Raden Joyoprono dan Alas Mentaok - Mabur.co

Raden Joyoprono dan Alas Mentaok

Sejarah berdirinya Kesultanan Mataram Islam acapkali hanya dipusatkan pada tiga tokoh besar: Ki Ageng Pemanahan, Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati), dan Ki Juru Mertani.

Narasi dominan ini menggambarkan pembukaan Alas Mentaok seolah bermula dari kekosongan, hutan belantara yang tidak berpenghuni.

Padahal, sebelum rombongan Ki Ageng Pemanahan tiba di bumi Mataram pada EHE 1516 Jawa atau 1586 Masehi, kawasan itu sudah dihuni dan dijaga oleh seorang tokoh spiritual penting bernama Raden Joyoprono.

Raden Joyoprono, yang dalam hierarki tradisi dihitung sebagai Ki Ageng Mataram II, adalah sosok yang menarik karena ia menghubungkan dua tatanan kekuasaan: warisan spiritual Wali Songo dari era Demak dan embrio kekuatan politik Mataram yang akan datang.

Tulisan ini berupaya merekonstruksi peran historis Joyoprono melalui analisis kritis atas sumber-sumber babad, catatan sejarah pra-Mataram, dan kajian akademik mengenai Islamisasi di Jawa.

Sebagaimana dicatat dalam penelitian tentang Kerajaan Mataram Islam, asal-usul kerajaan ini berkaitan erat dengan Kesultanan Demak dan Kesultanan Pajang. Raden Joyoprono adalah penghubung organik antara dua dunia itu: tokoh yang berakar di era Demak, tetapi menjadi jembatan menuju Mataram.

Alas Mentaok dan Jejak Peradaban

Alas Mentaok bukanlah hutan kosong biasa. Wilayah yang kini membentang dari Purwomartani di Sleman hingga Banguntapan dan Kotagede ini pernah menjadi pusat Kerajaan Mataram Kuno yang berdiri antara abad ke-8 hingga ke-10.

Setelah Mataram Hindu memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur, kawasan ini berangsur-angsur menjadi hutan lebat yang menyimpan memori peradaban lama.

Jauh sebelum Pemanahan, sumber-sumber tradisi menyebut bahwa tokoh pertama yang secara sistematis membuka Alas Mentaok untuk kepentingan Islam adalah Syech Jumadil Qubro, seorang ulama dari mancanegara yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Mataram.

Ia mendirikan padepokan dan langgar, menjadikan kawasan ini pusat spiritual yang ramai dikunjungi penduduk untuk belajar agama.

Dalam konteks yang lebih luas, pergeseran politik besar di Jawa terjadi pada 1574 ketika Pajang berhasil menggantikan Demak, menggeser pula corak pemerintahan dari kekuasaan berbasis pantai ke pedalaman. Inilah iklim politik yang melatari kehadiran Raden Joyoprono di Alas Mentaok.

Raden Joyoprono: dari Demak ke Mentaok

Raden Joyoprono adalah seorang pangeran dari lingkungan Kerajaan Demak yang memilih jalan spiritual ketimbang jalan kekuasaan.

Di tengah kekacauan politik dan perebutan takhta Demak, ia memutuskan untuk meninggalkan intrik istana dan menetap di Alas Mentaok. Keputusan ini mencerminkan tradisi leluhur Jawa yang mengenal konsep “menyingkir dari dunia ramai” sebagai laku spiritual tertinggi.

Di Alas Mentaok, Joyoprono mendirikan padepokan dan langgar, mengajarkan ilmu agama kepada penduduk sekitar.

Kehadirannya menjadikan kawasan itu pusat spiritual yang semakin ramai. Ia melaksanakan “wirayat para wali”, amanat penyebaran Islam yang diembankan oleh Wali Songo kepada para murid dan penerus mereka.

Posisinya sebagai Ki Ageng Mataram II menempatkan dirinya dalam silsilah spiritual yang terentang dari Ki Ageng Mataram I (Syech Jumadil Qubro) hingga Ki Ageng Pemanahan sebagai Ki Ageng Mataram III.

Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang paling berpengaruh di Jawa, juga meninggalkan jejaknya di Alas Mentaok dengan menanam tiga pohon beringin di tepi sendang sambil meramalkan bahwa kawasan itu kelak akan menjadi wilayah yang makmur.

Ramalan ini menjadi semacam mandat spiritual bagi siapa pun yang akan mengelola bumi Mataram, termasuk Raden Joyoprono.

Negosiasi Tanah dan Etika Hukum Islam-Jawa

Pertemuan antara Ki Ageng Pemanahan dan Raden Joyoprono bukan sekadar konfrontasi dua tokoh berpengaruh, melainkan sebuah negosiasi yang sarat muatan etis dan teologis.

Ketika Pemanahan datang dengan mandat dari Sultan Hadiwijaya, raja pertama Kesultanan Pajang yang berkuasa setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang dari Jipang, ia mendapati tanah yang hendak dikelolanya sudah dihuni.

Joyoprono menyampaikan argumentasi yuridis-islami yang sangat menarik: bahwa ada empat kategori tanah yang tidak memerlukan izin manusia untuk ditempati, yakni hutan yang tidak dikuasai siapa pun, telaga dan sumber air, jalan besar, serta tanah wakaf, karena semua itu adalah milik Allah Ta’ala.

Argumen ini menunjukkan kedalaman pengetahuan fiqh Joyoprono, sekaligus memperlihatkan bagaimana hukum Islam telah terinternalisasi dalam cara berpikir tokoh-tokoh Jawa abad ke-16.

Sebagai respons, Ki Ageng Pemanahan mengemukakan enam prinsip universal yang tidak dapat diingkari oleh siapapun: bahwa perzinahan merusak jasmani, bahwa ajal tidak dapat ditolak, bahwa kehendak raja tidak bisa diramal, bahwa mencuri tidak mendatangkan kekayaan, bahwa pergaulan dengan orang jahat harus dihindari, dan bahwa kebaikan serta kebenaran tidak boleh ditolak.

Keenam prinsip ini merupakan paduan nilai Islam dan kearifan lokal Jawa yang mencerminkan sintesis kebudayaan yang khas pada era tersebut.

Puncak negosiasi berujung pada sebuah uji spiritual yang ikonik: Pemanahan harus mampu menggendong Joyoprono sejauh sepuluh langkah.

Hanya dua langkah yang berhasil ditempuh. Namun dalam kearifan Jawa, kegagalan itu bukan kekalahan, melainkan pengakuan terhadap keberadaan dan otoritas spiritual Joyoprono.

Kesepakatan dicapai: Joyoprono berpindah ke desa di sebelah timur yang kemudian dinamai Joyopranan, sementara Pemanahan diberi izin untuk membuka Alas Mentaok.

Warisan Kitab Salatu Salatin dan Etika Kepemimpinan

Salah satu legacy terpenting Raden Joyoprono adalah pemberian Kitab Salatu Salatin karya Imam Nawawi kepada Ki Ageng Pemanahan.

Kitab ini berisi panduan etis tentang bagaimana seorang pemimpin harus bertindak, sebuah gesture yang menempatkan Joyoprono bukan sekadar penjaga tanah, melainkan pendidik para raja.

Tiga prinsip utama yang ia sampaikan dari kitab tersebut adalah: bahwa pemimpin yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya ibarat penunggang kuda yang akan jatuh ditinggal kudanya.

Bahwa hukuman tidak boleh dijatuhkan secara sewenang-wenang dan bahwa setiap keputusan harus dipertimbangkan dengan sangat matang.

Ketiga prinsip ini sangat relevan dalam konteks pembentukan kerajaan Mataram yang tengah berdiri. Konsep magis-religius memang menjadi landasan utama kekuasaan raja di Jawa, namun Joyoprono melengkapinya dengan dimensi etis yang bersumber dari khazanah Islam.

H.J. de Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati (1987) mencatat bahwa para pendiri Mataram sangat terpengaruh oleh ajaran para wali dalam menata kepemimpinan mereka.

Pemberian Kitab Salatu Salatin oleh Joyoprono merupakan manifestasi konkret dari jalur transmisi keilmuan tersebut, dari dunia pesantren dan padepokan ke istana kerajaan.

Atas seluruh peran ini, setelah menerima mandat tanah Mataram, Ki Ageng Pemanahan mengangkat Joyoprono sebagai gurunya, dengan gelar Panembahan Joyoprono.

Setelah wafat, dimakamkan di Pasarean Astana Raja Kotagede, kompleks makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para raja dan tokoh besar Mataram Islam.

Kesimpulan

Raden Joyoprono adalah tokoh yang terlalu penting untuk sekadar dicatat sebagai penghuni hutan yang mengalah pada pendatang baru.

Ia adalah mata rantai dalam rantai spiritual panjang, dari Syech Jumadil Qubro hingga Sunan Kalijaga, dari era Demak hingga fajar Mataram Islam.

Perannya sebagai penjaga wirayat para wali, sebagai negosiator etis penguasaan tanah, dan sebagai pewaris sekaligus pengirim tradisi keilmuan kepemimpinan Islam, menjadikannya tokoh yang sangat signifikan dalam sejarah pra-Mataram.

Kisah negosiasi penguasaan Alas Mentaok antara Joyoprono dan Pemanahan menawarkan model resolusi konflik yang mengedepankan dialog, ujian kemampuan, dan penghormatan terhadap kedua belah pihak, jauh dari kekerasan dan dominasi sepihak.

Kampung Joyopranan yang menjadi warisan geografis dari kesepakatan itu masih dapat dilacak hingga hari ini, menjadi pengingat bahwa nama tempat adalah arsip sejarah yang paling tahan lama.

Kajian lebih mendalam tentang Raden Joyoprono masih sangat diperlukan, terutama melalui penelusuran manuskrip babad di Perpustakaan Sonobudoyo dan arsip Keraton Yogyakarta.

Rekonstruksi yang lebih komprehensif atas tokoh ini tidak hanya akan memperkaya historiografi Mataram Islam, tetapi juga memberikan kita cermin untuk memahami bagaimana nilai-nilai etis, spiritual, dan yuridis Islam bertautan dengan kearifan lokal Jawa dalam proses pembentukan peradaban baru. (*)

Nb:
Artikel ini dilengkapi Daftar Pustaka, karena alasan teknis tidak bisa dimuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *