Publikasi puisi-puisi Nanang R Supriyatin di Kompas bukan sekadar peristiwa biasa dalam lanskap sastra.
Ia bukan hanya soal satu nama yang muncul di media arus utama. Ia adalah sinyal.
Lebih tepatnya, alarm. Dan alarm itu berbunyi ke arah yang sangat spesifik: para penyair, terutama yang berafiliasi dengan ekosistem Taman Ismail Marzuki, yang selama ini dianggap memiliki sejarah panjang, tetapi mulai kehilangan daya tekan dalam percakapan puisi mutakhir.
Yang terjadi di sini bukan kemenangan estetik yang spektakuler, tetapi justru sesuatu yang lebih mengganggu: keberhasilan yang datang dari kesederhanaan yang tidak dibuat-buat.
Puisi-puisi Nanang tidak hadir sebagai proyek besar, tidak memamerkan kompleksitas konseptual yang berlapis-lapis, tidak pula mengandalkan eksperimentasi bentuk yang ekstrem.
Namun justru karena itu, ia berhasil menembus ruang yang semakin kompetitif. Ini adalah tamparan halus tetapi efektif.
Bagi penyair-penyair senior TIM, situasi ini tidak bisa dibaca sebagai peristiwa biasa.
Ini bukan sekadar “regenerasi berjalan”. Ini adalah ujian diam-diam terhadap posisi mereka sendiri.
Selama ini, banyak penyair senior hidup dalam zona aman reputasi. Nama sudah terbentuk, jaringan sudah mapan, dan posisi dalam sejarah sastra relatif stabil.
Namun publikasi seperti ini menunjukkan bahwa medan tidak lagi ditentukan oleh nama besar semata.
Yang diuji sekarang adalah vitalitas.
Puisi-puisi Nanang menunjukkan satu hal yang tidak bisa dipalsukan: energi kerja.
Ada upaya untuk tetap menulis, tetap hadir, tetap bernegosiasi dengan bahasa, meskipun dengan cara yang tidak bombastis. Ini penting.
Karena salah satu masalah laten dalam komunitas penyair senior adalah kecenderungan untuk berhenti bereksperimen setelah mencapai pengakuan tertentu.
Eksplorasi digantikan oleh pengulangan gaya. Risiko digantikan oleh konsistensi yang nyaman. Publikasi ini mengganggu pola itu.
Ia menunjukkan bahwa ruang publik masih terbuka, tetapi tidak untuk mereka yang hanya mengandalkan nama.
Ia membuka kembali kompetisi yang selama ini terasa tertutup oleh hierarki informal. Dan dalam konteks ini, penyair senior TIM dihadapkan pada pilihan yang tidak bisa dihindari: kembali bekerja secara serius, atau perlahan tergeser oleh suara-suara yang lebih aktif.
Masalahnya bukan pada usia atau generasi. Masalahnya adalah intensitas.
Banyak penyair senior masih menulis, tetapi tidak semua masih benar-benar bekerja pada puisinya.
Ada kecenderungan untuk mengulang formula yang pernah berhasil. Ini menghasilkan puisi yang rapi, tetapi tidak lagi mendesak.
Tidak lagi memiliki urgensi. Dalam jangka panjang, ini lebih berbahaya daripada tidak menulis sama sekali. Ia menciptakan ilusi keberlangsungan tanpa perkembangan.
Di titik ini, publikasi Nanang berfungsi sebagai koreksi.
Ia tidak datang dengan manifesto. Ia tidak menyerang secara langsung.
Tetapi keberadaannya cukup untuk memunculkan pertanyaan: jika puisi yang relatif sederhana bisa menembus ruang seperti Kompas, apa yang menghalangi penyair-penyair dengan pengalaman jauh lebih panjang untuk melakukan hal yang sama, atau bahkan melampauinya?
Jawabannya tidak terletak pada akses, tetapi pada kemauan.
Eksplorasi tidak berhenti karena tidak mungkin dilakukan, tetapi karena tidak lagi diprioritaskan.
Banyak penyair senior terjebak dalam posisi kuratorial terhadap diri sendiri.
Mereka lebih sibuk menjaga citra daripada membongkar ulang cara kerja bahasanya. Ini membuat puisi menjadi aman, tetapi juga tidak relevan.
Nanang, dalam konteks ini, tidak menawarkan model yang sempurna. Puisinya masih memiliki kelemahan, masih menyentuh wilayah klise, masih belum sepenuhnya menekan bahasa sampai batasnya.
Namun justru di situlah kekuatannya sebagai pemicu. Ia menunjukkan bahwa proses masih berjalan. Bahwa puisi masih bisa ditulis tanpa harus menunggu kondisi ideal atau konsep besar.
Ini adalah bentuk keberanian yang berbeda.
Bukan keberanian untuk menjadi radikal, tetapi keberanian untuk tetap bekerja. Dan dalam lanskap yang mulai stagnan, keberanian seperti ini cukup untuk menggeser keseimbangan.
Bagi penyair senior TIM, ini seharusnya menjadi momen refleksi yang keras.
Bukan dalam arti defensif, tetapi dalam arti produktif. Pertanyaannya bukan apakah mereka masih mampu menulis, tetapi apakah mereka masih bersedia mengambil risiko dalam menulis. Apakah mereka masih mau gagal. Apakah mereka masih mau meninggalkan zona nyaman gaya yang sudah mapan.
Tanpa itu, klaim bahwa “penyair TIM belum habis” hanya akan menjadi slogan kosong.
Yang dibutuhkan adalah pembuktian konkret. Puisi yang benar-benar baru, bukan sekadar variasi dari yang lama. Eksperimen yang tidak takut gagal. Pendekatan yang tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga keberanian untuk merombak pengalaman itu sendiri.
Kompas, sebagai ruang publik, tidak lagi hanya menjadi etalase, tetapi juga arena seleksi. Ia mempertemukan berbagai suara dengan standar yang terus berubah. Dalam arena seperti ini, tidak ada posisi yang benar-benar aman. Bahkan nama besar pun bisa kehilangan relevansi jika tidak terus bergerak.
Publikasi Nanang menunjukkan bahwa gerak itu masih mungkin.
Dan karena itu, ia menuntut respons.
Bukan respons dalam bentuk komentar atau apresiasi, tetapi dalam bentuk karya. Penyair senior TIM perlu kembali menempatkan diri sebagai pekerja bahasa, bukan sekadar penjaga tradisi. Mereka perlu membuktikan bahwa pengalaman panjang tidak berujung pada stagnasi, tetapi justru membuka kemungkinan eksplorasi yang lebih dalam.
Jika tidak, generasi yang lebih muda atau lebih aktif akan mengambil alih ruang itu secara alami.
Ini bukan ancaman, tetapi konsekuensi.
Sastra tidak pernah menunggu. Ia bergerak bersama mereka yang terus menulis, terus mencoba, terus gagal, dan terus memperbaiki. Publikasi seperti ini hanya mempercepat kesadaran akan hal itu.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi vitalitas sebuah ekosistem. Taman Ismail Marzuki memiliki sejarah panjang sebagai pusat produksi dan perdebatan seni. Namun sejarah tidak cukup untuk menjamin masa depan. Yang menentukan adalah apa yang dilakukan sekarang.
Puisi-puisi Nanang telah membuka satu celah kecil.
Celah itu cukup untuk melihat bahwa ruang masih ada, bahwa standar masih bisa ditembus, bahwa permainan belum selesai.
Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: siapa yang masih mau bermain dengan serius?
Puisi-puisi Nanang R Supriyatin
Kelahiran
i/
kelahiran itu sesaat
seperti kayu lapuk
ketika datang hujan
tumbang, dan mengalir
mengikuti arus deras
bernafas, mengakar
seperti pohon kokoh
memayungi atau tidak
ia tetap bernama pohon
ada ranting dan daun
berguna, atau sekadar benalu
tak perlu kau tanya,
adakah sungai tempatnya
berbasah-basah seperti
perenang menuju titik akhir
yang tak sampai-sampai?
ii/
kelahiran itu mimpi
kadang disematkan doa-doa
kadang didiamkan seperti
kayu lapuk mengalir tanpa
sapa, kadang hanya cilup ba,
kemudian hilang dan raib
iii/
kelahiran itu sunyi
satu-dua mata menatap
apakah mereka ibu dan ayah
atau sekadar mata-mata
yang kelak mensiasati hidup
saat ini, atau nanti, mungkin
mereka si pecundang yang
diam-diam menerjang
iv/
kelahiran itu tanda
ia seumpama titik, dan koma
ada kemungkinan pertanyaan
sebelum sampai pada jawaban
Menteng, 23 Desember 2025
Penjara
akhirnya aku tahu dunia ini sempit
tak ada pintu terbuka, hanya jeruji besi,
dinding kokoh, kawat berduri, menjerat
tubuh
aku, bagai burung dalam sangkar
hidup di ruang terbatas, sedang
kau bebas mengembara – dan liar
sedang aku terpuruk dalam bayangmu
adakah kau pikirkan hari-hari hidupku
menjenuhkan, seperti buku tertutup,
atau seperti narasi hilang makna
lamp-lampu padam, mata terpejam
hati yang bimbang!
Menteng, 2023 – 2025
Pada Lirik Lagu yang Sama
selalu kau putar ulang lagu itu,
saat sunyi menyergap ruang,
tanpa lampu penerang
aku tak percaya dengan masa lalu,
dengan hari-hari yang mengisi hidupku
tapi kenangan selalu mengetuk pintu hati
pada lirik lagu yang sama,
pada daun-daun berguguran,
kutemukan kau selembut rembulan
serasa aku terbawa petikan gitar
terbawa panorama relaksasi
hingga bait-bait terakhir
pada lirik lagu yang sama
kukenang sepasang merpati terbang
dan jatuh dalam kubangan
Menteng, 2023 – 2025
Gelas Pecah
sebelum gelas pecah
murka kata-kata
bergejolak darah
memerah wajah
sumpah serapah
malam penuh cerita
angin membawa gaduh
langkah kaki tersesat
malam yang mengulang
malam yang garang
dering hand phone
suara panser dalam hening
pintu terbuka, menganga
“Kembali kau ke jalan
hidupmu, penuh mimpi!”
sebelum gelas pecah,
narasi mati, catatan mati
setan segala setan menghasut
masuk ke dalam tubuh-tubuh
ke dalam jiwa-jiwa kosong!
Menteng, 2023 – 2025


