bahwa kekaisaran datang dan pergi, namun jiwa sebuah bangsa tetap tinggal selama ia menolak untuk menjadi bayang-bayang bangsa lain.
Kita melihat hari ini, di antara puing-puing fitnah dan kepungan global, Iran tetap berdiri kokoh. Bukan karena mereka haus akan perang, tapi mungkin karena mereka amat paham arti kedaulatan dan begitu mencintai kemerdekaan.
Sebagaimana yang banyak ditulis oleh penyair-penyair besar mereka: lebih baik mati sebagai elang di puncak gunung, daripada hidup sebagai merpati di dalam sangkar emas yang dipinjamkan.
Kita hidup dalam sebuah zaman yang tipis harapan, sebuah momen yang melankolis, di mana seorang lelaki berusia 86 tahun berdiri serupa karang di tengah samudra Islam yang lain —yang sayangnya, lebih memilih tenggelam dalam nyaman, memahat diam, dan bersembunyi dalam ketakutan.
Dunia mungkin bisa saja sangsi, dunia mungkin saja menyayangkan dengan langkah-langkah keras dan tegasnya selama ini.
Tapi sejarah telah mencatat dengan tinta emas: ada sebuah bangsa di dataran tinggi, bernama Iran, yang bahkan dalam sunyinya, tetap tegak berkata “tidak” pada ketidakadilan.
Ingat, sejarah tidak akan pernah tidur, ia mencatat dengan tinta yang tak pernah pudar, siapa yang bangkit menantang badai, dan siapa yang memilih diam seribu bahasa.
Wallahu’alam bishawab. ***



